Connect with us

Berita Kandidat

Pegiat Demokrasi Sebut Kotak Kosong Kemunduran, Iti Octavia Jayabaya Justru Bangga

Published

on

ITI OCTAVIA JAYABAYA

Calon Bupati Lebak petahana yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Banten Iti Octavia Jayabaya.(Banten Hits/ Mahyadi)

Serang – Sejumlah pegiat demokrasi dan akademisi menyebut fenomena lawan kotak kosong dalam pilkada serentak 2018 merupakan kemunduran demokrasi. Salah satu faktor penyebab fenomena kotak kosong adalah dominasi petahana dan atau bandar yang membekingi petahana.

BACA JUGA: Mengapa Kotak Kosong?

Faktor lainnya lemahnya masyarakat sipil di tingkat lokal, di mana kelompok yang seharusnya bia jadi penyeimbang malah dikooptasi oleh kekuasaan.

Kabupaten Lebak adalah satu dari tiga wilayah di Provinsi Banten yang mengalami fenomena kotak kosong. Pasangan petahana Iti Octavia Jayabaya-Ade Sumardi ditetapkan sebagai satu-satunya pasangan Pilkada Lebak 2018 oleh KPU Lebak.

Berbeda dengan pegiat demokrasi dan akademisi, Iti Octavia Jayabaya, putri mantan bupati Lebak Mulyadi Jayabaya yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Banten ini malah bangga melawan kotak kosong.

“Lawan kotak kosong ini bentuk kepercayaan masyarakat kepada kami. Saya yakin kaya dulu (meraih suara) 73 persen,” kata Iti kepada awak media di Hotel Ledian Serang, Sabtu malam, 17 Maret 2018.

Merespons fenomena lawan kotak kosong di Lebak, sejumlah masyarakat kritis di kabupaten berstatus daerah tertinggal ini membentuk Gerakan Barisan Juang Kolong Kosong (Baju Koko) yang dikomandoi Ahmad Hakiki Hakim. Gerakan ini meluas hingga mencakup sepuluh kecamatan di Kabupaten Lebak.

“Tidak ada kepentingan dalam kosong kosong, yang kami inginkan adalah perubahan di Lebak. Memenangkan kolom kosong (di pilkada) akan membuka perubahan tersebut,” kata Hakiki Hakim, di Pantai Karang Nawing, Malingping, Minggu 4 Maret 2018.

BACA JUGA: Gerakan Baju Koko Meluas, Koordinator Lebak Selatan Dikukuhkan

Sebelumnya, pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing menyebut, pasangan calon yang melawan kotak kosong belum tentu menang. Pasalnya, program paslon tersebut haruslah dapat memenuhi harapan masyarakat.

BACA JUGA: Puskesmas di Lebak Membiarkan Pasien Kritis Pulang Naik Ojek

Menurut Emrus, bukan tidak mungkin masyarakat akan lebih memilih kotak kosong jika dirasa program-program sebelumnya tidak membawa dampak perubahan. Seperti, mengurangi pengangguran, peningkatan pendapatan per kapita.

BACA JUGA: Satu Keluarga Gizi Buruk di Lebak Dikunjungi Mensos, Iti Octavia Jayabaya Meradang

Tetap Silaturahmi dengan Masyarakat

Meski yakin dapat meraih 73 persen suara di wilayah yang dipimpinnya, Iti mengaku tetap menjalankan aktivitas seperti pada saat pertama kali ikut pilkada Lebak.

“Saya berjalan seperti biasa tetap silaturahmi dengan masyarakat. Cuma mungkin bedanya tidak seperti kampanye dulu dan sekarang beda (peraturan), kaya tempat yang dilarang (kampanye),” ungkap Iti.

“Di lebak basis ulama juga cukup banyak. Ponpes 1.202 dan majelis taklim 2.800. Yang biasnya (pilkada lalu) bisa masuk ke sana (sekarang tidak bisa). Kalo saya jadi bupati (seelum cuti) saya tidak bisa kunjungi karena terbentur kedinasan dan sekarang (setelah cuti) juga dilarang oleh panwas,” jelasnya.(Rus)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + 18 =

Trending