Connect with us

PERSONA

Dunia Yans Wiradinata; Maha Karya, Petaka dan Rumah Sewa

Published

on

Pencipta Mars Tangerang, Yans Wiradinata bersama Istrinya, Sri Hartini di rumah kontrakan di kawasan Sepatan.(Banten Hits/ Yogi Triandono)

Langit Kabupaten Tangerang hari itu tak kunjung terang. Pagi sudah mulai pergi berganti siang, tapi hujan semalam masih menyisakan basah di jalan, pepohonan dan atap rumah.

Di dalam rumah kontrakan, di sebuah komplek perumahan sederhana di Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, jari-jari Yans Wiradinata lincah menari di atas tuts organ elektrik miliknya.

Memainkan alat musik kesayangan, bagi Yans adalah jeda sejenak dari alur hidup yang tak pernah bergerak linear; kadang landai, kadang melompat-lompat, menanjak, atau bahkan menurun drastis. Musik membuat energi Yans kembali muda. Terlebih jika dia tengah menyanyikan lagu-lagu hasil ciptaannya.

Bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan atau seni, lelaki 70 tahun yang lahir dengan nama lengkap Iyan Sofyan Syah Wiradinata adalah “guru besar”. Banyak anak didik Yans kini telah sukses menjadi guru, bahkan menempati posisi strategis di pemerintahan, seperti kepala dinas pendidikan.

Di depan organ kesayangannya, didampingi Sri Hartini sang isteri tercinta, kepada wartawan Banten Hits Yogi Triandono, Yan menceritakan sebuah peristiwa penting pada 1987 silam. Kala itu, Kabupaten Tangerang di bawah kepemimpinan Bupati Tadjus Sobirin.

Yans Wiradinata (kanan) saat menyerahkan part Lagu Mars Tangerang Satya Karya Kerta Raharja kepada Bupati Tangerang Tadjus Sobirin.(Dok.Yan Wiradinata)

Sang bupati merasa, daerah yang terbentuk pada 1943 ini penting memiliki identitas, salah satunya mars daerah. Karenanya, diadakanlah perlombaan membuat Mars Tangerang bagi masyarakat umum. Lomba ini disambut antusias dengan banyaknya pendaftar, salah satunya Iyan Sofyan Syah Wiradinata.

Pada saat lomba digelar tahun 1987, Pak Iyan–begitu ia akrab disapa–merupakan seorang guru seni musik di Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Dia mengajukan dua karya pada lomba tersebut. Kecintaannya terhadap musiklah yang membuatnya berani untuk mengikuti lomba.

“Saat itu, ada 16 Karya dari peserta lomba. Dua di antaranya milik saya. Waktu itu saya sempat mau mengajukan tiga, karena aturannya diperbolehkan, tapi tidak diterima tidak tahu kenapa,” kata Iyan, Senin (22/1/2018).

Dari lomba membuat Mars Tangerang inilah, nama Yans Wiradinata mulai terukir dalam sejarah. Juri lomba memutuskan, karya Yans menjadi pemenang dalam lomba tersebut.

“Ketika mau diumumkan, ada panitia datang ke saya. Dia bilang, karya saya dua-duanya menang juara 1 dan 2. (Sementara karya peserta) yang lainnya enggak memenuhi syarat. Malahan yang juara tiga itu saya yang diminta revisi supaya bisa memenuhi syarat,” ujarnya.

Saat akan dilakukan pengumuman, pihak panitia meminta lagu yang menjadi pemenang tersebut ditampilkan di depan Bupati Tangerang Tadjus Sobirin yang terkagum-kagum dengan lagu dan penampilan putra-putri SPG yang dilatih langsung RN Sutarmas, yang saat itu menjadi juri tingkat nasional pada lomba membuat Mars Tangerang.

“Setelah ditampilkan, pak bupati itu seneng. Kagum dengan penampilan Mars Kabupaten Tangerang itu. Beliau sampai nanya kamu mau apa? Bilang sama saya. Waktu itu kan uang sangat berharga ya. Jadi saya cuma minta untuk guru-guru makan-makan aja biar senang. Dikasihlah Rp 360.000,” ujarnya.

Mars dan Hymne Tangerang Satya Karya Kerta Raharja saat dinyanyikan putra-putri SPG asuhan RN Sutarmas di Lapangan Ahmad Yani.(Dok. Yans Wiradinata)

Untuk melengkapi Mars Tangerang, maka dibuatlah lagu Hymne Tangerang sebagai persembahan khusus dari RN. Sutarmas.

Bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan Bupati Tangerang Tadjus Sobirin, melalui persetujuan DPRD Kabupaten Tangerang lagu Mars dan Hymne Tangerang Satya Karya Kerta Raharja dibuatkan Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 7 Tahun 1991.

Setelah di-perda-kan, maka resmilah Mars dan Hymne Tangerang Satya Karya Kerta Raharja menjadi milik dan karya intelektual Pemerintah Kabupaten Tangerang.

Ketika Tangerang terpisah menjadi kabupaten dan kota, mars dan hymne tersebut secara otomatis “diboyong” ke Kabupaten Tangerang. Untuk melengkapi identitas Kota Tangerang yang baru terbentuk, Pemerintah Kota Tangerang melalui yang kala itu dipimpin M. Thamrin meminta Yans membuatkan mars dan hymne untuk Kota Tangerang.

“Malah (setelah mars dan hymne jadi) ada not yang janggal (M.Thamrin) minta dibetulkan,” ucapnya.

Sekretaris Daerah Kota Tangerang kala itu Wahidin Halim, turut mendukung karya Yans dengan memberikan dana untuk pembuatan 100 compact disc (CD) Mars dan Hymne Kota Tangerang.

“Mars dan Hymne Kota Tangerang disajikan di Aula Pemkot Tangerang kepada Wali Kota Tangerang M. Thamrin. Kelompok paduan suaranya guru-guru dari Yayasan Slamet Riyadi yang dilatih Pak Syafrial, guru SMAN 8 Kota Tangerang,” terang Yans.

Pria lulusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Padjajaran ini tak pernah menuntut apapun dari pemerintah. Ia merasa cukup dengan uang pensiunan yang diterimanya setiap bulan berkat pengabdiannya menjadi guru.

Puluhan tahun telah berlalu sejak proses penciptaan maha karya Yans. Hymne dan Mars Tangerang Satya Karya Kerta Raharja selalu dikumandangkan dalam setiap acara-acara resmi pemerintahan. Begitu juga dengan mars dan hymne Kota Tangerang.

Karya-karya Yans Wiradinata terus bergema dari waktu ke waktu, namun keadaan sebaliknya justru dialami penciptanya. Kehidupan Yans seolah temaram. Sebuah petaka menimpa keluarganya. Yans harus kehilangan rumah dan kendaraan miliknya setelah anaknya yang melakoni bisnis properti tertipu miliaran rupiah.

“Selama ini saya enggak pernah meminta apapun kepada pemerintah, baik royalti atau apapun. Tapi musibah kan enggak pernah tahu. Saya jual rumah di Cimone, padahal rumah itu biaya bangunnya pake uang pensiunan. Saya juga jual mobil. Semua harta benda (dijual), sampai harus mengontrak di sini,” ujarnya.

Bahkan, untuk sekadar menutupi biaya sewa rumah sebesar Rp 700.000 setiap bulannya, Yans harus meminta bantuan kepada saudaranya. Sementara untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, ia melakukan apa saja agar dapat membeli beras.

“Istri saya jualan apa saja. Dulu pernah jualan lontong sayur di SMPN 5 Kota Tangerang, tempat dia ngajar dulu. Karena sekarang udah makin tua, enggak bisa setiap hari mondar mandir akhirnya jualan sprei. Yang penting bisa untuk makan sehari-hari,” ujarnya.

Rumah sewa dengan berbagai macam keterbatasan, tak membuat pria kelahiran Bandung berhenti berkarya. Di atas meja kayu sederhana yang ia buat sendiri, Yans masih setia menuliskan karya. Ia bahkan mengaku masih semangat membuat lagu anak-anak lantaran prihatin dengan kemiskinan lagu anak-anak di era globalisasi ini.

“Kalau ada yang mau diciptakan lagu, apalagi anak-anak. Banyak stok saya. Selama pensiun saya senang menulis. Enggak bisa diam, karena kalau diam kan katanya bisa struk ya,” ucapnya.

“Saya cuma teringat akan pencipta lagu Indonesia Raya, yang setiap saat, di sekolah, di acara formal maupun informal, di kantor pemerintahan, acara kenegaraan selalu dikumandangkan lagunya, yaitu Wage Rudolf Supratman. Tempat meninggalnya di rumah kontrakan, bahkan tidak ada yang tahu dan mengenalnya. Apakah memang harus begitu nasib para seniman?” terang Yans.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − four =

Trending