Connect with us

ESSAI

Aku Memberontak Maka Aku Ada!

Published

on

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata pemberontak berasal dari kata dasar berontak. Ada tiga arti yang ditemukan untuk kata berontak; pertama, meronta-ronta hendak melepaskan diri; kedua, melawan, tidak mau menurut perintah; ketiga, melawan pemerintah atau kekuasaan.

Sementara untuk kata pemberontak ditemukan dua definisi. Pertama, orang yang melawan atau menentang kekuasaan yang sah; kedua, orang yang sifatnya suka memberontak atau melawan.

Untuk definisi-definisi di atas, pemberontak bisa dipersepsikan negatif atau bahkan sebaliknya. Namun, orang pada umumnya memberikan stigma yang kurang baik terhadap pemberontak. Walau sebetulnya masih banyak ruang untuk memperdebatkan semuanya.
 
Soal pemberontak,  Shindunata pernah mengaitkannya dengan laga Atletico Madrid versus Real Madrid dalam ajang Liga Champion, Mei 2014 lalu. Dalam ulasannya di Kompas,  Sabtu (24/5/2014), Shindunata menulis, ada kemiripan antara pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone dengan Gabriel Garcia Marquez, penulis Seratus Tahun dalam Kesunyian.

“Keduanya kerap menghadirkan realisme magis,” tulisnya.

Shindunata menyebut Atletico sebagai pemberontak dan Real Madrid tim mapan. Jadi pemberontak lawan kemapanan. Pertarungan di final Liga Champion itu, kata Shindunata, tak beda dengan suksesi capres dan cawapres 2014 di Indonesia.

Hasil pertandingan pada laga Piala Champion 2014 itu, tim pemberontak dibungkam 1-4 sama tim mapan. Sementara, terkait dengan suksesi capres dan cawapres di Indonesia 2014, pasangan Jokowi-JK dinyatakan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 204-2019 mengungguli pesaingnya Prabowo-Hatta melalui drama sidang di Mahkamah Konstitusi.

Terhadap Atletico Madrid, Shindunata secara tegas menyebutnya pemberontak dan sebaliknya Real Madrid sebagai tim mapan. Namun, terhadap kontestan dalam suksesi capres dan cawapres 2014, Shindunata tidak menyebut siapa yang pemberontak dan yang mapan. Pun hingga detik ini, kita masih menebak-nebak siapa pemilik karakter pemberontak dan mapan terhadap tokoh di panggung politik itu.

Namun sebaiknya, mari kita sudahi segala tanya itu. Karena seperti umum diketahui, dunia politik adalah dunia yang samar, dunia yang tidak tegas. Jadi, upaya kita akan sia-sia untuk menemukan jawaban jika yang menjadi area pencarian kita hanya terfokus di panggung politik saja.

Pemberontakan dalam pengertian etimologis adalah suatu penjungkirbalikan yang utuh (Albert Camus, The Rebel, 1956). Ia mencontohkan seorang budak yang bertindak di bawah ancaman cambuk majikannya. Tiba-tiba ia berbalik dan menghadapi  majikannya. Ia menghadapi apa yang ia kehendaki atau senangi dan apa yang tidak.

Pemberontakan selalu dikaitkan dengan nilai-nilai. Meski menurut Camus, tidak semua nilai memerlukan pemberontakan, tetapi setiap tindakan pemberontakan secara diam-diam meminta suatu nilai.

Seorang budak memaksakan dirinya untuk berontak ketika dia sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa suatu perintah telah melanggar sesuatu yang ada dalam dirinya yang tidak cuma menjadi miliknya saja, tetapi sesuatu yang menjadi dasar bersama di mana semua orang—bahkan orang yang menghina dan menekannya—memiliki komunitas alamiah.

Berdasarkan argumen ini, Camus mendapatkan dua observasi pendukung. Pertama, suatu aksi pemberontakan bukan tindakan egoistik. Pemberontakan tidak hanya muncul di antara mereka yang tertekan, tetapi pemberontakan dapat juga disebabkan oleh represi yang spektakuler di mana orang lain menjadi korban.

Kedua, sebaliknya. Sering terjadi di mana kita tak sanggup menanggung melihat siksaan-siksaan yang dilakukan kepada orang lain di mana kita sendiri telah menerimanya tanpa sebuah pemberontakan. Untuk argumen ini, Camus memberi contoh pada aksi bunuh diri massal yang dilakukan para teroris Rusia di Siberia yang merupakan protes menentang pencambukan terhadap teman-temannya.

Tujuan pemberontakan, kata Camus, adalah menuntut sesuatu yang telah ia miliki dan telah ia kenal sebelumnya. Jika kita elaborasi lebih jauh pernyataan Camus ini, “sesuatu yang telah ia miliki dan telah ia kenal sebelumnya” adalah selalu berhubungan dengan nilai-nilai. Sesuatu yang ia kenal sebelumnya, bisa merupakan sesuatu dalam wilayah yang dicita-citakan.

Salah satu contoh adalah pemberontakan bangsa Indonesia melawan imperialisme Belanda. Selain memperjuangkan sesuatu yang telah dimiliki sebelumnya—yakni kemerdekaan—juga memperjuangkan nilai-nilai yang dicita-citakan, sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 45.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. ……………….. Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial….”

Namun, kadang—sama seperti diungkap Scheler—pemberontakan kerap dikaitkan dengan kemarahan dan dendam. Padahal jauh dari itu, pemberontakan adalah laku terpelajar yang sangat menghormati hak-haknya.

Bahkan, di awal pembahasan dalam The Rebel, Albert Camus tampak jelas dipengaruhi eksistensialisme Rene Descartes. Menurutnya, agar eksist setiap orang harus berontak. Jadi, aku memberontak maka aku ada!!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × two =

Trending