Connect with us

CERPEN

RAFIKSI

Published

on

Surat ini masih menjadi saksi bisu betapa begitu singkat dinamika hidup yang aku lalui. Dalam diri ini kini seperti hadir kembali gelombang-gelombang kerinduan yang sejak dua tahun lalu hilang begitu saja, ombak yang berdayu-dayu berdebur menghantam himpitan batu besar dalam kehidupan, namun membuka kembali lubang lama yang sudah ku tutup rapat-rapat tabirnya.

Surat ini masih menjadi saksi bisu betapa begitu singkat dinamika hidup yang aku lalui. Dalam diri ini kini seperti hadir kembali gelombang-gelombang kerinduan yang sejak dua tahun lalu hilang begitu saja, ombak yang berdayu-dayu berdebur menghantam himpitan batu besar dalam kehidupan, namun membuka kembali lubang lama yang sudah ku tutup rapat-rapat tabirnya.

Hari ini aku berusaha menikmati eksotika alam negeri Badui, tanah yang selama ini aku jadikan pelarian ketika sudah tak sanggup menopang beban hidup. Lima tahun lalu penyakit ini tumbuh begitu ganas dalam kehidupan ku, penyakit yang membuat aku berbeda, sebuah imajinasi yang selalu membawaku larut dalam kesepian mendalam, pemikiranku seperti pergi jauh membuana hingga ketempat dimana aku sendiri tidak tau keberadaanya namun sangat yakin nyatanya.

Penyakit ini penyakit sendu yang sering kali membuat jantung berdebar seperti tanpa ada frekuensi yang jelas, penyakit yang sering kali membuat mu putus harapan dan ingin menangis bahkan menyakiti diri sendiri. Penyakit yang tiba-tiba ketika kau tertawa seperti melahap dan mengubahnya menjadi duka, penyakit yang membuat mu enggan menutup bola mata ketika malam, bahkan terbangun dan meringgis ketika tertidur dan larut dalam dunia mimipi. Sekian lama aku menderita ketidak jelasan dalam hidup, sudah banyak dokter aku datangi, semua hanya menerka-nerka penyakit ku, hingga akhirnya mereka memilih diam seribu bahasa dan aku larut dalam keputusasaan.

Selama ini aku berusaha keras mengobati penyakit hati tersebut, semua hal aku lakukan. Melarutkan diri dalam berbagai kesibukan duniawi ternyata tidak membuat penyakit itu lantas hilang, hingga kemudian aku sering merasa apa yang aku lakukan tiada guna. Aku menangis dalam keramaian, aku merasa sepi dalam setiap tindakan yang aku lakukan hingga pada saat itu tiba. Dua tahun lalu di Bandung semuanya lantas hilang..

“Perkenalkan nama saya Muhammad Rafi Al-Karim, Universitas Sultan Hasanudin Makassar”

Aku tersentak ketika melihat seorang seusiaku memperkenalkan diri, seperti ada sebuah tarikan besar dan jawaban dari dongeng-dongeng kecil yang selama ini aku buat untuk mengobati penyakit hati.

“Senang sekali bekenalan dengan kalian” Suaranya keras, seperti kebanyakan orang Makassar

Pertemuan singkat itu membuat aku membuka kembali novel usang yang pernah aku buat tujuh tahun lalu. Aku seperti mendapat jawaban dari penyakit ku.  Aku yang membuat penyakit itu tumbuh cepat karena mengarang dunia fiksi sendiri tentang seorang jodoh ku tuan raja dari tanah sebrang, aku terlalu mencintai tokoh fiksi tersebut dan berharap nyata keberadaanya, dan Rafi kini menghidupkan tokoh fiksi itu.

Rafi hidup dalam kehidupanku perlahan, entah mengapa penyakit itu perlahan justru mulai mati. Pasca pertemuan di Bandung, Rafi mengirim aku sebuah surat yang membuat aku nyaris meneteskan air mata, surat itu dalah final dari kesepian yang selama lima tahun larut dalam kehidupan ku.

Sejak dulu aku selalu bersumpah jika ada yang memberikan aku surat seperti dalam dunia fiksi para penulis terkenal maka akan aku jadikan kekasih yang kelak akan menjadi jodohku di pelaminan, dan hal itu seperti terjawab sudah. Belum lagi sosok Rafi tidak asing dalam kehidupan ku, aku yakin dalam novel yang aku buat tertulis bahwa jodohku tuan dari tanah sebrang dan kami bertemu di pelataran tanah pasundan semua juga terjawab, hingga hilang semua keraguan dalam kehidupan ku, dan memlih Rafi sebagai obat penawar racun yang selama ini menyerbak dalam tubuh.

