Connect with us

CERPEN

Penantian Cinta ( Part 2 )

Published

on

Aku membaca setiap lembar, bait, kalimat dan kata pada puisi yang Tama ciptakan. Ada gairah tersendiri yang membuatku mengulang-ngulang setiap kali halamannya kulahap habis. Perlahan jari jemari tanganku mulai gatal, tatapan mataku mencari sesuatu yang sudah lama hilang. Yah, aku kembali ketarik kedalam dunia tulis menulis, aku rindu pada buku harian yang sudah nyaris berdebu, aku merindukan sosok ku dimasa lalu.

Aku membaca setiap lembar, bait, kalimat dan kata pada puisi yang Tama ciptakan. Ada gairah tersendiri yang membuatku mengulang-ngulang setiap kali halamannya kulahap habis. Perlahan jari jemari tanganku mulai gatal, tatapan mataku mencari sesuatu yang sudah lama hilang. Yah, aku kembali ketarik kedalam dunia tulis menulis, aku rindu pada buku harian yang sudah nyaris berdebu, aku merindukan sosok ku dimasa lalu.

Tanggal terakhir menulis adalah tanggal pertama kali aku menjalin hubungan dengan sang aktivis yang aku pikir adalah cinta pertama dan terakhirku, tapi ternyata tebakan ku meleset, tak ada cinta pertama dan terakhir dengannya, bahkan aku tidak mampu menuliskan sebait kisahpun dalam perjalanan semu cinta itu. Tapi kini aku seperti ingin menuliskan sosok Tama dalam buku harian ku.

Tanganku nyaris bergetar ketika kembali bergulat dengan pena untuk merangkai kata, imajinasiku belum sepenuhnya utuh nyaris masih terkontaminasi kemelut dunia yang masih terpatri dalam logika tanpa nurani. Rinduku kini kembali pada romana ala Mara Rusli atau bahkan aku rindu suasana haru yang ada pada buku Karlmay dan damai dibumi, aku rindu suasana dunia timur yang May tuliskan tempo doloe.

”Akh, sepertinya otakku butuh siraman intelektual dari para Ghandi” Aku kembali menutup buku harian ku dan beranjak pergi.

”Kemana Yah?” Mamah nampak aneh melihat tingkahku yang lain dari biasanya

”Aku ke perpustakaan daerah sebentar, kalau Get datang suruh tunggu saja yah mah”

Mamah tidak pernah banyak bicara, dia memberikan aku kebebasan yang bertanggung jawab. Bagi mamah, dunia aku adalah dunia yang harus aku lukis sendiri, mamah cukup memberikan pondasi dasar untuk aku teruskan, pondasi yang cukup kuat saat ini kurasakan jauh berbeda dengan pondasi yang di pergunakan untuk menjadi penyimpan buku-buku yang mulai di lupakan pembacanya di perpustakaan daerah. Buku-buku baru namun kian berdebu, usang seperti tidak berhaga padahal isi di dalamnya cahaya.

”Pak guru sore sekali datangnya. Ini buku dongeng yang pak guru cari ”

”Terimakasih, lain kali saya janji datangnya agak siang biar bapak, bisa pulang lebih cepat”

”Tidak usah pak guru lagian masih ada pengunjung”

”Tumben”

”Iyah pelangan lama, baru balik lagi”

Percakapan pustakawan dengan sosok pak guru yang disebutnya lumayan memecah keheningan, namun suasana semakin tidak hening ketika suara halilintar mulai terdengar memecah langit Multatuli. Aku bergegas mengambil buku yang aku butuhkan, pilihanku jatuh kepada kumpulan puisi karya penulis lokal yang mendunia Gol a Gong namanya, dulu aku selalu bermimpi ingin menjadi seperti dirinya.

”Kartunya neng?” Aku teringat bahwa aku tidak membawa kartu keanggotaan perpus

”Biar pakai punya saya pak, aku yang jadi jaminanya”

”Siap pak guru”

Aku menoleh pada sosok pak guru yang kini berdiri di sampingku.

