Connect with us

SENI & BUDAYA

Tiga Abad, Klenteng “Benteng Kebajikan” (Bagian 1)

Published

on

Pada rubrik Wisata dan Budaya kali ini, redaksi akan mengajak pembaca Banten Hits.com yang Budiman untuk menyusuri kembali perjalanan masa lalu tentang ihwal berdirinya klenteng tertua di Tangerang. Klenteng eksotis yang memiliki arti  “Klenteng Benteng Kebajikan” atau yang lebih dikenal selama ini dengan nama  “Klenteng Boen Tek Bio”.

Pada rubrik Wisata dan Budaya kali ini, redaksi akan mengajak pembaca Banten Hits.com yang Budiman untuk menyusuri kembali perjalanan masa lalu tentang ihwal berdirinya klenteng tertua di Tangerang. Klenteng eksotis yang memiliki arti  “Klenteng Benteng Kebajikan” atau yang lebih dikenal selama ini dengan nama  “Klenteng Boen Tek Bio”.

Tulisan tentang Klenteng Boen Tek Bio ini, akan kami sajikan secara bersambung dalam beberapa edisi. Selamat menikmati……
                                
Tempat beribadah masyarakat pecinaan ini sudah ada sejak Dinasti Ming, atau sekitar tahun 1684. Dan hingga kini, klenteng eksotis dengan ornamen merah mendominasi ini masih berdiri kokoh di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang, Banten.

Oey Tjun Eng ( Kong Tjin ), Humas dan Perpustakaan Perkumpulan Keagamaan dan Sosial Boen Tek Bio pada Banten Hits.com menuturkan bangunan asli yang letaknya di tengah-tengah kawasan pemukiman ini pada mulanya adalah rumah milik pribadi.

Entah siapa pemiliknya,  hanya secara turun temurun pemilik rumah tersebut dipercaya merupakan saudagar atau tuan tanah di kawasan itu. Karena kawasan Pasar Lama sudah banyak ditinggali peranakan Tionghoa, Kong Tjin menceritakan, klenteng pibadi itu dijadikan tempat sarana ibadah masyarakat.

Hingga saat ini ada tiga agama yang beribadah di klenteng yang mempunyai makna  “Klenteng Benteng Kebajikan”  itu,  di antaranya adalah penganut Kong Hu Tju, Tao, dan Budha.

Masih dijelaskan Kong Tjin, jika melihat sejarahnya, klenteng ini sudah mengalami renovasi besar-besaran di tahun 1844. Waktu itu, renovasi dilakukan pada altar atau bangunan utama, tempat penyembahan kepada Dewi Kuan Im. Barulah, dilanjutkan pada 1844 renovasi selanjutnya, dengan mendatangkan ahli dari Tiong Kok atau yang kita kenal dengan Negara China.

“ Dikerjakan kira-kira selama enam bulanan,” ujarnya.  Dan pada saat itu, karena renovasi yang dilakukan secara besar, belasan Kim Sin (patung) dipindahkan ke  Klenteng Boen San Bio, Pasar Baru, Kota Tangerang……

Silahkan baca kembali tulisan kami selanjutnya mengenai Kelenteng Boen Tek Bio ini dalam edisi “Arak-arakan Tua Pekong”. Sampai ketemu kembali…. (Rie/Ningrum)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 − six =

Trending