Rafi membalas kegilaanku dalam dunia. Dia seperti orang yang memahami aku sekalipun pertemuan kami sangkat singkat dan berakhir pada surat-surat yang mungkin orang lain tidak akan pernah pahami keistimewaanya dalam hidup ku. Rafi mengajak aku untuk berdongeng, dia menjadi tokoh fiksi yang nyata sekalipun keberadaan dirinya sangat maya. Antara aku dan Rafi terhalang jarak dan adat, bagi Rafi aku adalah sosok yang membuatnya bersemangat dalam menjalankan aktivitasnya dalam dunia pergerakan mahasiswa. Aku dan Rafi saling melengkapi sekalipun kami hanya bertemu lewat gelombang. Dan penyakit hati ku seperti hilang terbawa arus ombak ke Pantai Losari.

“Akhhh…..” aku teriak sekencang-kencangnya, biarkan para Badui itu tau bahwa aku sedang tidak waras kali ini datang kemari. Seorang pemintal benang tua hanya menepuk pundakku dan membawakan aku bantal lusuh untuk berbaring. Sementara itu, aku kembali kepada kebiasaan ku menggigit bantal untuk menahan sakit. Kebiasaan yang hampir dua tahun ini nyaris hilang namun hadir kembali.

“Tuan…” Aku meringgis menyebut Rafi, air mata ku kini sudah tak terbendung lagi, semangatku seperti mati, aku sudah berusaha menyibukkan diriku dan menyadarkan ku bahwa Rafi hanya sosok fiksi yang hadir dalam mimpi, tapi nuraniku terus berkata dan yakin bahwa Rafi jodoh yang sudah Tuhan tuliskan takdirNya bersama ku. Nuraniku seperti ingin berontak dan tidak peduli logika hidup yang ada.

Tubuh ku mengigil, perempuan Badui itu membawakan ku kain selimut hitam milik para perempuan Badui. Bola matanya yang biru seperti simpati melihatku, namun sekali lagi aku enggan mempedulikan perempuan hebat itu, imajinasiku masih menerawang pada sosok Rafi yang kenapa secara mendadak hadir dalam hidupku dan menjalin hubungan fiksi dengan ku.

Kain adat yang kini menghangatkan tubuhku, menarik kembali ingatan ku pada sebuah kain khas Bugis, baju bodo hijau yang Rafi hadiahkan ditahun pertama hubungan kami. Rafi mengajarkan ku bagaimana adat sana berbicara. Rafi mengubahku menjadi perempuan yang begitu keras mempertahankan wibawa seperti perempuan di tanahnya dilahirkan dan aku mengubah Rafi menjadi sosok lembut hati seperti kebanyakan laki-laki Sunda.

Namun kemudian semuanya mati. Rafi ternyata tak kuasa meneruskan dongeng-dongengnya dengan ku. Suatu malam dia memasukan tokoh fiksi baru dalam dongeng yang kami ciptakan. Tokoh yang kemudian dia jadikan Ratu Agung dan mengubahku menjadi selir dalam kehidupanya.

“Terlalu singkat memang, kelak aku akan datang ketanah Badui. Pahami perasan ku saat ini, aku butuh kehidupan nyata dan tak lagi bermain dengan ketidak jelasan. Aku akan datang ke tanah mu dan menjadikan mu Ratu Amandaku sayang”

“Kau sudah memilih Ratu dalam kehidupan mu. Biarkan aku larut dalam cerita ku. Aku akan mengubah alur fiksi dongeng itu, tak ada dua ratu dalam satu kerajaan. Sebagaimana tidak ada dua Tuhan dalam satu hati ” aku menjawab pesan singkat terakhir Rafi dan mengubur sosoknya dalam-dalam.

Aku kembali menggigil mengingat kisahku dengan Rafi, hingga kemudian aku larut dalam sosok ku lima tahun lalu, aku menghentikan dongeng ku ditanah para Badui, dan aku mengakhiri sosok ku dalam dunia fiksi skenario yang telah Tuhan ciptakan.

Oleh : Rela Mutiara Agustiansyah. Penulis adalah pengurus Kohati HMI Komisariat Setia Budhi, Rangkasbitung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two + 12 =

Facebook

Trending