Connect with us

ESSAI

Mudik adalah Kilas Balik

Published

on

Bagi muslim di perantauan, setidaknya Lebaran dimaknai dua hal. Pertama–sama seperti yang dirasakan muslim umumnya– merayakan ‘kemenangan’ setelah 30 hari penuh berpuasa. Meski sejatinya bagi muslim yang ‘berhasil’, berpisah dengan Ramadan adalah sebuah kesedihan.

Kedua, Lebaran juga telah memberikan waktu luang yang panjang bagi perantau untuk melepaskan diri dari rutinitas dunia kerja. Maka, akan lebih sempurna jika perayaan ‘kemenangan’ dilakukan bersama orang-orang terdekat, berkumpul di kampung halaman.

Lebaran pun kemudian menjadi ritus; ajang pertemuan tahunan. Sanak saudara, tetangga, teman masa kecil kembali dipertemukan oleh Lebaran. Selain terjadi pertemuan tatap muka dengan orang-orang yang menjadi bagian di masa lalu, Lebaran juga mengajak kita untuk merekonstruksi ingatan akan pengalaman-pengalaman yang telah terkubur oleh waktu.

Sebetulnya, mengunjungi kampung halaman dan bertemu dengan orang-orang terdekat tak mesti harus menunggu Lebaran. Namun, bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu dan lainnya, Lebaran seolah memberikan waktu khusus untuk mengobati kerinduan-kerinduan kepada kampung halaman.

Lepas dari soal Lebaran, almarhum Ayah saya semasa hidup pernah mengingatkan saya untuk sering-sering pulang ke kampung halaman. “Supaya tahu keadaan dan apa yang menjadi kesulitan di kampung. Sehingga yang merantau ketika pulang kampung bisa mengatasi kesulitan-kesulitan itu,” begitulah kira-kira pesan Ayah dalam bahasa yang lebih sederhana.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru bisa mencerna. Ada pesan yang dalam terkandung kalimat yang disampaikan Ayah.

Frase, “sering-seringlah pulang supaya tahu keadaan…”, adalah nasehat universal bagi perjalanan manusia di dunia. Kalimat itu bisa dimaknai pengingat untuk diri: semua yang bernyawa pada saatnya pasti akan berpulang. Orang yang ingat ‘pulang’ pasti akan selalu menjaga laku selama mengarungi perjalanan yang sifatnya sementara di dunia ini.

Merujuk pada makna itu, maka mudik tak hanya sekadar pulang dari perantauan ke kampung halaman. Mudik adalah kilas balik, merekonstruksi pengalaman supaya selalu menjadi pengingat diri; bahwa sebesar apapun yang telah didapat di perantauan asalnya adalah dari titik nol di kampung halaman.

Mudik adalah kilas balik seluruh perjalanan untuk kemudian dievaluasi. Sudah pantaskah laku yang selama ini dijalani untuk jadi bekal pulang menghadap yang kuasa?

Ketika saya sedang menuliskan catatan ini, seorang kawan berkirim pesan lewat  Blackberry Masanger. Ini petikan pesannya:

Aku lihat RAMADHAN dari kejauhan…
Lalu kusapa ia…”Hendak ke mana?” Dengan lembut ia berkata, “Aku harus pergi, mungkin JAUH & sangat LAMA.

Tolong sampaikan pesanku untuk orang MUKMIN:

“Syawal akan tiba sebentar lagi, ajaklah SABAR untuk menemani hari-hari dukanya, peluklah ISTIQOMAH saat ia kelelahan dalam perjalanan TAQWA, bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang, mintalah nasehat QUR’AN & SUNNAH di setiap masalah yang dihadapi…

Sampaikan pula salam & terima kasih untuknya karena telah menyambutku dengan suka cita dan melepas kepergianku dengan derai air mata…
Kelak akan kusambut ia di SURGA dari pintu AR RAYAN…

Selamat meraih pahala terbaik di detik-detik terakhir RAMADHAN…

Masih ada beberapa hari lagi untuk bercengkrama dengan RAMADHAN…

“Ya ALLAH, andai di hari ini ada diantara hamba2-Mu yang Engkau angkat derajatnya, Engkau ampuni dosa2nya, Engkau lapangkan rizkinya, Engkau muliakan keturunannya, Engkau lepaskan dari semua kesulitannya, Engkau indahkan akhlaknya dan Engkau berkahi segala hartanya…..

Facebook

Trending