Connect with us

CERPEN

Mencari Annie

Published

on

Sebenarnya mata Hendra agak ngantuk tetapi entah mengapa dia tetap bertahan duduk di sofa depan televisi.  Ya, dia tiba-tiba ingin menyelesaikan seluruh adegan film Sleepless in Seatle yang diputar di jaringan televisi  kabel. Dia tiba-tiba kagum pada sosok Annie Reed, tokoh perempuan yang begitu berani mengejar angan-angan cintanya, gara-gara mendengarkan siaran radio yang berkisah tentang anak lelaki yang mencari istri bagi ayahnya. Annie ingin menjadi ibu bagi si anak walaupun sudah punya pacar yang siap menikahinya, bahkan telah menyematkan cincin tanda jadi di jari manisnya, Annie terus memburu cinta. Dia tidak mau basa-basi masuk ke perkawinan  dengan pria yang tidak ‘klik’ ke hatinya walaupun itu masih bayang-bayang.

Sebenarnya mata Hendra agak ngantuk tetapi entah mengapa dia tetap bertahan duduk di sofa depan televisi.  Ya, dia tiba-tiba ingin menyelesaikan seluruh adegan film Sleepless in Seatle yang diputar di jaringan televisi  kabel. Dia tiba-tiba kagum pada sosok Annie Reed, tokoh perempuan yang begitu berani mengejar angan-angan cintanya, gara-gara mendengarkan siaran radio yang berkisah tentang anak lelaki yang mencari istri bagi ayahnya. Annie ingin menjadi ibu bagi si anak walaupun sudah punya pacar yang siap menikahinya, bahkan telah menyematkan cincin tanda jadi di jari manisnya, Annie terus memburu cinta. Dia tidak mau basa-basi masuk ke perkawinan  dengan pria yang tidak ‘klik’ ke hatinya walaupun itu masih bayang-bayang.

“Ini bukan soal kamu Walter. Ini soal aku,” kata Annie sambil melepaskan cincin dan memberikannya ke Walter, saat mereka makan malam di restoran di lantai atas  gedung Rockefeller di New York.  Walaupun sudah  berpacaran, sempat hidup bersama, Annie merasa lelaki yang rapi itu bukan jodohnya.   Kalimat itu dia ucapkan sambil menatap gedung Empire State Building yang tampak dari jendela, diwarnai simbol hati berwarna merah, tempat dia berjanji menemui seorang lelaki—meski surat itu sebenarnya dikirimkan Jonah, atas nama ayahnya–bernama Samuel Baldwin. Annie merasa ada magnet yang terus menyeret hatinya ke sana, yang kebetulan pula pernah menjadi setting film tahun 1960-an tentang kisah cinta yang mirip dengan persoalan yang dihadapinya.

Film itu berakhir bahagia, setelah melalui sekuel dibuat agar penonton deg-degan—jantung Hendra tetap ikut berdebar meski sudah menontonnya beberapa kali—,cinta sejati memenangkan pertarungan. Annie menemukan cintanya, Jonah puas karena berhasil menjodohkan ayahnya dengan wanita yang dia yakini bisa menjadi pengganti ibunya yang meninggal, Samuel akhirnya lega karena bisa menemukan wanita yang langsung  ‘klik’mengetuk hatinya di pertemuan pertama tetapi tidak dikejarnya karena merasa tidak perlu repot cari istri sesuai idaman. Wajah Meg Ryan dan Tom Hanks yang berbahagia terbawa sampai Hendra tidur.

Anak-anak sudah  sejak tadi masuk kamar tidur. Tiga-tiganya. Satu orang sudah bekerja, yang dua masih kuliah, jadi kalau sudah melewati batas pukul 22.00 biasanya mereka tahu diri untuk masuk kamar masing-masing. Kecuali kalau ada keperluan  tertentu, seperti mengerjakan tugas atau membicarakan sesuatu, atau besok hari libur.

Annie. Anny. Ani. Yang manapun sama saja. Tetapi nama itu ternyata memang ada sejarahnya juga di hati Hendra.  Ketika masih menjadi mahasiswa baru dulu, dia sempat dijodoh-jodohkan dengan teman sekelas  yang dipanggil Anie, meskipun nama sebenarnya Handayani. Dalam beberapa kesempatan di kampus,  ketika ada sesi foto entah bagaimana mereka kerap berdampingan. Entah dimana foto-foto itu sekarang.  Satu peristiwa  yang diingat Hendra, suatu siang dia dipaksa beberapa teman kampusnya untuk makan siang di rumah Anie, yang rupanya hari itu berulang tahun. Hendra sama sekali tidak ingat Anie ulang tahun. Mukanya sampai merah ketika saat tiup lilin, Hendra diminta mendampingi Anie. Hendra pun memberanikan diri mencium pipi Anie. Dia minta maaf karena tidak sempat membelikan kado, tetapi nona rumah begitu bahagia. Juga Hendra, Juga teman-teman sekelas yang menjadi promotor acara itu.

