Connect with us

BABAD BANTEN

Kota “Benteng” Tangerang dalam Lipatan Sejarah (Habis)

Published

on

Pembaca setia rubrik Babad Banten, tulisan yang anda baca sekarang ini adalah edisi terakhir catatan kecil tentang Kota “Benteng” Tangerang dalam Lipatan Sejarah.

Masih berdasarkan arsip Gewone Resolutie Van hat Casteel Batavia, 3 April 1705, bangunan pagar tembok yang diusulkan Gubernur Zwaardeczon sebagai pengganti bangunan pos yang terbuat dari bambu itu, dulu dikenal dengan nama istilah “benteng”.

Benteng yang didirikan itu bertujuan supaya orang Banten tidak bisa melakukan penyerangan. Rencananya, Benteng baru yang dibangun itu memiliki ketebalan dinding 20 kaki atau lebih.

Sebagai basis pertahanan, di lokasi pembangunan benteng, ditempatkan sejumlah personil. Awalnya personil yang ditempatkan terdiri dari 30 orang Erofa di pimpin seorang Vandrig (setingkat Peltu), dan 28 orang asal Makasar. Bahan dasar pendirian benteng itu sendiri berasal dari batu bata hasil pemberian Aria Soetadilaga yang merupakan Bupati Tangerang pertama.

BACA :  Gunung Pulasari; Kunci Penaklukkan Banten Girang oleh Sunan Gunung Jati

Setelah benteng berhasil didirikan, sebagai basis pertahanan, benteng itu selanjutnya diperkuat oleh sekitar 60 orang Eropa dan 30 orang hitam. Disebut hitam karena 30 orang itu merupakan serdadu kompeni beretnis Makasar.

Oleh kompeni, benteng ini selanjutnya dijadikan sebagai basis pertahanan untuk menghadapi pemberontakan dari Banten.

Kemudian pada tahun 1801, benteng diperbaiki dengan menambah bangunan baru. Perbaikan itu dilakukan untuk memperkuat benteng yang sudah ada.

Letak bangunannya sekitar 60 roeden (sebutan istilah menunjukan ukuran dan jarak-red) agak ke tengggara, tepatnya terletak disebelah timur Jalan Besar pal 17 (paal jalan yang ditandai tonggak batu-red). Waktu itu, orang-orang pribumi lebih mengenal bangunan itu dengan sebutan ”Benteng”. Sejak itulah, Tangerang terkenal dengan sebutan “Benteng”.

BACA :  Asal Kata "Bantam" dalam Dunia Tinju Berasal dari Banten

Namun sejak tahun 1812, benteng itu disebutkan sudah tidak terawat lagi, bahkan menurut ”Superintendant of Publik Building and Workd” tanggal 6 Maret 1816 menyatakan: “…Benteng dan barak di Tangerang sekarang tidak terurus, tak seorangpun mau melihatnya lagi. Pintu dan jendela banyak yang rusak bahkan diambil orang untuk kepentingannya.”

Dari hasil pengumpulan berbagai sumber, terkenalnya julukan Benteng identik dengan Tangerang, kemungkinan berasal dari banyaknya benteng kompeni yang didirikan di Tangerang saat itu.

Kini, benteng itu cuma tinggal kenangan. Lokasi itu, kini sudah disulap menjadi kawasan bisnis dan pusat perbelanjaan. Belakangan untuk hanya sekedar mengingat sejarah, di sekitar kawasan itu, ada jalan yang diberi nama Jalan Benteng Makasar.

BACA :  Pemberontakan Pangeran Mandalika di Kesultanan Banten

Nah, ulang tahun Kota Tangerang yang ke 20 ini, harus menjadi titik balik dan momentum bagi kita semua. Pemerintah, penggiat seni dan budaya, sejarawan dan pihak-pihak berkompeten lainnya berkewajiban menjaga dan melestarikan situs-situs bersejarah. Jika tidak, kita hanya ada dalam lipatan sejarah tanpa data, fakta, dan bukti yang otentik. (Soed)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler