Connect with us

ESSAI

Kartini dan Kemanusiaan; Sebuah Perenungan (Kembali) soal Emansipasi

Published

on

Dalam diskusi untuk menentukan proyeksi liputan di sebuah ruang redaksi, kata emansipasi mengemuka. Saat itu tiga hari menjelang peringatan Hari Kartini 21 April 2014.

Seorang kawan mengatakan, saat Hari Kartini, hampir semua instansi di negeri ini menggelar beragam kegiatan untuk memperingati. Ada yang seharian diwajibkan mengenakan kebaya, ada juga siswa-siswa sekolah yang menggelar lomba busana Kartini.

Selain peringatan seremonial semacam tadi, media massa yang “latah” Kartini-an, kemudian ramai-ramai memberitakan sosok perempuan yang dianggap mandiri dan mampu mengerjakan tugas laki-laki ini di televisi. Ada sopir taksi perempuan, ada montir perempuan, dan banyak lainnya.

Saya mengemukakan pendapat, jika kita menganggap perempuan-perempuan tadi merupakan representasi dari semangat Kartini yang memperjuangkan semangat emansipasi, maka kita tak bisa memberitakan sopir taksi perempuan tadi secara sepihak. Kita harus utuh memberitakan keluarga sopir taksi perempuan tadi. Mulai dari suami, hingga anak-anak sopir perempuan.

Pertimbangan itu selain untuk menghindari bias, juga supaya semangat emansipasi tak dimaknai sebagai kemandirian saja. Bias yang saya maksud, alih-alih kita menyampaikan semangat emansipasi, pada kehidupan sesungguhnya, misalnya,  ternyata perempuan tadi menjadi korban eksploitasi suaminya yang begitu dominan dalam rumah tangga.

Lepas dari persoalan itu, emansipasi tak hanya sekadar soal perempuan mandiri. Emansipasi pada akhirnya juga melahirkan “kesepakatan”, sebuah peran dalam kehidupan tak bisa didikotomikan menjadi peran laki-laki atau perempuan. Semangat itu yang kemudian disebut kesetaraan gender.

Dalam sebuah korespondensi dengan Nona E.H. Zeehandelaar tanggal 18 Agustus 1899, Kartini menuliskan, “Bagi saya hanya ada dua macam kebangsawanan: bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Pada pikiran saya tidak ada yang lebih gila, lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut ‘keturunan bangsawan’ itu.”

Ungkapan Kartini tersebut bisa dimaknai sebagai semangat egaliter: sama rata, sama rasa. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Di jaman seperti saat ini, bukankah jiwa merakyat semacam itu menjadi barang langka?

Yang lebih luar biasa lagi dari ungkapan Kartini tadi adalah mengenai frase: bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Dengan kata lain, Kartini hendak mengungkapkan, bangsawan sesungguhnya bukan karena memiliki “darah biru” atau memiliki keberlimpahan harta, melainkan mereka yang memiliki budi pekerti luhur dan mampu menularkan jiwa kemanusiaan.

Manusia mempunyai tempat yang tinggi jika dia mampu melaksanakan tugas kemanusiaan. Bahwa setiap pribadi dianggap memiliki harga diri jika bisa menghormati hak-hak orang lain.

Dalam surat yang sama itu, Kartini juga mengungkapkan secara gamblang pemberontakannya terhadap dogma yang mengungkung keluarga. Namun, pemberontakan Kartini terhadap adat istiadat Jawa dilakukan secara santun tanpa harus mengabaikan hak-hak orang lain.

“Terhadap kakak saya, laki-laki dan perempuan, saya taati semua peraturan sopan santun. Saya tidak mau mengurangi hak seseorang sedikit pun; jujur mulai dari saya ke bawah semua adat kami langgar. Kebebasan, persamaan, dan persaudaraan…”(R.A. Kartini, 1899)

Jelaslah sudah, jika membaca surat-surat Kartini yang dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, semangat emansipasi yang digelorakan Kartini menuntut perempuan Indonesia untuk mengambil peran. Peran sebagai manusia untuk terus menularkan semangat kemanusiaan. (Rus)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + 11 =

Facebook

Trending