”Tama !” suaraku sedikit kaget

Tama tersenyum lalu berbisik ”sepertinya kita jodoh” Aku tertawa mendengar bisikan tama.

”Biar bapak buatkan kartu baru saja, kau kan langganan lama neng ”

”Siap pak ”

”Bapak masih ingat kamu kok neng, Yaya Pramudia usia 20 tahun status mahasiswa alamat”

”Yah pak tulis saja tidak usah di sebutkan ” aku memotong perkataan pustakawan tua

”Kode alam kedua, Yaya aku mengenal nama mu tanpa harus bertanya padamu” tama kembali berbisik

”Setelah ini kode alam apa lagi yang akan di turunkan Tuhan” ucapku menjawab bisikan tama

”Kita lihat saja nanti”

Aku dan Tama tertahan di balkon perpustakaan, hujan deras kembali mengguyur negeri Mutatuli, wangi hujan Mulatuli sangat khas aku sendiri selalu merindukanya. Tama perlahan melirik ke arahku, matanya seolah berbicara sesuatu namun aku tak paham maksudnya. Perlahan tangan Tama kembali menggengam tanganku, dia menarikku menerobos ribuan pasukan hujan yang di kirimkan Tuhan, kami berdua larut dalam skenario alam, Tama membuat aku tertawa seperti melepaskan belenggu yang sudah lama mengikatku.

Entah apakah ini bagian dari kode alam, tapi yang pasti seorang sudah membawaku berlari untuk menari bersama hujan, itu mimpi lama yang Tuhan kabulkan. Kami terus berlari menelusuri trotoar di sepanjang jalan, sesekali mobil yang lewat menghantam kubangan dan airnya mengenai seluruh tubuh kami. Tapi tak pernah ada kata untuk berhenti.

Aku tau Tama hendak membawa ku kemana, dia pasti menginginkan aku kembali untuk menyaksikan pentasnya, dan firasatku benar Tama membawaku ke rumah sakit.

”Pakai ini, ” Tama memberiku pakaian ganti

”Inikan baju suster ?”

”Tidak masalah hari ini, kamu aku lantik menjadi suster dan tugas suster yang baik adalah mendengarkan kata dokter”

”Hehehe sebenernya kamu ini dokter apa pak guru”

”Kamu bebas menyebutku apa saja”

”Bagaimana kalau dudut, karena setiap kali kamu hujan-hujanan, kamu seperti kambing dan kambing itu bau dudut hehe”

”Dasar pesek”

”Nampaknya dokter dudut menemukan bulian tepat untukku”

”Iyah donk suster pesek, hehehe tapi kita harus begegas, anak-anak sudah menantikkan tokoh idola meraka beraksi”

”Siap pak dokter”

Tiga jam aku kembali menyaksikan sosok Tama yang aku pikir sangat konyol. Tapi kali ini aku dengan leluasa bisa menonton pertunjukan itu bersama anak-anak. Entah kenapa aku merasa masa kecilku kembali hadir bersama kedatangan Tama.

”Terima kasih sudah mengajakku untuk masuk ke dunia mu, dok. ” suara ku memecah keheningan ketika kami hendak beranjak pulang melewati koridor rumah sakit yang gelap.

”Terimakasih sudah memahami dunia ku”

”Sepertinya bahasa kita terlalu berlebihan hehe”

”Itu yang terjadi saat ini Ya, orang puitis sering kali dikatakan lebay, padahal banyak orang puitis yang justru punya rasa simpatis yang tinggi”

”Yaps, aku sepakat”

”Bagaimana kalau kita bersahabat suster pesek” Tama mencubit hidungku

”Oyah, besok aku tunggu di statsiun kereta api jam 5.00 jangan telat” Tama berbisik kepadaku lalu pergi.

