Connect with us

CERPEN

Pacaran Itu Mengajarkan Berbohong

Published

on

Kring.. kring.. bunyi  telephone dari Hamdan. Dia mantannya Agni. Malam itu Hamdan menceritakan semua kejelekan pacarnya kepada Agni. Mungkin karena Hamdan masih mengharapkan Agni untuk kembali menjadi pujaan hatinya alias pacaran yang belum jelas kehalalannya.

“Assalamu’alaikum, Agni”

Kring.. kring.. bunyi  telephone dari Hamdan. Dia mantannya Agni. Malam itu Hamdan menceritakan semua kejelekan pacarnya kepada Agni. Mungkin karena Hamdan masih mengharapkan Agni untuk kembali menjadi pujaan hatinya alias pacaran yang belum jelas kehalalannya.

“Assalamu’alaikum, Agni”

“Wa’alaikumussalam, Dan”

“Aku benci sama pacarku yang sekarang. Dia tuh gak perhatian seperti kamu, Agni”

“Enggak baik ngejelek-jelekin orang tau”

“Iya sih, tapi aku benci. Aku pengennya kamu. Kamu itu baik, perhatian, dan pengertian”

“Makasih, tapi aku itu gak cantik”

“Aku sekarang sadar kalau kecantikan wajah itu gak terlalu penting”

Agni pun mematikan telephone itu karena kesal dengan kemunafikan dan kebohongan Hamdan. Laki-laki zaman sekarang mana mungkin kalau pacaran sama perempuan yang tidak cantik apalagi laki-laki setampan Hamdan pasti nyari yang parasnya cantik dan body spayol.
***
Keesokan harinya Agni bertemu dengan Hamdan di kampus. Agni bersama teman perempuannya yang bernama Cika. Agni ingin menyampaikan salam dari ibunya kepada Hamdan tapi malu menyelimuti dirinya. Agni pun menyuruh Cika untuk menyampaikan salam ibunya.

“Cik, salamin ibu aku ke Hamdan”

“Oh iya Agni, kemarin ibu kamu juga nitip salam buat Hamdan”

“Iya udah kamu aja salamin ke dia”

“Oke, Ni. Kamu gak sekalian salam tah”

Agni menggelengkan kepala. Perlahan Hamdan menghampiri Agni dan Cika.

Agni pergi menjauh karena tidak ingin bertemu dan mengobrol dengan Hamdan. Cika dan Hamdan asyik mengobrol di depan kelas, sedangkan Agni melamun di dalam kelas. Berrrr.. lelaki tampan itu alias Hamdan menoleh ke dalam kelas. Seperti angin lewat di hadapan Agni.

Rasa ingin bertemu terus menghantui tapi ketika bertemu malah menghindari dan menjauh. Munafik.

“Agni ayo pulang” ajak Cika

“Iya, Cik. Udah di salamin belum sama dia?”

“Udah, Ni. Dia senang dapet salam dari ibu kamu”

“Oh yaaaa”

“Biasa aja kali, dia juga katanya insya Allah mau main ke rumah kamu”
Agni hanya mencibir dan berkata dengan kesal kepada Cika.

“Mana mungkin dia main ke rumahku, Cik. Ketemu aku aja dia males”

“Dia itu menghindar karena dia sayang kamu”

Agni tidak yakin kalau Hamdan masih sayang padanya. Mereka pun melangkah dengan perlahan keluar lingkungan kampus. Tiba-tiba Cika ngerengek ingin ketemu pacarnya.

“Agni, aku pengen ketemu pacar aku”

“Ayo aku antar. Emang dia dimana?”

“Enggak tau aku geh”

“Udah sih jangan suka nyamperin laki-laki. Kalau dia sayang pasti mendatangimu tanpa kamu cari” ala penasihat propesional

“Tapi aku sayang banget sama dia”

Agni cemberut. Kesal melihat temannya yang dimabok cinta dan terjerumus cinta.

“Menyayangi pacar dengan sepenuh hati memang boleh?. Ehmm pacaran dalam islam saja tidak ada. Bagaimana dengan menyanginya?. Ucapannya butuh sumber dari orang-orang yang mengerti dan memahami tentang ini. Aku harus mencari jawabannya” ucapan dalam hati Agni.

Ketika sampai di luar kampus. Hujan deras turun. Agni pun menangis bersama turunnya hujan. Dia menangis karena menyesal telah berpacaran dengan Hamdan. Janji-janji di atas Al-qur’an yang dijanjikan Hamdan kepada Agni kini pupus dan sirna oleh kebohongan.

“Ya Allah, ampuni dosaku karena telah melakukan dosa. Ampuni dosa Hamdan karena dia telah mengingkari janjinya” do’a Agni ketika hujan turun.

