Connect with us

CERPEN

Penantian Cinta (Part 1)

Published

on

Dalam dunia dongeng, atau kisah novel-novel aku sering kali membaca buku tentang dunia percintaan. Yah, dunia yang begitu istimewa lebih dari sekedar bintang kejora yang bersinar atau bunga-bunga yang menari di taman. Dunia yang membuat semua orang lupa diri, tapi dunia cinta ku jauh sekali berbeda. Aku tak menemukan seorang pangeran yang membawakan ku bunga seperti kisah dongeng pengantar tidur, atau aku tidak menemukan kisah romantis seorang yang membangunkan ku ketika terjatuh layaknya novel-novel yang sering kali membuat air mata bergelantungan pada kelopaknya. Tapi yah. . Tuhan aku masih percaya pada romantisnya kisah Cinderela, Rome dan Juliet atau kisah ter update versi indonesia. Habibie dan Ainun yang sejenak mengguncang ibu pertiwi mengubah ala pacaran remaja era kini kembali ke jaman sebelum reformasi.

Dalam dunia dongeng, atau kisah novel-novel aku sering kali membaca buku tentang dunia percintaan. Yah, dunia yang begitu istimewa lebih dari sekedar bintang kejora yang bersinar atau bunga-bunga yang menari di taman. Dunia yang membuat semua orang lupa diri, tapi dunia cinta ku jauh sekali berbeda. Aku tak menemukan seorang pangeran yang membawakan ku bunga seperti kisah dongeng pengantar tidur, atau aku tidak menemukan kisah romantis seorang yang membangunkan ku ketika terjatuh layaknya novel-novel yang sering kali membuat air mata bergelantungan pada kelopaknya. Tapi yah. . Tuhan aku masih percaya pada romantisnya kisah Cinderela, Rome dan Juliet atau kisah ter update versi indonesia. Habibie dan Ainun yang sejenak mengguncang ibu pertiwi mengubah ala pacaran remaja era kini kembali ke jaman sebelum reformasi.

”Yaya…,ternyata kamu lebih bodoh dari para pengemar selebriti, yang rela berdandan gila biar ketemu idolanya. Hahaha, apa yang mereka lakukan itu jelas ada orang yang mereka puja, tapi kamu. . . Masih saja bergaya ala mamah papah mu remaja dulu”

”Apa salahnya berharap, kau remaja jaman sekarang sudah terenggun dunianya, kisah hidup mereka hanya dihabiskan dengan gadget dan dunia maya yang tidak jelas juntrungannya”

”Kau lebih parah, larut dalam mimpi yang tak pasti, mana ada pangeran berkuda putih jaman sekarang, atau mana ada pria yang mau rela kau ajak hujan-hujanan demi sebuah kata romantisme, bulsittt bos. Mana ada juga wanita yang mau di beri makan cinta untuk hidup dalam perahu rumah tangga. Kisah romantis itu hanya akan kau temukan dalam film-film india. Dan kau tahu seharusnya kau mendapatkan pria seperti syahurkhan biar sepadan”

”Gila kau Hahahahhaha”

”Ini Yaya Pramudia, Novel terbaru yang aku bawakan untuk mu Muntaj Mahal. . Semoga besok lusa kau bermimpi mendapatkan pria yang rela membangunkan istana mewah karena kecintaanya pada mu. Bahkan mungkin yang siap menyelesaikanya hanya dalam waktu satu malam seperti kisah loro jongrang”

”Hei, Get kau akhirnya baca juga kisah roro jongrang ku”

”Kemarin aku iseng saja baca, tapi sampai sekarang aku masih waras kok”

Getrin Novalia, sahabat ku satu-satunya yang masih bertahan, entah kenapa aku bukan tipikal orang yang mudah mempercayai orang-orang. Bagiku untuk mendapatkan satu teman yang mampu menyembunyikan satu jarum yang sangat berharga itu sangat sulit, dan Getrin adalah salah satu orang yang bertahan di sampingku, orang yang penuh dengan mimpi.