Sejak dulu aku selalu bermimpi ada seorang yang menantangku untuk berjanji. Dulu waktu SMA aku pernah mengajak seseorang untuk berjumpa dua tahun setelah pertemuan pertama di tempat yang sama, tapi ternyata orang itu tidak datang justru menganggapku gila dan konyol. Kemudian aku berjanji pada seorang pacar akan setia menjadi kekasihnya hingga habis masa jabatannya, tapi aktifis muda itu memilih menjalin kasih dengan wanita lain.

Mimpiku habis, dan berpikir janji manis itu hanya ada di sinetron. Tapi besok pagi, ijinkan aku tuhan untuk kembali bermimpi.

***
”Lokh, masih jaman yah kirim-kirim surat”

”Surat untuk siapa?”

”Untuk mu”

Aku meneteskan air mata ketika menyadari mimpiku tercapai, akhirnya ada seorang yang mengirimkan surat berisi puisi cinta setelah sekian lama dan aku nyaris menghapus mimpi itu. Laki-laki gila bisikku dalam hati, mengingat kejadian sebulan lalu di stasiun Kota Rangkasbitung.

Suasana pada saat itu sepi, yang ada hanya para petugas pembersih kereta api dan gelandangan yang tidur di gerbong-gerbong usang. Aku nyaris mengutuk diriku sendiri karena mempercayai omongan orang yang baru aku kenal, udara dingin negeri Multatuli hampir memaksaku meneteskan air mata kecewa. Seseorang mendekapku dari belakang nyaris membuat aku pingsan karena ketakutan, tapi ternyata sosok itu adalah sosok yang menjalin janji dengan ku.

”Dokter gila. . .”

”Kau takut?”

”Tidak sama sekali ”

”Boonk buktinya menangis ketakutan”

”Enggak kok, sekarang untuk apa menyuruhku kemari?”

”Aku tau kita punya dunia yang sama, sekalipun terlalu singkat rasanya waktu saat bersamamu. Tapi aku harap kamu mau menahan waktu untuk bersama ku”

”Aku sudah lama meninggalkan dunia ku, jadi pak guru jelek, pak dokter badu dudut jangan bermain kata dengan ku, aku sudah tidak ingat”

”Aku akan membawa mu keduniamu kembali, aku harap kamu mau juga masuk kedalam duniaku. Aku tidak tau, apa tindakan ku benar atau salah, tapi aku percaya apa yang ada dalam mimpiku itu akan menjadi nyata”

”Baiklah pak guru, apa yang harus ku lakukan?”

”Kereta ini akan membawaku pergi, aku akan menyelesaikan study ku di Jogjakarta. Aku ingin menjadi dokter sekaligus guru yang baik. Aku sedang mengkonsep mimpi-mimpi masa depanku, dan aku harap kamu mau menemaniku untuk bermimpi”

”Dua tahun lagi aku akan menjemputmu di stasiun ini” ucapku singkat

”Aku akan mengirimmu surat setiap minggunya, karena aku tidak akan meminta nomor telephone m. Aku ingin membuktikan apa yang orang tuliskan tentang kekuatan cinta”

”Haha kau berlebihan pak guru, sudah sanah naik keretamu”

Tama tidak lagi berbicara, mulutnya terkuci namun senyumnya melingkar indah, perlahan dia mengeluarkan baju praktek dokter yang biasa dia kenakan dan memakaikannya kepadaku. Sesaat bunyi bising pertanda kereka akan berjalan. Tama bergegas naik kedalam gerbong, melambaykan tangannya kepadaku.

”Pak guru ” teriaku diantara bising roda kereta api yang mulai berjalan

”Kau jelek jika tidak memakai kacamata, ayo pake kacamata mu”.

Tama tertawa mendengar ucapanku.

”Jiah elah ketawa sendiri yang baru dapet surat cinta dari pangerannya” suara Get membuyarkan ingatanku

”Hehe Get”

”Jadi kisahnya berakhir disini, sudah seperti film India atau cerita di novel klasik”

”Tidak !!”

”Lalu. . .?”

”Dia belum datang dengan kuda putihnya” hahahaha….

(Tamat)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + eighteen =

Trending