Connect with us

BABAD BANTEN

Gunung Pulasari; Kunci Penaklukkan Banten Girang oleh Sunan Gunung Jati

Published

on

Gunung Pulasari dan Banten Girang adalah dua titik sentral dalam kronik sejarah Banten. Beragam penemuan benda bersejarah yang berasal dari zaman relatif kuno membuktikan, di tempat ini telah berdiri kerajaan sebelum Islam.

Dalam rubrik Babad Banten kali ini, redaksi Banten Hits akan mengulas mengenai hubungan Gunung Pulasari dengan Banten Girang yang masa itu adalah sebuah kerajaan. Seluruh tulisan bersumber dari buku “Banten; Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII” yang ditulis Claude Guillot dilengkapi dengan berbagai informasi di situs www.wikipedia.org/wiki/Banten.

Gunung Pulasari adalah gunung berapi yang terletak di Kabupaten Pandeglang. Walaupun tidak ada data letusan yang pernah terjadi, tapi terdapat aktivitas fumarol yang terjadi di dinding kaldera dengan kedalaman 300 meter.

Syahdan, di tempat ini bermukim seorang penguasa bernama Pucuk Umun, yang tak lain adalah Raga Mulya yang merupakan raja terakhir Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran. Nama ini dalam naskah Wangsakerta disebut juga sebagai Prabu Suryakancana, sedangkan dalam Carita Parahiyangan dikenal dengan nama Nusya Mulya.

Prabu Suryakancana tidak berkedudukan di Pajajaran, tetapi di Pulasari, Pandeglang. Oleh karena itu, ia dikenal pula sebagai Pucuk Umun (Panembahan) Pulasari (mungkin raja ini berkedudukan di Kaduhejo, Kecamatan Menes pada lereng Gunung Pulasari).

Dalam buku “Banten; Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII”, Claude Guillot tak menceritakan soal Pucuk Umun. Guillot hanya menjelaskan pembuatan candi Siwa bergaya Jawa di atas gunung keramat Pulasari berbarengan dengan pembangunan komplek istana Banten Girang

Menurut Guillot, kebersamaan waktu antara pendirian komplek istana Banten Girang dengan pembangunan candi Siwa di Pulasari pada abak ke-10 dengan gaya Jawa, membawa hipotesis hubungan Banten Girang dengan Pulasari. 

“Dengan demikian kota (Banten Girang) ini merupakan ibu kota sebuah negara pesisir yang didirikan pada abad tersebut dan kemungkinan besar oleh orang Jawa asal Jawa Tengah,” tulis Guillot.

Candi Siwa yang dibangun di Pulasari, dapat dilihat jejaknya dari penemuan sejumlah arca yang dikenal dengan Arca Caringin yang saat ini berada di Museum Nasional di Jakarta. Arca-arca tersebut, sebelumnya diangkut oleh asisten residen Belanda dari dekat kawah Gunung Pulasari.

Arca Caringin terdiri dari lima arca yang menggambarkan Siwa Mahadewa, Durga, Betara Guru, Ganesa, dan Brahma. 

Tahun 1850 seorang ilmuwan bernama Friederich yang melakukan penelitian terhadap Arca Caringin, menyimpulkan bahwa arca-arca tersebut bukanlah peninggalan kerajaan Pajajaran, bukan pula peninggalan kerajaan Majapahit, melainkan berasal dari zaman yang relatif kuno sebelum Pajajaran.

Guillot sampai pada sebuah kesimpulan, setelah jatuhnya Kerajaan Jawa Tengah sekitar tahun 930 M, para elitnya kebanyakan pindah ke Jawa Timur, tetapi sekelompok kecil, mungkin yang berasal dari Sunda di Jawa Tengah, dengan alasan yang tak diketahui, memilih untuk pergi ke Jawa Barat yang saat itu berada dalam kekuasaan Sriwijaya.

Di bawah kekuasaan Sriwijaya, pada tahun 932 mereka mendirikan kerajaan yang tunduk pada Sriwijaya. Kerajaan itu dinamakan Kerajaan Sunda, tepat di wilayah Kerajaan Tarumanegara yang punah lebih dari dua setengah abad sebelumnya.

Dalam laman www.wikipedia.org disebutkan, Tarumanegara pada abad ke-5 menguasai Banten. Salah satu prasasti peninggalan Tarumanegara adalah Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Lebak, yang ditemukan di Kampung Lebak, di tepi Ci Danghiyang, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang.

Para pendiri Kerajaan Sunda ini, membawa serta kebudayaan serta kepercayaan di tempat asal mereka. Bersamaan dengan didirikannya ibu kota di Banten Girang, mereka membangun sebuah candi Siwa di atas Gunung Pulasari dengan gaya daerah yang baru saja mereka tinggalkan. 

Yang menarik dari hasil penggalian fakta sejarah di atas adalah soal Gunung Pulasari yang menjadi pusat perkembangan agama saat itu, baik berdasarkan penemuan arca Caringin, maupun penemuan Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Lebak.

Karena Pulasari merupakan titik sentral religi, itulah kenapa Sunan Gunung Jati dan anaknya Hasanudin menjadikan Gunung Pulasari saebagai tujuan utama perjalanan mereka sesaat setelah mampir di Pelabuhan Banten.

Disebutkan dalam Sajarah Banten seperti dikutip Guillot, Gunung Pulasari merupakan gunung keramat kerajaan Banten Girang, sehingga penting bagi mereka untuk menaklukkannya secara batin negeri yang mereka incar sebelum merebutnya secara militer.

Hal itu terbukti setelah di penghujung tahun 1526, dengan bantuan dari dalam oleh Sunan Gunung Jati, putranya Hasanudin dan terutama Ki Jongjo, salah seorang petinggi kota yang menjadi mualaf dan memihak kepada kaum Islam, pasukan Demak merebut pelabuhan Banten kemudian ibu kota Banten Girang. 

Pemimpin kota ini yang dinamakan “Sanghyang” oleh penyusun sejarah Portugis Barros, baru saja meninggal dan mungkin peristiwa inilah penyebab melemahnya perlawanan militer.

Dinasti Islam menempati Banten Girang, yang tetap menjadi negara bagian dan jatuh kembali ke dalam kekuasaan Jawa. Demak mengangkat Hasanudin sebagai pemimpin. Ia memerintah selama beberapa tahun di Banten Girang sebelum ayahnya, yaitu Sunan Gunung Jati, memerintahkannya untuk memindahkan istana ke pelabuhan Banten.

Situs Banten Girang tidak benar-benar ditinggalkan dan bekas istana kemudian digunakan sebagai pesanggrahan bagi para penguasa Islam, paling tidak sampai di penghujung abad ke-17.

Laman www.wikipedia.org secara eksplisit menyebutkan, Banten Girang direbut oleh Hasanudin dari Pucuk Umun, yang tak lain adalah Raga Mulya yang merupakan raja terakhir Kerajaan Sunda seperti yang sudah dijelaskan di bagian awal….. 

 

Trending