Connect with us

GAYA HIDUP

Kampung Hompimpa; Rangkul Generasi Milenial dengan Permainan Tradisional

Published

on

Anggota komunitas Kampoeng Hompimpa bermain permainan tradisional.(Banten Hits/ Yogi Triandono)

Digitalisasi–sama halnya dengan modernisasi sebagai induk semangnya–pada akhirnya selalu seperti dua mata pisau. Satu sisi, atas nama perkembangan peradaban adalah keniscayaan, pada sisi lain adalah ancaman. Pada sisi terakhir, kita bisa melihat bagaimana anak-anak yang disebut generasi milenial tercerabut dari kehidupan sosialnya.

Anak zaman now juga cenderung introvert akibat ketergantungan terhadap teknologi digital. Interaksi antar-sesama semakin berkurang, bahkan cenderung hilang diganti interaksi maya melalui gawai sebagai sarana utama era digitalisasi ini.

Fenomena semacam ini telah melahirkan kecemasan, terutama para orangtua dan pegiat sosial yang peduli dengan tumbuh kembang fisik dan psikologis anak. Kampung Hompipa adalah salah satunya.

Komunitas yang dinahkodai Muslih ini didirikan untuk memperkenalkan serta mengedukasi masyarakat, terutama generasi milenial tentang permainan tradisional. Relawan Kampung Hompimpa yakin, dalam permainan tradisional terkandung interaksi sosial yang tinggi. Nilai inilah yang diharapkan menjadi penawar candu digitalisasi.

“Kita berangkat dari masalah anak-anak yang sudah terlena dengan dunia gadget. Hal tersebut menjadi sebuah masalah karena menjadi kurang interaksi dengan orang-orang di sekitarnya,” kata Muslih, Founder Kampoeng Hompimpa dalam perbincangan dengan wartawan Banten Hits Yogi Triandono.

Menurut Muslih, banyak sekali permainan tradisional yang dapat dipetik faedahnya. Hal ini membuktikan bahwa permainan tradisional tidak hanya untuk hiburan, melainkan juga untuk mengedukasi masyarakat dibandingkan dengan permainan-permainan modern lainnya.

“Banyak nilai kehidupan yang dapat kita petik dari permainan tradisional. Contohnya congklak. Permainan ini mengajarkan kita menabung dan berbagi. Lubangnya ada tujuh (pada permainan papan congklak) menandakan ada tujuh hari atau yang dimaksud setiap hari. Jadi kita diajarkan untuk menabung dan saling berbagi setiap hari,” jelas Muslih.

Meskipun mulai tenggelam di telan zaman, Muslih menilai, permainan tradisional tidak akan terhempas modernisasi. Hal ini dibuktikan bahwa masih banyak masyarakat yang tertarik dengan permainan tradisional seperti gasing, egrang, grobak sodor dan lain sebagainya.

Jika diperkenalkan dengan baik dan benar serta diberi wawasan edukasi kepada masyarakat, Muslih yakin, permainan tradisional dapat menjadi alternatif hiburan di antara permainan-permainan digital yang sudah ada.

“Walaupun mulai tenggelam, bukan berarti tidak ada yang tertarik. Banyak orang tua yang nostalgia dengan permainan tradisional dan di sisi lain banyak juga anak-anak yang penasaran dengan permainan tradisional yang kita bawa. Tentunya rasa penasaran tersebut kami beri penjelasan mengenai filosofi dari permainan tradisional tersebut dan anak-anak tertarik. Jadi ada kemungkinan permainan tradisional bisa bangkit kembali jika terus diperkenalkan generasi milenial,” tutur Muslih.

Bagi kalian yang ingin menikmati serunya permainan tradisional bersama komunitas Kampoeng Hompimpa. Kalian bisa datang ke acara car free day di sekitar Summarecon Digital Center setiap Minggu. Selain itu Komunitas Kampoeng Hompimpa juga datang ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan serta mengedukasi betapa menariknya permainan tradisional kepada masyarakat.(Darussalam Jagad Syahdana)

Trending