”Oyah, ngomong-ngomong kemana pacar mu? Aku belum pernah lihat wajahnya, apa dia membawakan mu setangkai bunga mawar kala pagi, atau menyebut namamu sebelum tidur, atau mungkin pacar mu itu setia mengirim puisi cinta setiap detiknya. .hehehe. Aku tidak percaya akhirnya kau jatuh cinta juga ya”

”Hus, pacarku bukan tipikal orang yang romantis, tidak setampan arjuna, tidak sebijak sana habibi, aku juga tidak percaya kenapa aku bisa jatuh cinta dengannya. Tapi kau tau Get, orang bilang cinta itu berdiri dari segala perbedaan untuk disamakan, untuk memahami satu sama lain dan aku yakin suatu saat nanti dia akan lebih romantis dari seorang maznun dan siap mengirimkan aku satu lembar surat berisi puisi karya tangannya. . . Hehe, aku yang akan membuatnya menjadi pria romantis seperti syahrulkan hahaha”

”Kau memang gila”

”Tapi aku sudah tiga bulan tidak berjumpa dengannya, terakhir berjumpa kami tidak punya waktu bicara banyak. Pacarku itu seperti king peter dalam buku narnia gagah dan pemberani”

”Kau terlalu tergila-gila novel lewiss itu nampaknya. Pacarmu TNI ?”

”Bukan”

”Polisi, atau mungkin jawara ”

”Pacar ku aktivis”

Hahahaha ”Yaelah Yaya, aktivis itu bukan pemberani tapi soe jagoan. Aku pikir kau tidak akan pernah cocok dengan dunia yang penuh dengan politik itu, nanti cintamu di politisi juga”

Aku terdiam mendengar perkataan Get. ”Politik itu adalah seni, kau tau seorang seniman sejati akan mampu melukis karya indah dalam bara api” ucapku penuh pembelaan

”Besok aku kenalkan kau dengan seorang pelukis sahabatku, sepertinya kalian akan lebih cocok”

”Tidak-tidak. . Aku sudah mengucap basmalah ketika menerima cinta kekasih ku ini, masa iya aku mengingkarinya”

Get menepuk jidatnya, entah apa maksudnya aku sendiri tidak paham, yang pasti perkataanku untuk tidak mengingkari kisah yang aku goreskan dengan sosok yang sudah menyihir pemikiranku adalah kepastian yang tidak akan aku ingkari.

Bulan ke tiga aku tidak berjumpa dengan kekasih hati, benar yang di tulis dalam roman-roman jatuh cinta itu membuat segalanya tidak nikmat, membuat tubuh kita tak berdaya dan membuat segalanya mati rasa. Aku bahkan nyaris tidak pernah bermimpi lagi dalam tidur ku, sosok pria aktifis ini menjadikan hidup ku lebih nyata dan menyadarkan ku bahwa memang ada banyak rasa tentang cinta. Aku kini meninggalkan dunia dongengku, ku hentikan setiap tulis tangan yang ku tulis dalam buku harian, aku lupakan kisah tentang pangeran yang membawaku berlari dalam deras hujan, aku hilangkan bayangan puisi-puisi cinta yang ditulis tangan dan dikirim lewat post yang diantar kurir bersepedah ontel. . Karena benar kata Get, kurir post saja sekarang sudah mengunakan kendaraan bermotor, kisah cinta romantis berubah jaman dari kartu post menjadi pesan singkat di handphone.

Aku belajar mengubur mimpiku, aku sadar usiaku yang beranjak 20 tahun ini sudah bukan usia yang memerlukan kisah seperti bawang merah bawang putih untuk menemani tidurnya, tekadku untuk menjadi sosok setia mengubah dunia ku, aku mulai terjun kedunia dimana pujaan hatiku begemelut, dunia aktivis, dunia yang jauh dari jiwaku tapi mampu masuk kedalam dasar logikaku. Aku berusaha menjadi ratu di dunia baruku itu, sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa aku sedang berusaha membuat skenario hidup tersendiri berusaha menentang apa yang dikehendak tuhan tentang aku dan pahlawan pujaan versi masa kini.

”Kakak, apa yakin kamu pacarnya. Disini dia sudah punya pacar”

Sebuah pesan singkat masuk, entah gelap atau tidak duniaku sebenarnya saat itu. Tapi yang pasti pesan itu seperti menancapkan belati ke jantung hati. Aku hanya bisa meneteskan air mata pada sudut kamar, seperti kehabisan harapan dan lupa bahwa aku adalah sang pemimpi sejati yang siap melukiskan hari-hari setiap orang dengan harapan, aku lupa sosok ku.

”Sudah ku bilang ya, dunia itu tidak cocok dengan mu. Mana ada seorang yang mencintai seseorang tidak pernah memberi kabar, buku dongeng apa yang kau baca”

”Get, orang yang percaya kekuatan cinta akan selalu berkata, tanpa berjumpa ragapun hati kita akan selalu bersama , dan aku percaya itu”

”Dan apa yang terjadi yaya , seharusnya memang kamu tidak percaya dengan teori cinta yang klise itu. . Bodoh kau boss”

”Lalu apa yang harus aku lakukan Get?, aku terlanjur mencintanya. .”

