Connect with us

CERPEN

Dik’ dan “Oase Kepalsuan” Penipu Laki-laki Bernama Siti Rakhmi

Published

on

“Ajarkan bagaimana caranya seorang laki-laki bersikap terhadap perempuan yud?” siti rakhmi berteriak seraya melipatkan kedua tangannya bersedekap, matanya melotot dan mukanya memerah.

Seorang teman yang disebutkan namanya, berusaha melerai, menenangkan sebuah amarah perempuan yang kini telah berubah penuh kepongahan dan keangkuhan.

“Ajarkan bagaimana caranya seorang laki-laki bersikap terhadap perempuan yud?” siti rakhmi berteriak seraya melipatkan kedua tangannya bersedekap, matanya melotot dan mukanya memerah.

Seorang teman yang disebutkan namanya, berusaha melerai, menenangkan sebuah amarah perempuan yang kini telah berubah penuh kepongahan dan keangkuhan.

“Ajarkan bagaimana seharusnya seorang laki-laki itu bersikap?” ulangnya seraya menatap tajam bak harimau yang lapar dan amarah yang menggelegar seolah-olah dirinya merasa benar.

“Hayo coba tampar saya….nanti saya laporkan ke Polisi,” ancam Siti Rakhmi, sambil terus menatap tajam, bergetar dan seperti ingin menunjukan sebuah kekuatan yang bisa menghancurkan siapa saja.

Dan Dik’ hanya diam, sama-sama saling menatap tajam pada wanita yang pernah ditidurinya, wanita yang pernah dipeluknya, wanita yang pernah memberikan badani’ah nya dan wanita yang pernah mengisi keindahannya, entah mengapa dia bisa berkata seperti itu.

“Mau kamu apa? Ini hidup saya, suka-suka saya mau seperti ini,” ujar Siti Rakhmi seraya menatap kembali layar komputer yang berada di depannya, berusaha mengalihkan pandangan tajam Dik’ yang dihujam amarah yang sama.

Kedekatan yang dahulu terbangun seolah tak ada artinya, kejadian demi kejadian seolah hanya sebuah air ludah yang termuntahkan dari mulutnya. Keinginan Dik’ yang besar untuk merengkuhnya seolah hanyalah permainan kecil dan sederhana yang dengan mudah Siti Rakhmi singkirkan untuk kemudian tak berarti sama sekali.

Sambil seperti terisak Siti Rakhmi berkata, “Nih yaa.. Kalo saya jadi istri kamu, kalo di “beginiin” (entah apa maksudnya’), tidak ada seminggu saya akan minta cerai,” seraya menggerakkan kedua belah tangannya merapikan benda-benda yang ada di depannya seolah-olah hendak beranjak pergi.

Dik’ pun diam, seraya matanya masih menatap tajam Siti Rakhmi.

“Lalu jika itu yang ada di benakmu, di manakah segala keihklasanku yang pernah kulakukan padamu. Ketika ikhlas di tengah malam membantumu mencari baju karnaval kartinian anakmu yang masih SD, ikhlas menjemput dan meminjamkan kendaraan untuk keperluanmu ketika kau membutuhkannya dahulu dan ketika menjemput sekolah buah hatimu yang sudah remaja, ikhlas menolongmu ketika dulu kamu membutuhkanku, ikhlas dan ikhlas selama mengenal dirimu,” Dik’ pun merunduk menahan amarah.

“Serta kau kemanakan hubungan kebersamaan itu? Saat Yogya, Bandung, laut dan ahhhh…aku lupa berapa kali kutiduri kamu Siti Rakhmi dan kau suka itu. Mengapa letak kesadaran itu seolah kau tunjukan adanya sekarang? Mengapa tidak dari awal? Mengapa tidak pertama ketika kita kenal, sehingga untuk menyentuhmu pun mungkin aku enggan.”

