Connect with us

OPINI

Hegemoni Calon Tunggal dan Sepakbola Terjal

Published

on

Calon Tunggal di Pilkada

Andika Panduwinata

Berbagai hajatan besar dihelat di tahun 2018. Mulai dari Pilkada serentak, Asian Games, dan Piala Dunia. Bisa dibilang, tahun ini tahunnya politik dan sepakbola.

Hegemoni Pilkada bisa dianologikan dengan sepakbola. Terlebih dari unsur kompetisi, rival, fans, animo masyarakat, kemenangan, kekalahan, pengadil, dan juga fairplay. Adapula dalam segi taktik, susunan formasi, attacking, defending, counter attack, dan filosofi atau karakter permainan dari tim itu sendiri.

Pilkada serentak tahun ini digelar di 171 daerah di tanah air. Termasuk di Provinsi Banten yang dihelat di empat kabupaten/kota. Namun, tiga daerah di antaranya, Kota Tangerang , Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Lebak hanya diikuti calon tunggal. Pasangan Arief R. Wismansyah-Sachrudin di Kota Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar-Mad Romli di Kabupaten Tangerang dan Iti Octavia Jayabaya-Ade Sumardi yang maju untuk kembali memimpin Kabupaten Lebak.

Peluit sebagai tanda kick of dimulainya pertandingan sudah ditiup oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ketiga pasangan calon kepala daerah tersebut tak ada lawan. Seluruh partai politik berduyun-duyun mendukung petahana.

Memang sungguh hambar rasanya. Bila dibayangkan ini kompetisi sepakbola, penonton pun kecewa. Animo masyarakat yang sudah menanti-nanti pesta demokrasi ini mati rasa.

Jika pasangan ini diibaratkan dengan tim sepakbola, maka mereka menang WO. Arief-Sachrudin, Zaki-Romli dan Iti-Ade sudah memasuki gelanggang stadion. Diiringi oleh sang pengadil yakni KPU. Seluruh penonton di tribun stadion penuh sesak. Mereka menanti-nanti jalannya pertandingan akan segera dimulai.

Namun nyatanya, tim tersebut tak ada rival untuk bermain. Lantas apa yang didapat oleh para penonton yang hadir? Sudah kadung membeli tiket untuk menyaksikan pertandingan. Tiket ini bisa disinonimkan dengan pembayaran pajak masyarakat, yang anggarannya untuk penyelenggaraan Pilkada.

Berbeda jauh dengan kompetisi ketat dalam turnamen-turnamen sepakbola lainnya. Sang pemenang harus menempuh jalan terjal untuk membawa piala dan menyabet title juara. Penonton pun puas, dan tak memikirkan harga tiket yang selangit jika jalannya pertandingan memang berlangsung seru serta fairplay.

Dapat ditengok dalam perhelatan Piala Dunia 2014 kemarin. Der Panzer ke luar menjadi kampiun setelah susah payah menekuk Tim Tango di tanah Rio de Janeiro. Gol semata wayang Mario Gotze mengantarkan timnya merengkuh gelar juara dan menjadi sorotan seantero penduduk muka bumi ini.

Khalayak penonton pun terhibur. Terlebih banyak kejutan dalam perhelatan kompetisi tersebut. Sulit dibayangkan Jerman mencukur habis Tim Samba dengan skor 1-7 di babak semifinal. Padahal Neymar dan kawan-kawan diunggulkan menjadi juara, lantaran Brazil selaku tuan rumah.

Dalam kompetisi yang ketat, dapat melahirkan juara yang tangguh. Seperti tim besutan Joachim Low yang membusungkan dada dengan rasa bangga menjadi juara. Berbagai strategi, taktik, utak-atik formasi dimainkannya dengan apik. Sehingga mengantarkan Jerman sebagai kampiun Piala Dunia kemarin.

Kembali lagi dalam Pilkada yang hanya calon tunggal, lalu bagaimana keseruannya? Apa rasanya jika menjadi pemenang tanpa lawan? Tingkat adrenalin fans tanpa rival pendukung? Dan KPU meniup peluit panjang pertanda Pilkada telah usai sebab tidak ada pertandingan. Serta calon tunggal dinyatakan menang tanpa jerih payah dan berkeringatan di lapangan.

Penulis adalah Pemerhati Budaya Unpad, Andika Panduwinata.

Facebook

Trending