Connect with us

METROPOLITAN

Pasutri Miskin bersama Sembilan Anaknya di Serang Tinggal dengan Kotoran Kambing

Published

on

Pasangan Kusna dan Mulyati bersama anak-anak mereka bercengkrama di gubuk yang disesaki bau kotoran kambing.(Banten Hits/ Saepulloh)

Bau bacin dari lantai tanah yang becek langsung menyergap ketika memasuki gubuk bambu berukuran 6×2 meter dengan dinding bilik rombeng yang dihuni Kusna (52) dan Mulyati (47) di Kampung Gerudug, RT 015/ RW 001, Desa Gabus, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang.

Semakin memasuki bagian dalam gubuk, segera saja tercium bau-bau lainnya. Bau yang paling kuat tercium adalah kotoran kambing yang menumpuk di samping gubuk. Dinding bilik yang rombeng membuat bau kotoran langsung menguap memenuhi seisi ruangan.

Di dalam ruangan terhampar karpet usang dan kasur lapuk yang merupakan alas untuk tidur sekaligus untuk aktivitas pasangan suami istri dengan sembilan anak itu.

Saat wartawan Banten Hits Saepulloh mengunjungi rumah tak layak huni tersebut, sepasang anak kembar pasangan miskin ini, Jubedahroh (2) dan Jumbaedilah (2) tengah bermain di atas kasur lapuk bersama dua orang kakaknya, Kurni Sari (15) dan Romdani (11).

Tempat yang dihuni Kusna bersama istri dan sembilan anaknya ini sebetulnya adalah sebuah dapur. Tempat itu sudah tiga tahun difungsikan menjadi rumah setelah rumah mereka ambruk.

Kusna menceritakan, dapur yang mereka tinggal saat ini, dibangun hasil gotong royong warga setempat pasca rumah mereka ambruk. Mirisnya, kini tempatnya tinggal mereka pun kerap bocor. Setiap hujan datang anak-anaknya diungsikan ke rumah mertua yang lumayan layak.

“Kalau hujan anak-anak diungsikan karena sudah pada bocor. Kecuali yang bungsu,” ungkap warga penerima Program Keluarga Harapan (PKH) itu.

Tak banyak yang bisa dilakukan Kusna untuk memperbaiki tempat tinggal mereka. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Kusna bekerja serabutan, sejak berhenti bekerja pada 2000 silam di Jakarta.

“Sudah lama gak bekerja. Mau nyari kerja saja sulit harus pake ijazah saja. Sekarang untuk kebutuhan sehari-hari saja menunggu orang lain ngajak, kerjanya apa saja,” keluh Kusna.

Sembilan anak pasangan pasutri miskin ini masing-masing Rusnia (25), Royadi (22), Kurniawansyah (20), Kurni Sari (15), Romdani (11), M. Juheri (9), Agus Gunawan (6), serta sepasang anak kembar Jubedahroh (2) dan Jumbaedilah (2).

Dari sembilan anaknya itu, tiga anak masih sekolah, yakni Kurni Sari yang kini duduk di kelas 3 SMP, Romdani kelas 4 SD, M. Juheri kelas 2 SD, Agus Gunawan kelas 1 SD.

“Anak pertama dan kedua diajak orang kerja di Cilegon, sementara yang ketiga mondok (pesantren),” terangnya.

Kusna sadar, tempat tinggalnya saat ini sangat tidak sehat bagi anak-anaknya. Namun mengharapkan hunian layak dengan kemampuannya seperti saat ini bagai pungguk merindukan bulan.

Kusna dan anak-anaknya adalah realitas yang hadir ketika sebagian besar masyarakat kita sudah dikuasai perilaku konsumtif, semetara program-program pengentasan kemiskinan yang disuarakan pemerintah selalu menguap menjadi nilai-nilai proyek yang entah oleh siapa dinikmatinya…..

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Trending