Connect with us

EKONOMI & BISNIS

Impor Daging Dibatasi, Penjual dan Pembeli Gigit Jari

Published

on

Tangerang, Banten Hits.com – Dibatasinya kuota daging impor yang dikirim dari Australia ke Indonesia, ternyata hingga saat ini terus mempengaruhi harga daging sapi dipasaran. Tingginya harga membuat banyak masyarakat mengurangi konsumsi daging yang dikenal tinggi protein, akibatnya tak hanya penjual yang gigit jari  tapi juga para pembeli 

 

 

Tangerang, Banten Hits.com – Dibatasinya kuota daging impor yang dikirim dari Australia ke Indonesia, ternyata hingga saat ini terus mempengaruhi harga daging sapi dipasaran. Tingginya harga membuat banyak masyarakat mengurangi konsumsi daging yang  dikenal tinggi protein,  akibatnya tak hanya penjual yang gigit jari  tapi juga para pembeli.

Berdasarkan data yang di himpum Banten Hits.com, harga daging sapi di pasar Tangerang  meroket hingga  Rp 100 ribu per kilogram untuk  daging super (impor), sementara untuk harga daging lokal dijual dengan harga paling tinggi Rp 95.000.

BACA :  20 Ton Daging Disiapkan Bulog Lebak-Pandeglang Hadapi Ramadan

“ Tingginya harga sudah hampir empat bulan , pokoknya sejak lebaran saja, harganya makin mengalami kenaikan,” kata Asep, pedagang daging di Pasar Anyar Kota Tangerang.

Asep mengatakan kenaikan ini berdasarkan informasi dari pemasok lebih dikarenakan dibatasinya kuota daging impor yang dikirim dari Australia  oleh Pemerintah. “Karena dibatasi, harganya melejit tinggi, waktu belum dibatasi biasanya kita jual Rp.75 ribu perkilo, “ ujarnya.

Saat ini dikatakan Asep, ia tidak berani menyetok terlalu banyak barang jualannya. Hal ini dilakukan guna menghindari kerugian akibat menurunnya peminat dipasaran. selain itu pengecer seperti dirinya mendapatkan jatah pasokan. Bila sebelumnya ia berani menyetok hingga 50 Kg perhari, saat ini ia hanya berani menyediakan setengah dari biasanya.

BACA :  Gubernur Banten Setujui 45 Perusahaan Kota Tangerang Tangguhkan UMK

Sementara itu, Tika yang berpfosesi sebagai penjual nasi mengatakan ia terpaksa berhenti berjualan daging olahan diwarung miliknya. “ Saya bingung mau jual berapa, dijual murah  rugi dijual mahal kasihan langganan,”  Ceritanya.  (Ningrum)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler