Connect with us

METROPOLITAN

Keluarga Takut Biaya Mahal, Balita Gizi Buruk di Kota Serang Tak Ditangani Medis

Published

on

Keluarga Takut Biaya Mahal, Balita Gizi Buruk di Kota Serang Tak Ditangani Medis

Rahmat (3) digendong ibunya, Munajah. Rahmat sejak lahir mengalami gizi buruk namun tak pernah mendapatkan penanganan medis. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Serang – Rahmat (3), anak pasangan keluarga miskin Munajah dan Kusen di Kampung Babadan, Kelurahan Terumbu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, harus menderita gizi buruk sejak lahir. Meski demikian, balita malang ini tak pernah tersentuh penangan medis karena keluarga takut dengan mahalnya biaya pengobatan.

Peristiwa yang dialami balita malang Rahmat, seolah semakin menegaskan kemiskinan dan buruknya pelayanan kesehatan masih terjadi di Kota Serang, yang merupakan ibukota Provinsi Banten.

Wartawan BantenHits.com Mahyadi melaporkan, saat lahir sebetulnya Rahmat memiliki suadara kembar. Namun saudara kembarnya meninggal dunia beberapa saat setelah dilahirkan. Rahmat sendiri harus tumbuh dengan asupan gizi yang jauh dari layak.

Tak seperti bayi pada umumnya, Rahmat hingga usia tiga tahun seperti saat ini masih belum bisa berjalan. Gerak fisik Rahmat juga tergolong lambat. Dia hanya mampu merespons setiap aksi yang ditujukan kepadanya dengan anggukan kepala.

Rahmat malang setiap hari hanya menghabiskan waktu di pangkuan ibunya atau di tempat tidur kala ang ibu harus mengurus pekerjaan rumah dan membantu suami.

“Sudah tiga tahun belum bisa jalan. Sejak lahir sebenrnya kembar tapi saat lahir satunya langsung meninggal. Rahmat bicara tidak bisa jalan tidak bisa,” ujar Munajah kepada awak media saat disambangi di kediamannya, Kamis, 8 November 2018.

Kusen, sang ayah yang memiliki pekerjaan sebagai tukang servis jok, berharap betul anaknya bisa melihat anaknya tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lain umumnya.

“Pengennya mah waras,” ucap Kusen sembari meneteskan air mata.

Dengan penghasilan rata-rata Rp 50 ribu setiap harinya, Kusen merasa dirinya tak mampu untuk membawa Rahmat ke rumah sakit atau puskemas.

“Tidak punya biaya mas untuk berobatnya. Saya aja kerja sebagai tukang servis itu pun tergantung ada yang order batu maupun yang servis batu,” ungkapnya.

“Selama ini hanya diam saja rawat seperti biasa di rumah,” sambungnya.

Kusen menuturkan, belum ada perwakilan pemerintah yang melakukan pendataan atau menawarkan pelayanan kesehatan dengan cara jemput bola ke rumahnya.

“Belum ada yang serius. Belum pernah ada dari dinas kesehatan,” paparnya.

Meski Kusen mengaku dirinya memiliki kartu BPJS, namun minimya kemampuan Kusen mengakses informasi membuat dirinya tak mengerti cara menggunakannya. Yang terbayang dalam benak Kusen ketika disinggung soal berobat hanya biaya yang pasti mahal.

Lurah Terumbu Jumrodi mengatakan, saat ini pihak kelurahan hanya bisa membantu Kusen sebatas keperluan admnistrasi atau memfasilitasi.

“Kemarin tindakan belum ada, baru bulan ini saja. Prihatin. Mudah-mudahan cepet ada bantuan dari dinkes atau dinsos. Mungkin anjuran dari saya kalau sudah punya BPJS segera bawa ke rumah sakit supaya cepat sembuh,” pungkasnya.(Rus)

TONTON JUGA VIDEONYA DI SINI:

Trending