Dik’ paham akan kekurangannya, sebuah kepentingan kedekatan yang sudah tidak berarti di mata Siti Rakhmi lagi. Dik paham akan kondisi di mana sesuatu yang mungkin sudah tidak ada artinya di mata Siti Rakhmi dan dengan kebiasaannya yang mungkin bukan yang pertama kali bagi Siti Rakhmi, seorang Dik’ bisa dengan mudah terlupakan dan pasti dengan mudahnya disingkirkan dan terhapus dari pikiran.

Lamanya perjalanan sebuah kedekatan mungkin bagi Siti Rakhmi adalah sebuah pengekangan, dan itu harus diakhiri olehnya karena Dik’ sudah tak menguntungkan, Dik’ hanyalah Dik’ seorang laki-laki yang sama yang pernah Siti Rakhmi singkirkan setelah semua kepuasan didapat seperti Erlan, Nana, Dhani, dan banyak lainnya.

Yang pernah Dik’ ingat itu, Dik’ penuh perasaan dan Siti Rakhmi tidak. Semua itu  petualangannya Siti Rakhmi yang Dik’ sadar-sesadar-sadarnya bahwa Siti Rakhmi itu pun sebenarnya sudah mempunyai suami dan beranak dua.

Ketika ornament hajah melekat di pundak Siti Rakhmi karena sebuah “door prize” hadiah, dan sebuah umroh karena “pengajakan” sang keluarga dari pihak suaminya, Dik’ sebenarnya ingin membantu memperbaikinya tapi semua tak akan pernah bisa,karena hidup bukan sekedar ibadah, hidup adalah sebuah sisi mata uang yang saling berhimpitan antara materi serta keindahan dunia.

Dan untuk mencukupi segala kebutuhan lahiriahnya, Siti Rakhmi butuh uang. Siti Rakhmi butuh biaya dan Siti Rakhmi harus membayar segala keperluan buah hatinya, penghasilan yang tak mencukupi membuat siti rakhmi cekatan mengolah pesona daya tariknya untuk dengan sekejap menghasilkan rupiah walau terbalut kemunafikan dan tersembunyi dalam kebohongan demi kebohongan di hadapan suami dan anak-anaknya.
Dan Dik’pun paham itu.

Lalu dengan menggenggam sebuah dendam amarah dan catatan panjang tentang Hj Siti Rakhmi yang menempel lekat di dalam ruang hatinya, lafaz terdengar bergetar.

“Allah tidak pernah tidur Hj Siti Rakhmi. Allah tak pernah tidur. Allah tahu apa yang pernah kita lakukan selama ini.” Seraya beranjak pergi dari ruangan Hj Siti Rakhmi.
 
Dua minggu berlalu, Dik’ terdampar dalam sebuah hamparan sajadah di sebuah musala kecil di tepian sungai yang sejuk. Seorang teman ustaz menemaninya. Lafaz terdengar suara zikir dan alunan istigfar, dengan senyum sang sahabat menepuk pundak Dik’.

“Sudah tenang kamu?” tanyanya.

Dik’ terdiam dan tersenyum. Sang sahabat melanjutkan perkataannya.

“Saat seperti ini yang kita butuhkan hanyalah merenung, bermunajat dan memohon ampun. Apa yang kamu alami hanyalah sebuah kepalsuan dunia, seorang pelacur sekalipun tetaplah seorang pelacur. Dia lebih bermartabat karena harga dirinya memang terjual untuk menafkahi hidupnya, walau dia tahu itu jalan salah dan berdosa. Namun lebih tak bermatabat ketika seorang wanita yang berpendidikan, sudah bekerja dan Astagfirullah. Jika memang dia seorang ibu rumah tangga, punya suami dan punya anak pula  bermunafik ria berjalan mencukupi hidupnya dengan memperdaya laki-laki, tak ada bedanya dengan pelacur. Hidup memang pilihan Dik’. Kelak dia akan menua dan satu saat nanti yakinlah hanya kesengsaraan abadi yang akan dia dapatkan.”

Dik’ diam matanya terpejam. Sayup terdengar lantunan azan tanda terpanggilnya mahluk Alloh untuk menghadap padanya. (*)
 

Penulis : Ichsan Sodikin.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − fifteen =

Trending