Connect with us

METROPOLITAN

RAPI Terus Perbaiki Kualitas Komunikasi Radio Tanggap Darurat Bencana

Published

on

RAPI Komunikasi Radio Tanggap Bencana

Foto: Istimewa

Lebak – Bencana dan kedaruratan yang terjadi di Kabupaten Lebak menuntut kualitas mitigasi yang baik. Berkaca pada lambatnya bantuan ke sejumlah titik yang terdampak gempa 6,1 SR di wilayah Lebak selatan, maka diperlukan penanganan di bidang informasi bencana dan kedaruratan.

Ketua Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Lokal 01 Cimadur, Wilayah 03 Lebak, Daerah 30 Banten, Wildan Hidayatullah mengatakan, RAPI bisa meminimalisir skenario terburuk bencana alam, setidaknya mencegah timbulnya korban jiwa.

Kualitas komunikasi radio di Selatan terus diperbaiki agar mampu menjangkau seluruh wilayah di Kabupaten Lebak. Namun, ada beberapa kendala yang masih dihadapi.

“Antarlokal petugas posko bantuan komunikasi dan anggota yang survei ke lapangan sulit terhubung akibat provokasi gunung, belum bisa menembus ke Rangkasbitung sebagai induk pelaporan dan permintaan bantuan. Penggunaan handphone sangat sulit karena di beberapa lokasi blankspot dan akomodasi pulsa yang menjadi beban berat,” papar Wildan, Senin (29/1/2018).

Wildan mengatakan, Radio Pancar Ulang (repeater) yang mampu meneruskan infomasi ke ibukota kabupaten masih menjadi PR besar mengingat biaya pembangunan yang dibutuhkan tidak sedikit.

“Mudah-mudahan ada perhatian dari pihak mana saja,” harapnya.

RAPI berharap, masyarakat bisa mensosialisasikan penggunaan perangkat radio di kantor kecamatan dan desa dalam memperkuat upaya kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat, bantuan dan rehabilitasi sosial bagi korban bencana.

Sesaat setelah gempa yang terjadi pada Selasa (23/1), RAPI yang bersinergi dengan Tagana langsung melibatkan seluruh anggota untuk membantu masyarakat yang terdampak.

“Membentuk posko-posko bantuan komunikasi (bankom) dan menyebar anggota ke lokasi-lokasi yang terdampak,” ujarnya.

Tokoh Kesepuhan Bayah, Anis Faisal Reza menjelaskan, secara umum terdapat banyak potensi bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Gempa, longsor, puting beliung, rob, bahkan tsunami.
Belum lagi potensi konflik sosial sebagai dampak dimulainya transformasi Lebak selatan menjadi daerah industri. Kondisi geografis yang bergunung-gunung dan tersebarnya penduduk di lokasi-lokasi yang jauh menuntut rencana dan aksi mitigasi yang terjaga kuat.

“Minimalnya, di saat terjadi sesuatu, kita punya akses informasi yang cepat mengenai dampak yang akan kita teruskan ke pihak pemerintah. Ini untuk mempercepat koordinasi dan layanan serta meminimalisir jumlah korban akibat bencana alam,” jelasnya.(Nda)

Trending