Connect with us

BABAD BANTEN

Perang-perang di Banten Girang dan Pengaruhnya

Published

on

Jauh sebelum Islam mendirikan kesultanan di Banten, kerajaan dengan corak Hindu telah lebih dulu berkuasa di tanah para jawara. Ini dibuktikan dengan sejumlah penemuan berupa arca dan prasasti di wilayah Banten seperti Arca Caringin yang ditemukan di dekat kawah Gunung Pulosari, serta Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Lebak, yang ditemukan di Kampung Lebak, di tepi Ci Danghiyang, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang.

Banten Girang dan Gunung Pulosari merupakan dua titik sentral dalam kronik sejarah Banten. Bahkan, Gunung Pulasari merupakan gunung keramat kerajaan Banten Girang, sehingga penting bagi Sunan Gunung Jati dan anaknya Hasanudin untuk menaklukkannya secara batin negeri yang mereka incar sebelum merebutnya secara militer.

(BACA JUGA : Gunung Pulasari; Kunci Penaklukkan Banten Girang oleh Sunan Gunung Jati)

Dalam Rubrik Babad Banten kali ini, Banten Hits akan mengulas perang-perang perebutan kekuasaan di Banten Girang. Seluruh tulisan bersumber dari buku, “Banten Sebelum Zaman Islam; Kajian Arkeologi di Banten Girang 932? – 1526” yang disusun Claude Guillot, Lukman Nurhakim, dan Sonny Wibisono. Selain itu, buku lainnya yang dijadikan sumber adalah, “Banten; Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII” yang ditulis Claude Guillot.

Menurut Guillot, setelah jatuhnya Kerajaan Jawa Tengah sekitar tahun 930 M, para elitnya kebanyakan pindah ke Jawa Timur. Tetapi sekelompok kecil, mungkin yang berasal dari Sunda di Jawa Tengah, dengan alasan yang tak diketahui, memilih untuk pergi ke Jawa Barat yang saat itu berada dalam kekuasaan Sriwijaya.

Di bawah kekuasaan Sriwijaya, pada tahun 932 mereka mendirikan sebuah kerajaan yang tunduk pada Sriwijaya. Kerajaan itu dinamakan Kerajaan Sunda, tepat di wilayah Kerajaan Tarumanegara yang punah lebih dari dua setengah abad sebelumnya. Mereka membawa serta kebudayaan dan kepercayaan mereka.

Bersamaan dengan didirikannya pusat ibu kota kerajaan di Banten Girang, mereka membangun sebuah candi Siwa di atas Gunung Pulosari. Candi ini bergaya daerah yang baru saja mereka tinggalakan.

Sekitar 60 tahun kemudian sekitar tahun 992-3, mereka memberontak terhadap atasannya Sriwijaya. Mereka juga turut dalam serangan-serangan Jawa terhadap Kerajaan Sriwijaya yang berakhir dengan digabungkannya daerah Wai Semngka di daerah barat Sumatera.

Dengan demikian, Selat Sunda dikuasai oleh orang Jawa. Namun, Sriwijaya memukul balik tahun 1016 dengan merampok ibukota kerajaan Jawa. Kemungkinan besar, Kerajaan Sunda juga terkena tindakan pembalasan antara tahun 1016 dan 1030 ini.

Akibat perang pembalasan ini, raja Jawa terpaksa mengungsi ke pegunungan yang sukar dilalui di daerah selatan Jawa Barat. Jayabupati, sang raja atau pewaris takhta, mencoba sesaat dan mungkin dengan restu airlangga, mendirikan kembali kerajaan Sunda. 

Di penghujung tahun 1526, dengan bantuan dari dalam oleh Sunan Gunung Jati, putranya Hasanudin dan terutama Ki Jongjo, salah seorang petinggi kota yang menjadi mualaf dan memihak kepada kaum Islam, pasukan Demak merebut pelabuhan Banten kemudian ibu kota Banten Girang. 

Meski Sunan Gunung Jati dan Hasanudin telah berhasil merebut Banten Girang, namun Situs Banten Girang tidak benar-benar ditinggalkan dan bekas istana kemudian digunakan sebagai pesanggrahan bagi para penguasa Islam, paling tidak sampai di penghujung abad ke-17.

Saat perang meletus di Banten tahun 1682, negeri ini dilanda kemelut yang luar biasa. Sultan Haji yang menjadi sultan muda Banten terlibat perselisihan dengan ayahnya sendiri Sultan Ageng Tirtayasa.

Saat itu, Sultan Haji yang terpojok secara politik  dan fisik menetap di istana Banten, sementara Sultan Ageng tinggal di Tirtayasa dan beberapa anggota keluarga raja yakni ibu suri Ratu Putra bersama tiga orang putranya pindah ke Banten Girang.

Pada bulan Februari 1682 mereka mengabaikan perintah raja muda supaya datang menetap di istana Banten. Sejak saat itu, Banten Girang menjadi pusat perlawanan terhadap Sultan Haji dan orang Belanda yang datang mendukungnya secara militer.

Tidak lama setelah orang Belanda tiba di Banten, tujuh pangeran lain datang bergabung bersama ibu suri di Banten Girang. Disusul dua minggu kemudian saudara Sultan Haji, Pangeran Hyodya mengerahkan dua ribu pasukan di Banten Girang untuk pergi ke Caringin guna memukul dari belakang pasukan Belanda dan pengikut-pengikut Sultan Haji.

Setelah itu, Banten Girang diperintah oleh Pangeran Purbaya, pengikut Sultan Ageng yang paling setia. Bersama beberapa pangeran lain, ia merubah keraton lama itu menjadi kubu pertahanan.

Kini Banten Girang yang sudah menjadi situs sejarah tengah menghadapi “perang” yang tak kalah hebat melawan perkembangan zaman dan masifnya pembangunan hunian….

 

Trending