Allah bakalan mengabulkan do’a seseorang saat hujan turun. Aamiin. Harapan memang selalu diiringi dengan keberhasilan dan kegagalan. Tidak ada salahnya memohon maaf kepada sang khalik sebelum ajal menjemput bahkan itu lebih baik daripada tidak melakukannya.

Hujan pun berhenti. Cika mengajak dan merayu Agni untuk mempertemukannya dengan pacarnya. Nama pacarnya sebut saja Kamal. Nama yang unik dan sederhana. Agni menyuruh Kamal untuk datang ke kostan Zahra. Zahra itu teman dekat Agni dan Cika. Akhirnya Kamal pun bersedia untuk datang ke kostan.

Ngeng..ngeng..ngeng suara motor melintasi jalan trotoan depan kosan Zahra. Tenyata Kamal. Namun apa yang terjadi? Kamal tidak mendatangi Cika. Dia hanya duduk di jalan trotoar. Cika pun nangis dan mengadu kepada Agni.

“Agni, kenapa dia enggak mau ke sini?”

“Engggak tau”

“Mungkin ada mantannya kali di samping kosan Zahra”

“Walaupun ada mantan kalau ketemu pacar mah ya ketemu aja”

“Iya udah aku yang nyamperin dia”

“Jangan, jangan, pokoknya kamu harus tetap disini. Biarkan dia mendatangimu”

“Enggak mau, aku aja yang nyamperin”

Cika pun berlari untuk mendatangi Kamal. Agni tidak dapat mencegahnya untuk tidak mendatangi Kamal. Agni hanya bisa menggerutu

“Cinta ya cinta. Satu kata yang sederhana tapi bisa membuat orang bahagia. Tapi kalau salah mengartikannya bisa membuat orang gila bahkan lupa akan harga dirinya. Astagfirullah”.

Tiga menit kemudian Cika pun datang lagi ke kosan. Waktu yang singkat. Mungkin singkat tapi mungkin juga berkesan.

“Ko bentar ketemunya, Cik?” tanya Agni

“Iya, dianya mau buru-buru pulang”

Menggelengkan kepala. Agni sedih melihat cika yang selalu sedih bahkan sering menangis karena pacarnya kurang perhatian. Astahgirullah. Agni sering berpikiran dan membuat pertanyaan dalam otaknya yang terkadang dia sendiri sulit untuk menyadarinya “ kenapa harus menangis karena pacar? Kenapa tidak menangis karena dosa?”.

Cika badannya jadi panas dingin.

Akhirnya Agni dan Cika pun pulang ke rumah masing-masing. Beraneka rasa pun dibawanya pulang. Beraneka rasa dalam kehidupan sangat penting. Rasa senang, sedih mengajarkan hidup ini lebih bermakna.

***
Malam hari Hamdan pun menelpon Agni. Awalnya Agni tidak ingin mengangkat telephone darinya, tapi Agni kasihan kepada Hamdan.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumussalam. Ada apa, Dan?”

“Hamdan pengen putus sama pacar Hamdan dan kembali sama kamu”

“Jangan lakuin itu, Dan. Cukup aku yang kau sakiti. Kamu jangan nyakitin yang lain lagi”

“Tapi aku enggak nyaman dengan pacar aku. Kamu mau enggak jadi pacarku lagi?”

“Maaf aku enggak bisa jadi pacar kamu lagi”

“Asal kamu tau, Agni. Pacar Hamdan yang sekarang itu gak bisa ngertian Hamdan. Dia ga mau tau kesibukan Hamdan. Dia pengennya jalan aja. Sampe-sampe Hamdan bohongin ibu Hamdan demi dia”

“ Astagfirullah. Udah dulu ya, Hamdan. Assalamu’alaikum”

Agni mematikan telephonnya karena tidak sanggup mendengar cerita Hamdan. Dia meneteskan air mata. “Kenapa Hamdan berubah? Kenapa dia berani berbohong kepada ibunya? Apa aku harus kembali jadi pacarnya?

“Tidakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk. Aku tidak mungkin menerimanya kembali”

Hamdan kembali menghubungi Agni

“Aku tau kamu kecewa, Agni. Aku dulu menyia-nyiakan kamu”

“Udah lah jangan di bahas. Kamu jalani aja sama pacar kamu yang sekarang”

“Tapi Agni, aku sayang sama kamu. Cuma kamu yang aku inginkan”

“Besok aja ya ketemu. Gimana?”

“Oh ya udah, Agni”

Malam semakin larut. Tempat tidur menjadi pilihan untuk istirahat. Ayah agni mendengar percakapannya Agni dan Hamdan. Ayah agni marah membeludak karena tidak setuju jika dia harus kembali lagi kepada Hamdan.

