Connect with us

BABAD BANTEN

Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (2)

Published

on

 

Dampak letusan Gunung Karakatau di Selat Sunda (23 Agustus 1883) menimbulkan gelombang laut yang menghancurkan Anyer, Merak, Caringin, Sirih, Pasauran, Tajur, dan Carita. Selain itu musibah kelaparan, penyakit sampar (pes), penyakit binatang ternak (kuku kerbau) membuat penderitaan rakyat menjadi-jadi.

Di sisi lain, dunia internasional terenyak oleh publikasi sebuah buku berjudul “Max Havelaar”  yang ditulis oleh pejabat kolonial muda bernama Eduard Douwes Dekker yang menggunakan nama samaran Multatuli. Dalam buku itu terungkap,  bagaimana sikap semena-mena pemerintah Belanda yang eksploitatif lewat Kultuurstelsel atau tanam paksa bagi warga Indonesia, khususnya di Lebak, Banten.

Peristiwa-peristiwa tersebut turut melatarbelakangi pecahnya peristiwa Revolusi Petani Banten, Senin pagi, 9 Juli 1888. Pelaku pemberontakan disebutkan dipimpin oleh para haji. Mereka terdiri dari 40 orang yang terpilih. Mereka mengenakan jubah putih. Sumpah dituntut dan ditawarkan. Semua peserta menyetujui secara tertulis untuk melakukan pembunuhan. Para petarung dipilih dan diajari tehnik-tehnik pencak silat dan dipersenjatai dengan hebat menggunakan pedang, tombak baru dan golok.

(BACA JUGA : Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (1))

Haji-haji berjubah putih dan berjanggut itu bisa disebut di antaranya, Haji Abdurahman, Haji Akib, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qashir, dan Haji Ismail. (lihat laman www.wikipedia.org)

Dalam rubrik Historia kali ini, redaksi Banten Hits.com akan mengulas peristiwa yang melatarbelakangi pecahnya Revolusi Banten atau yang disebut Geger Cilegon. Tulisan bersumber dari buku “Krakatoa” yang ditulis Simon Winchester, serta bahan lainnya yang didapat lewat pencarian di internet. Tulisan berikut ini adalah tulisan kedua dari rangkaian tulisan yang kami sajikan secara bersambung.
   
Jauh sebelum Revolusi Banten meletus—persisnya lima tahun sebelumnya atau hanya berselang satu minggu setelah Karakatau meletus—dua peristiwa penyerangan terhadap warga Belanda dilakukan pria berjanggut dan berjubah putih.

Pelaku penyerangan berhasil ditangkap dan ditanyai oleh militer Belanda. Para penyidik militer dibuat pusing dengan jawaban dari penyerang. Akhirnya mereka membuat laporan bahwa motif penyerangan tersebut adalah kasus yang tak dapat dijelaskan berkenaan dengan “ketaatan religius yang ekstrem”. (BACA JUGA : Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (1))

Fakta tersebut menunjukkan, pada masa itu kelompok fundamentalis yang antiasing dan antikafir telah lahir di Banten.  Simon Winchester menyebut, pada abad ke-16, di Banten Islam benar-benar tersebar luas. Bahkan, Jawa Barat dan Banten mendapat reputasi sebagai pemeluk Islam yang lebih tekun, lebih spiritual, dan lebih fundamentalis.
 
Sebuah catatan pemerintah Belanda periode tahun 1850 – 1880 mengemukakan, lebih banyak orang Banten dan suku Sunda yang melakukan kewajiban ibadah haji ke Mekah dibandingkan suku lain di Jawa.

Catatan itu menyebutkan, tahun 1850 ada 1.600 orang melakukan ibadah haji. Lalu tahun 1870 meningkat menjadi 2.600 orang dan pada tahun 1880 mencapai 4.600 orang berangkat menjalankan ibadah haji menggunakan kapal laut.

Tingginya jumlah orang Banten dan Jawa Barat yang melakukan ibadah haji saat itu, sempat membuat Belanda khawatir. Meski demikian, mereka juga tak mungkin untuk melakukan pelarangan terhadap kegiatan itu.

Belanda mengkhawatirkan, semakin lama peziarah tinggal di Arab, maka mereka akan semakin terpengaruh orang Arab dan saat kembali ke tempatnya, mereka semakin membenci Belanda. Terlebih, Snouck Hurgronje, pakar Belanda terkemuka dalam masalah Islam saat itu menyebutkan, “Mekah hanyalah tempat untuk mengembangkan fanatisme religius.”

Perkembangan Islam yang kuat saat itu dan peristiwa letusan Gunung Krakatau—menurut Simon Winchester—adalah sebuah kebetulan dalam sejarah yang terlalu menarik untuk diabaikan begitu saja.

Biasanya, kasus munculnya gerakan politis atau religius—seperti juga dalam peristiwa Revolusi Banten—adalah karena seorang figur pemimpin yang kharismatik, atau ketua suku, atau keduanya, sehingga menjadi personalitas yang bisa diidentifikasi dari gerakan tersebut.

Hal semacam itu terjadi di Jawa Barat (Banten), dengan keberadaan Haji Abdul Karim, seorang Jawa Mistik yang dihormati. Haji Abdul Karim ajarannya memerankan peran yang tidak kecil dalam pemberontakkan di Banten. Dia hidup di pertengahan tahun 1870 dan merupakan pemimpin gerakan sufi yang sangat kuat.  Gerakan tersebut dikelolanya bersama sejumlah imam bawahannya dari markas besar mereka di kota Banten… 

Facebook

Trending