Connect with us

TEKNOLOGI

Pengguna Handphone di Lebak Capai 43,08 Persen, 0,36 Persennya Punya SIM Card Lebih Dari Tiga

Published

on

Lebak – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, penggunaan teknologi informasi di Kabupaten Lebak terbilang cukup tinggi. Hal tersebut dilihat dari jumlah penduduk yang mempunyai telepon seluler (handphone).

Jumlah penduduk berusia 5 tahun ke atas yang mempunyai handphone dalam 3 bulan terakhir menurut Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Lebak tahun 2016 yang dirilis BPS Kabupaten Lebak pada 31 Agustus 2017 adalah sebanyak 43,08 persen dengan persentase 53,28 persen pria dan 32,37 persen perempuan.

Dengan fitur dual SIM yang dimiliki pada banyak handphone dan smartphone, memungkinkan penggunanya menggunakan 2 SIM Card sekaligus dan mengaktifkannya secara bersamaan dalam satu handphone miliknya.

Sebanyak 14,27 persen dengan persentase 13,67 persen laki-laki dan 15,31 persen perempuan mempunyai 2 SIM Card. Kedua SIM Card tersebut berstatus aktif alias dapat dihubungi. Namun, sebanyak 85,37 persen pengguna handphone di Lebak memilih hanya memiliki 1 SIM Card saja. Persentasenya, 85.97 persen laki-laki dan 84,33 persen perempuan.

Di tengah ketatnya persaingan harga, tak sedikit handphone yang dibandrol dengan harga yang semakin terjangkau oleh masyarakat. Hal ini tentu saja memungkinkan masyarakat mempunyai lebih dari 1 unit handphone, yang dewasa ini selain menjadi kebutuhan juga menjadi gaya hidup masyarakat. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orangtua.

Memiliki lebih dari 1 handphone, secara otomatis akan mempengaruhi seseorang untuk memiliki jumlah SIM Card lebih dari 2 atau 3 buah SIM Card. Jumlah pengguna handphone di Lebak yang mempunyai SIM Card lebih dari 3 jumlahnya memang terbilang sedikit. Namun, persentase antara laki-laki dan perempuan yang memiliki lebih dari 3 SIM Card tercatat sama yakni 0,36 persen.

Dinda (27) salah satu warga Rangkasbitung saat berbincang dengan Banten Hits mengaku, memiliki 2 SIM Card karena memang sesuai dengan kebutuhan berkomunikasinya.

“Susah ya kalau sekarang cuma punya 1 kartu. Soalnya kan banyak teman dan keluarga yang nomor handphonenya beda operator. Bakal lebih mahal ya biaya komunikasinya. Apalagi, untuk keperluan usaha pasti kita harus menyesuaikan,” kata Dinda, Rabu (13/9/2017).

Dinda mengatakan, mulanya ia memang mempunyai 2 unit handphone yang kedua-duanya memang digunakan untuk berkomunikasi. Dua handphone tersebut dipasang dengan SIM Card yang berbeda operator. Lagi-lagi alasan Dinda adalah untuk menyesuaikan dengan nomor-nomor handphone keluarga maupun teman yang ada di dalam daftar kontak handphonennya.

“Dulu punya 3 kartu, ya beda-beda operator lah. Apalagi kan aku juga punya usaha, dan enggak semua nomor pelanggan sama operatornya makanya harus aku nyesuaikan,” ucapnya.

Dalam sebulan, alumni STIE La Tansa Mashiro ini merogoh kocek Rp120 – Rp150 ribu untuk pulsa telepon dan kuota internet.

“Kenapa punya 2 (handphone)? Soalnya kalau yang 1 lagi mati karena habis baterai, ada cadangannya. Sambil nunggu handphone yang 1 dicharger, aktivitas komunikasi dan internetan enggak terganggu,” kata perempuan yang punya usaha parfum refill ini.(Nda)

Trending