“Kalau kamu pacaran lagi sama Hamdan, ayah ga bakalan nganggep kamu anak lagi” ancaman ayahnya

“Iya, Ayah. Tapi Agni masih sayang sama dia, yah”

“Sayang itu bisa hilang buat pacar tapi sayang itu bisa tumbuh buat calon suami kamu”

“ Maksudnya, yah”

“ Pacaran aja gak boleh dalam Islam. Apalagi menyanginya dengan berlebihan sampai-sampai kamu lupa kalau kamu bakalan punya suami yang wajib kamu sayang”

“ Oh, jadi aku ga boleh sayang sama dia ya ayah”

“Boleh, asalkan jangan berpacaran. Pokoknya ayah tidak mengizinkan kamu berpacaran sebelum nikah sama siapa pun apalagi sama Hamdan”

Agni pun mangguk dan izin untuk tidur. Sebelum tidur Agni hanya bisa berdo’a agar bisa di persatukan dengan Hamdan di pernikahan nanti. Aamiin.

***
Pagi hari yang cerah tapi tidak secerah hati Agni. Padahal awalnya dia senang karena ingin mengobrol dengan hamdan tapi dia teringat akan ancaman ayahnya.

Setelah sampai di kampus, Agni berdiam diri dan banyak teman-temannya yang menanyakan Hamdan padanya. Dia hanya menggelengkan kepala dan bersedih karena harus melewati hari-harinya tanpa Hamdan. Menunggu Hamdan mendatanginya. Agni bingung karena harus mengorbankan kehilangan Hamdan atau diusir dari rumah. Agni berusaha untuk meneguhkan hatinya dan berkonsisten untuk tidak berpacaran sebelum nikah. Mungkin itu pilihan yang tepat karena sesuai dengan kemauan ayahnya dan ajaran Islam.

Tiba-tiba Hamdan pun datang.. jeng.. jeng..

“ Aku kangen kamu, sayang” kata Hamdan

“ Ih apa-apaan sih kamu, Dan. Kita kan udah putus”

“ Tapi kan masih bisa bersatu lagi, Agni. Aku benar-benar sayang kamu”

“Dulu kamu hina aku. Kamu bilang aku ini jelek, Cuma manfaatin kamu, dan aku ini cuma pelampiasan kamu”

“ Maaf, Agni. Aku khilaf ngomong seperti itu”

“ Aku udah maafin kamu tapi aku gak bisa balikan sama kamu. Aku udah sakit hati sama kamu”

“ Aku janji gak bakalan ngelakuinnya lagi, Agni”
“ Dulu kamu janji di atas Al-qur’an tapi gampang kamu ingkari. Apalagi sekarang janji tanpa apa-apa, cuma di mulut. Sangat gampang untuk kamu ingkari. Maaf aku udah ga percaya dengan kamu”

Hamdan hanya bisa termenung dengan ucapan dan kemarahan Agni kepadanya. Dia mungkin menyadari atau mungkin hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Dia pun menangis dan meyakinkan agni kalau dia bakalan memperbaiki kesalahannya dulu.

“ Agni, aku janji tidak akan mengingkarinya lagi. Aku bakalan setia sama kamu. Aku gak bakalan nyakitin kamu lagi. Agni percayalah cintaku ini hanya untuk kamu”

“ Hmm, terus cinta buat Allah, orang tua kamu, saudara kamu, teman-teman kamu mana?. Pantesan aja kamu ingkarin janji kamu di atas Al-qur’an, boongin ibu kamu ternyata kamu gak cinta sama mereka kamu cuma cinta sama aku”

“ Kamu bisa aja, Agni. Kamu itu selalu aja buat Hamdan senang. Kamu itu lucu dan menyenangkan”

“ Makasih, Dan”

“ Kamu mau kan balikan sama aku dan jadi pacar aku lagi. Ayolah Agni”

“ Maaf aku gak bisa. Kalau mau nikah aja jangan pacaran”

“ Iya nanti setelah aku sukses”

“ Iya udah kamu nyatainnya setelah sukses aja jangan sekarang”

“ Iya udah, aku gak mau lagi sama kamu. Masih banyak ko yang mau sama aku dan jadi pacar aku”

Hamdan pun meninggalkan Agni. Zaman sekarang laki-laki emang seperti itu. Maunya pacaran aja, diajak nikah mah nyalinya lumes kaya kerupuk kepanasan.

Penulis: Astini Uyun, mahasiswi semester 2 jurusan Diksatrasiada STKIP Setia Budhi Rangkasbitung. Penulis juga kader di Ikatan Mahasiswa Lebak (Imala) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam Indonesia (Kammi).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − fourteen =

Facebook

Trending