Connect with us

SENI & BUDAYA

“Sejit”: Ulang Tahun Dewa Bumi

Published

on

Banten Hits.com – Sebentar lagi, umat Tionghoa bakal merayakan Sejit. Pada perayaan itu, nantinya banyak ditampilkan beragam kegiatan. Namun sebagian dari kita kemungkinan masih awam, apa itu sejit. Bagaimana asal usul dirayakanya sejit dan digelar  di mana?.

Menurut ensiklopedia wikipedia, sejit diartikan ulang tahun. Istilah sejit berasal dari varian bahasa Hokkien. Bahasa Hokkien atau Hokkian sendiri diartikan sebagai bahasa yang sederhana atau tradisional.

Di Indonesia, umumnya bahasa Hokkien dikenal sebagai bahasa ibu komunitas Tionghoa di Medan, Pekanbaru, Palembang dan sejumlah daerah lainnya.

Banten Hits.com – Sebentar lagi, umat Tionghoa bakal merayakan Sejit. Pada perayaan itu, nantinya banyak ditampilkan beragam kegiatan. Namun sebagian dari kita kemungkinan masih awam, apa itu sejit. Bagaimana asal usul dirayakanya sejit dan digelar di mana?

Menurut ensiklopedia wikipedia, sejit diartikan ulang tahun. Istilah sejit berasal dari varian bahasa Hokkien. Bahasa Hokkien atau Hokkian sendiri diartikan sebagai bahasa yang sederhana atau tradisional.

Di Indonesia, umumnya bahasa Hokkien dikenal sebagai bahasa ibu komunitas Tionghoa di Medan, Pekanbaru, Palembang dan sejumlah daerah lainnya.

Jika menelisik dari artinya, dengan kata lain sejit adalah hari ulang tahun. Muncul lagi pertanyaan, siapa yang berulang tahun dan dimana perayaan itu biasa digelar.

Dalam berbagai sumber disebut, sejit digelar untuk memperingati ulang tahun Hok Tek Ceng Sin. Dalam kepercayaan orang-orang cina, Hok Tek Ceng Sin adalah dewa bumi yang dipercaya sebagai dewa pembawa rejeki dan kemakmuran.

Hok Tek Ceng Sin sering juga disebut sebagai Thouw Te Kong atau Dewa bumi. Dewa bumi dianggap ada di setiap daerah. Sehingga tidak heran jika ada banyak vihara atau kelenteng di Indonesia memakai dewa bumi sebagai ikonnya.

Dalam laman aspertina.org yang merupakan website Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia,  dijelaskan ada banyak cerita tentang siapa Hok Tek Ceng Sin.

Salah satunya adalah cerita dari dinasti Thou. Pada masa pemerintahan dinasti itu, ada seorang menteri bernama Thio Hok Tek. Tugasnya, menarik pajak dari rakyatnya.

Dalam menjalankan tugasnya, Thio Hok Tek dikenal sangat bijaksana. Ia seringkali memberi uang kepada rakyat yang tidak mampu.

Setelah Thio Hok Tek meninggal dunia, jabatannya digantikan oleh Wei Chao. Sosok yang satu ini, sifatnya sangat bertolak belakang dengan Thio Hok Tek. Ia menindas rakyat dan menarik pajak sewenang-wenang.

Kerinduan rakyat akan sosok pemimpin yang bijaksana dan pemurah seperti Thio Hok Tek diwujudkan dalam bentuk patung.

Pemujaan terhadap patung Thio Hok Tek itu akhirnya menyebar di kalangan rakyat kecil.  Mereka kemudian memanggilnya dengan sebutan dewa bumi.

Biasanya pemujaan terhadap dewa bumi dilakukan setelah panen raya. Pemujaan itu dilakukan sebagai bentuk syukur atas panen yang melimpah. Pada Dinasti Siang/Shang, tradisi itu kemudian diberi nama Hok Tek Ceng Sin, yang artinya memperoleh rezeki.

Kini, hampir kebanyakan vihara atau kelenteng di Indonesia merayakan Sejit Hok Tek Ceng Sin, setiap tanggal 2 bulan 2 imlek (Ji Gwee). Namun para petani di Cina merayakannya pada tanggal 15 bulan 3 imlek. Perbedaan ini terjadi karena beragamnya versi cerita tentang Hok Tek Ceng Sin.

Di Vihara Nimmala Boen San Bio, Kota Tangerang, perayaan Sejit Hok Tek Ceng Sin juga digelar setiap tahun.

Pada Tahun 2013 ini, merupakan perayaan Sejit Hok Tek Ceng Sin yang ke 324. Perayaan ini akan digelar pada 10 hingga 13 Maret 2013.

Berbagai kegiatan akan menyemarakan kegiatan tahunan ini, seperti pertunjukan liong, barongsai, lenong, gambang kromong, dan wayang yang merupakan kesenian dan kebudayaan khas tradisional.

Selain itu, ada juga pemilihan kode dan cide benteng. Tak ketinggalan, pertunjukan 108 wanita yang akan membawa 108 mangkok misoa juga akan kembali digelar.

Dalam kegiatan itu, pihak Vihara Nimmala Boen San Bio juga akan melakukan pemilihan terhadap 5 orang locu yang mengerti persembahyangan.

”Yang jelas, makna perayaan ini adalah untuk memperingati sejitnya dewa bumi yang banyak dipercaya menyelamatkan manusia di muka bumi.  Selain itu juga untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan tradisional yang sudah ada sejak lama, ” tutur Rika Linawaty, salah seorang pengurus Vihara Nimmala Boen San Bio, kepada Bantenhits.com, Kamis (07/03).

Kini, perayaan Sejit Hok Teng Ceng Sin yang digelar setiap tahun di sejumlah vihara atau kelenteng di Indonesia memang selalu semarak.

Kendati perayaan sejit itu merupakan perayaan keagamaan, namun selalu memberi hiburan tersendiri bagi masyarakat pada umumnya. Karena di dalam perayaan itu, berbagai macam kesenian dan kebudayaan tradisional khas dipertunjukan. (Taufik Saleh/Soed).

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one + 9 =

Trending