Connect with us

BABAD BANTEN

Haji Abdul Karim; “Sang Mahdi” Pemantik Revolusi di Banten

Published

on

 

Munculnya gerakan politis atau religius—seperti juga dalam peristiwa Revolusi Banten—adalah karena seorang figur pemimpin yang kharismatik, atau ketua suku, atau keduanya, sehingga menjadi personalitas yang bisa diidentifikasi dari gerakan tersebut.

Hal semacam itu terjadi di Jawa Barat (Banten), dengan keberadaan Haji Abdul Karim, seorang Jawa Mistik yang dihormati. Haji Abdul Karim ajarannya memerankan peran yang tidak kecil dalam pemberontakkan di Banten. Dia hidup di pertengahan tahun 1870 dan merupakan pemimpin gerakan sufi yang sangat kuat.  Gerakan tersebut dikelolanya bersama sejumlah imam bawahannya dari markas besar mereka di kota Banten.

(BACA JUGA: Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (2))

Peristiwa Revolusi Petani Banten terjadi pada Senin pagi, 9 Juli 1888. Peristiwa tersebut dilatari dua hal. Pertama, dampak letusan Gunung Karakatau di Selat Sunda (23 Agustus 1883) menimbulkan gelombang laut yang menghancurkan Anyer, Merak, Caringin, Sirih, Pasauran, Tajur, dan Carita. Selain itu musibah kelaparan, penyakit sampar (pes), penyakit binatang ternak (kuku kerbau) membuat penderitaan rakyat menjadi-jadi.

Kedua, dunia internasional terenyak oleh publikasi sebuah buku berjudul “Max Havelaar”  yang ditulis oleh pejabat kolonial muda bernama Eduard Douwes Dekker yang menggunakan nama samaran Multatuli. Dalam buku itu terungkap,  bagaimana sikap semena-mena pemerintah Belanda yang eksploitatif lewat Kultuurstelsel atau tanam paksa bagi warga Indonesia, khususnya di Lebak, Banten.

(BACA JUGA : Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (1))

Kedua peristiwa yang menjadi pemicu pecahnya Revolusi di Banten tak bisa lepas dari pengaruh Haji Abdul Karim. Dalam rubrik Historia kali ini, redaksi Banten Hits.com akan mengulas sosok Haji Abdul Karim dan peranannya dalam Revolusi di Banten.

Seluruh tulisan bersumber pada buku “Krakatoa” yang ditulis Simon Winchester, serta bahan lainnya yang didapat lewat pencarian di internet. Tulisan berikut ini merupakan sambungan dari dua tulisan sebelumnya yang dipublish berseri ( Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (1) dan Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (2)).

Abdul Karim memulai pendidikan Islamnya cukup awal. Dia telah pergi ke Mekah saat masih anak-anak. Saat remaja, dia telah bisa berbicara dan membaca bahasa Arab dengan lancar. Dia adalah pakar teologi Islam.

Dia kembali ke tanah kelahirannya pada umur akhir 20-an. Atas saran gurunya di Mekah, dia menjadi seorang yang bisa melihat nasib dan menjadi pembawa pesan Allah. Suatu peran yang membuatnya menjadi orang terhormat dalam masyarakat Jawa.

Dia mendapatkan kesulitan dengan otoritas Belanda karena melanggar ketentuan paspor, sehingga telah dianggap sebagai momok oleh orang-orang kafir itu, sebagai duri dalam daging imperialisme.

Pada akhir tahun 1870-an, rumahnya telah menjadi tempat peziarahan bagi puluhan ribu orang Banten dan Sunda yang fanatik yang datang setiap hari untuk mendapatkan berkat atau beberapa patah kata dari orang luar biasa ini. Dia sendiri dibanjiri dengan sedekah. Residen Belanda sendiri saat itu datang datang berkunjung karena sadar akan kekuatan Abdul Karim.

Pada awalnya, pesan yang diberikan wali Allah kepada pengikutnya ini yang semakin berkembang adalah suatu ajakan untuk hidup taat, ortodoks, dan perlunya bersikap prihatin. Tapi, saat jumlah pengikutnya berkembang, pesannya pun berubah drastis. Meskipun  tidak jelas apakah pesan tersebut adalah pesanan dari Mekah atau inisiatif Abdul Karim sendiri.

Versi yang berubah ini tentu saja membuat Belanda lebih waspada. Bagi Belanda yang memegang tampuk kekuasaan, tentu saja hal tersebut merupakan hal yang tak menyenangkan.

Seiring berjalannya waktu, Abdul Karim juga semakin sibuk berceramah mengenai hal-hal yang menjadi ketakutan otoritas di bagian dunia lain juga, yaitu bahwa Mahdi, figur penyelamat yang akan datang untuk menyelamatkan dunia dari kesesatan dalam hari-hari terakhir akan segera tiba.

Dalam pernyataan tersebut muncullah kunci terakhir. Mata rantai yang menghubungkan dua hal yang sepertinya tak terhubung; di satu sisi ada sebuah letusan gunung berapi dan di sisi lain gerakan untuk perubahan politik. Prediksi ini dibuat oleh penganut ilmu kebatinan Islam yang kharismatik tersebut dan diterima begitu saja oleh pengikutnya, bahwa sang Mahdi akan segera datang ternyata terhubung dekat dengan letusan tahun 1883 itu.

Hal ini jadi begitu terhubung karena versi ajaran Islam yang berhubungan dengan Mahdi dan perang sahid melawan para kakfir yang mengarah ke kedatangan sang Mahdi selalu disertai dengan sejumlah tanda-tanda yang jelas. Ada wabah penyakit yang melanda ternak. Ada air bah menerjang. Ada hujan sewarna darah. Gunung-gunung berapi akan meletus dan orang-orang akan mati. Semua hal itu terjadi, tepat seperti yang diramalkan oleh Abdul Karim.

Berdasarkan kejadian alam tersebut semua orang yakin bahwa itu merupakan petunjuk hari kiamat telah ada di depan mata. Sang Mahdi pun akan segera tiba dan perang sahid terhadap para kafir akan segera dimulai. Tak mengherankan jika kemudian muncul penyerangan terhadap dua orang tentara Belanda yang dilakukan oleh pria berpakaian putih-putih yang berperilaku seperti martir…

 

 

 

Trending