Connect with us

ESSAI

Ziarah Airmata

Published

on

Pada sebuah malam, langit terlihat meriah: bintang-bintang bertebaran, bulan yang tampak bulat telur dikelilingi awan tipis seperti berputaran. Pemandangan malam yang mengusik perhatian. Mungkin karena malam-malam sebelumnya langit selalu tampak murung.

 

Pada sebuah malam, langit terlihat meriah: bintang-bintang bertebaran, bulan yang tampak bulat telur dikelilingi awan tipis seperti berputaran. Pemandangan malam yang mengusik perhatian. Mungkin karena malam-malam sebelumnya langit selalu tampak murung.

Dan malam itu, saya memutuskan untuk berlama-lama menatap bulan. Malam itu, bulan seperti hendak mengajak saya untuk menyusuri sebuah perjalanan. Perjalanan mengenang kembali sebuah jejak kehidupan.

Bulan semakin terlihat menawan, sementara pikiran saya sudah mengembara pada bayangan-bayangan puluhan tahun silam. Ada sosok kecil ringkih berlari riang menjemput kedatangan seseorang. Dalam kepala si kecil waktu itu belum tertanam apapun definisi tentang kasih sayang.

Ada si kecil ringkih yang berlari riang menjemput seseorang yang dipanggilnya Bapak, dan lelaki gagah yang datang dengan kasih sayang.

Belum tuntas pikiran saya membaca adegan pertemuan itu. Airmata sudah terlanjur mengalir deras. Sementara di langit, bulan dan bintang seperti tengah merangkai pertunjukan.

Perjalanan puluhan tahun silam itu terasa sekedipan mata saja. Masih terasa hangat kasih sayang lelaki Bapak kepada si kecil yang ringkih. Bukan dengan belaian atau kecupan manja, tapi dengan kata dan tindak yang melahirkan keberanian. Keberanian untuk mengarungi kehidupan yang tak pernah sedikitpun mau berkompromi dengan kemudahan.

Untuk yang kedua kalinya, saya berhenti membaca adegan si kecil ringkih dan lelaki Bapak dalam perjumpaannya. Airmata saya lebih deras mengalir, menjebol bendung kerinduan puluhan tahun silam. Sementara malam semakin diam.

Lelaki Bapak memanggil-manggil si kecil ringkih yang menjelma dewasa, untuk  membawakan doa sebagai pengganti perjumpaan.

Lalu, mengalirlah Alfatihah bersama airmata yang masih sama, saat si kecil ringkih harus bersedih ditinggal lelaki Bapak.

Andai kehidupan hanya menakdirkan pertemuan, mungkin lelaki Bapak dan si kecil ringkih yang menjelma dewasa itu, malam ini tengah membicarakan bulan. Bulan yang sama seperti saat kehidupan ditiupkan kepada si kecil ringkih.

Di langit bulan semakin terlihat menawan digoda awan-awan yang seperti berlarian. Sementara, dalam sujud yang telah tuntas, Alfatihah dikirimkan kepada lelaki Bapak oleh si kecil ringkih yang telah menjelma dewasa. Sebagai tanda ziarah. Ziarah airmata…..(Darussalam Jagad Syahdana, dalam Jumatnya 01 Maret 2013 yang sunyi di Modernland, Kota Tangerang)
 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 − three =

Trending