”Lakukan apa kata hati mu saja”

***

Hatiku kini sudah tidak terpikat lagi oleh buku imajinasi yang membuat aku seperti lemah tak berdaya, aku mengubah hidupku delapan puluh derajat, sisanya aku masih percaya keajaiban cinta. Karena yang membawa perubahan ini adalah orang yang dulu aku cintai. Perlahan aku memasuki dunia pergerakan menjadi aktifis sosial, bukan pilihanku tapi keadaan sekitar ternyata mendorongku melakukannya, aku tampil dengan gaya baru yang lebih menunjukan sosok wibawaku, banyak orang yang menyukai aku sekarang. Orang percaya kelak aku kan menjadi wanita yang sukses, sementara aku sendiri tidak begitu yakin aku hanya berharap apa yang akan aku lakukan sekarang tidak menjerumuskan ku kedalam mimpi-mimpi lagi. Hingga seseorang kembali hadir menoreskan kisah lama yang sudah terkubur.

Tanah Multatuli masih lembab, gerimis tadi datang menghujat, kalau dulu aku akan memilih menerobos hujan dan berlari kecil seperti anak-anak, kini aku lebih memilih berlindung di sebuah pondok bambu berharap hujan reda, dan doaku sejenak di kabulkan Tuhan.

Aku menginjak kubangan, perlahan tetesan air yang tadi bertahan pada dahan mulai berjatuhan, kembali menghujatku, lambat laun gerimis kembali datang dan hujan dengan deras mengguyur kembali tanah multatuli, aku segera berlali mencari tempat untuk berteduh, tapi niat ku terhenti pada sosok yang sedang tertawa riang menikmati hujan, sosok itu mengingatkan ku pada masa laluku.

Rambutnya sudah kelimis tertarik gerimis, jas yang wajahnya tersembunyikan air hujan, perlahan dia melewatiku tanpa sedikitpun menyadari keberadaanku, pria itu benar-benar menikmati permainan hujan, membawa aku kembali kemasa dimana aku mencinta air-air yang bergelantungan di genting sejenak setelah hujan berhenti. Entah apa yang menarikku untuk mengikuti pria berkacamata itu, tapi seperti ada sebuah magnet besar yang menariku. Perlahan aku mengikuti dari belakang, menelusuri setiap sudut jalan di tanah multatluli yang sejenak kini kehilangan jati diri seperti halnya diriku yang kini lupa arah dan tujuan malah mengikuti orang yang tak dikenal.

Langkah kakiku kini terhenti ketika mengetahui orang yang aku ikuti hilang memasuki rumah sakit milik kaum kristiani.

”Kenapa mengikuti dokter Tama Kak?” Seorang anak membuyarkan lamunanku.

”Hei, Gigi. Kenapa ada di rumah sakit”. Aku mengalihkan pembicaran, tapi satu hal yang pasti aku tau nama pria yang tadi terhipnotis hujan.

”Aku memang sering ke rumah sakit, akukan sering mimisan”

”Kak Get mana, tidak ikut?”

”Tidak, kok. . Oyah kak. Dokter Tama itu memang sedikit aneh, kelakuanya seperti anak kecil. Lihat saja sudah besar masih ujan-ujanan”

”Hus tidak boleh membicarakan orang seperti itu”

”Ih, semua suster di rumah sakit ini suka bilang dia sakit jiwa” Gigi berbisik kepadaku.

”Sudah lah, mau kakak temani masuk. Dan sini payungnya biar kakak yang bawa”

”Baik lah, aku tidak bisa menolak, tapi sampai mamahku datang saja yah. .”

”Belagu kamu. Tapi oke lah sampe mamah mu datang kakak Yaya tungguin kamu di RS, ok”

”Ok princess”

Ada alasan pasti kenapa aku menawarkan diri untuk menemani Gigi, sosok pria tadi benar-benar membuat ku penasaran.

”Selamat sore dokter Tama”

Aku bergegas memalingkan pandangan, benar sosok pria tadi sudah berubah penampilan menjadi sosok dokter bijaksana dan berwibawa, tidak ada sedikitpun tampang kekanak-kanakanya tergambar. Tapi kenapa sosok itu bisa dibilang dokter gila ”Benar-benar penuh tanda tanya” Bisiku dalam hati

”Selamat sore suster, oyah anak-anak sudah di bacakan dongeng?”

”Kita semua sibuk dokter, tidak ada waktu untuk itu”

”Kalian ini bagaimana” dokter muda itu nampak menggelengkan kepala lalu pergi sementara para suster justru mengantar kepergianya dengan cemohan.

”Dokter gila, dipikir anak-anak bisa sehat dengan berdongeng, kadang aku aneh ama dokter Tama datang tanpa memeriksa pasien malah ngedongeng. Kenapa rumah sakit tidak memecatnya saja”

Aku bergegas ketika mamah Gigi datang, sementara obrolan para suster masih setia terekam dalam ingatan, aku segera menuju ruang anak tempat dokter yang mereka anggap gila itu praktik.

Sosok dokter berwibawa berubah seperti menjadi sosok penyair sejati atau dalang handal yang siap memukau para penontonnya. Dia membuat panggung pertunjukan dari kasur pasien, diatas kasur dengan lantang dia memainkan prosanya membawa anak-anak larut dalam dunianya. Aku terdiam, sosok dokter muda itu benar-benar tak mudah di tebak.

Hampir tiga jam aku berdiri di balik jendela dan hampir tiga jam pula Tama berpentas, kadang menjadi penyair , kadang menjadi pendongeng bahkan menjadi penyanyi dengan suara sumbangnya, aku mulai dibuat tertawa oleh tingkah konyol sosok berkacamata itu. Anak-anak sendiri nampak serius memperhatikan dokter yang seharusnya memeriksa mereka tapi justru menjadi pelakon handal.

”Sudah saatnya kakak dokter pergi, kalian pasti cepet sembuh oke” suara Tama mengakhiri pertunjukanya

”Oke kakak dokter” suara anak-anak nampak serempak, sementara para ibu yang mendampingi mereka gelang-gelang kepala.

Tamapun segera berlalu tanpa perasaan bersalah, sementara aku masih tertahan di kaca jendela tak habis pikir kenapa aku rela mengahabiskan waktu memperhatikan orang yang tidak sama sekali aku kenal.

”Kenapa tidak masuk, tiket pertunjukan ku gratis kok”

Aku tersentak, ketika menyadari keberadaan Tama entah seperti apa wajahku kini yang tertangkap basah, mungkin seperti keripik balado.

”Anak-anak yang sakit tidak butuh obat, yang mereka butuhkan harapan dan mimpi, obat hanya memberi mereka efek samping yang tidak baik”

Tama seperti mengetahui isi hatiku, aku dibuatnya benar-benar salah tingkah dan malu

”Mau minum teh sebentar di kantin. ?”

Aku terdiam mendengar ajakannya

”Tidak perlu di jawab, ayo ikut. . . ” Tama menarik tanganku, aku hanya terdiam tak percaya dengan apa yang dilakukan dokter muda yang aku rasa memang cukup gila

Tama terus menarik tanganku, sementara tatapan mataku masih melihat ke arah tangan Tama, perlahan kami melewati lorong-lorong rumah sakit dan sampai pada sebuah kantin kecil, dia menyuruhku untuk menunggu sejenak, lalu kembali membawakanku segelas teh hangat dan kue lapis.

”Kau suka berdongeng ?” Aku tersentak mendengar petanyaan tama

”Eh, dulu yah”

”Kenapa tak mencoba berdongeng kembali”

”Suatu saat”

”Ini. . .” Tama menyerahkan sebuah buku kepadaku

”Hem?”

”Ini kumpulan puisi karya ku, ambilah. .”

Aku masih tetap terdiam

” Aku permisi, hari ini aku ada janji dengan salah satu pasien ku” Tama berlalu meninggalkan ku

”Stop” aku mengehentikan langkah kakinya ”Dokter Tama, anda tidak mengenal ku dan kita belum berkenalan”.

”Kau percaya jodoh, orang bilang kalau jodoh suatu saat kita akan di pertemukan kembali, dan aku yakin aku akan tau nama mu tanpa kita berkenalan, karena kau juga tau namaku tanpa kita berkenalan. Waktu yang berputar itu adalah bukti harapan manusia, dan aku berharap kita akan di pertemukan kembali” ucapnya seraya pergi

Aku menggelengkan kepala ”Gila ” Ucapku dalam hati……….

 Penulis : Rela Mutiara Agustiansyah

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − six =

Trending