Dalam perjalanan waktu mereka hanya berteman biasa. Anie tampaknya tidak kuasa menghadapi masalah rumah tangga orangtuanya. Ibunya ditinggalkan ayahnya yang menempati posisi cukup tinggi di balaikota. Beberapa kali dia tidak masuk. Kalau pun ikut kuliah kadang matanya sembab. Rupanya dia dijodohkan, dengan alasan ibunya tidak kuat lagi menanggung biaya kuliah. Gadis hitam manis itu berhenti kuliah di tahun kedua dan menikah dengan seorang pilot. Entah dimana dia sekarang. Dia ingin sekali bertemu, walau sekadar ngobrol. Rindu juga.

BACA :  Sriwigati Facebooker Sejati

Saat itu ada sebuah lagu yang kerap dinyanyikannya dengan gitar, Annie’s Song,  yang dibawakan  biduan music country, John Denver dan kebetulan pula lagu itu menjadi ilustrasi musik film Indonesia yang tengah beredar .  Liriknya begitu membekas di hati Hendra. Sosok Anie memang sempat mengisi seluruh ruang dan rongga hatinya, dalam setiap nafas yang dia hela, dalam setiap ruang yang dia pandang, dalam setiap jejak yang dia langkahkan. Hidup seperti bukan hidup tanpa Anie. Maka sungguh besar kerinduannya pada sosok itu, seperti sepenggal  syair lagu:

Come let me love you/let me give my life to you/ let me drown in your laughter/let me die in your arms/ let me lay down beside you/let me always be with you/come let me love you,come love me again//.

Tetapi tentu bukan Anie temannya dulu yang kini mengganggu pikiran Hendra, tetapi cara Annie mendapatkan cinta yang begitu hebat. Hendra merasa dirinya pengecut seperti juga sikap Samuel dalam film itu yang mencari istri  yang “mudah didapat”, Victoria. Perempuan cantik, hidup teratur, tetapi menurut Jonah tertawa seperti cheyenne, binatang mirip serigala. Praktis tidak ada perjuangan berarti untuk memperolehnya. Samuel telpon untuk makan siang, Victoria malah menawarkan makan malam yang romantis.  Karena memang Victoria sudah lama naksir Samuel. Semuanya seperti akan berjalan lancar namun terhambat karena Jonah tidak menyukai calon ibu tirinya itu.

“Untuk teman hidup sampai akhir hayat, seharusnya ya kamu cari orang yang benar-benar cocok dengan suara hatimu,” kata seorang sahabat Hendra suatu saat.

Saat itu mereka tengah berbincang di sebuah kedai kopi membahas status duda Hendra yang sudah memasuki tahun ketiga  sepeninggal istrinya karena sakit dan belum ada tanda-tanda menjalin hubungan serius dengan wanita. Banyak teman  yang sudah menyarankan dia cepat kawin lagi agar anak-anaknya ada yang mengurus, agar rumah tangga lebih beraturan, dan tentu saja agar ada teman untuk berbagi perasaan. Kerabatnya termasuk ikut sibuk.

“Aku sih maunya begitu. Tapi sampai sekarang belum ketemu yang cocok,” kata Hendra membalas omongan Wahono. “Ada beberapa teman perempuan, tapi rasanya biasa saja. Nggak tahu ini karena aku masih terus mengingat Ida atau memang belum pas..”

Sampai akhirnya memasuki tahun keempat, orang mulai malas memberikan saran, meski tetap saja ada sesekali yang bertanya dan menyarankan sesuatu terkait perjodohan termasuk beberapa teman wanita dari zaman masih berkuliah dulu. Mereka malah ada yang sibuk memberikan nama tertentu, lengkap dengan foto dengan acuan Facebook. Hendra berterima kasih, tapi tetap belum ada perubahan.***

“Oke deh. Nanti di akhir tahun aku akan bikin destination statement soal jodoh. Pokoknya aku harus mendapat istri di tahun 2012” kata Hendra setengah pasrah ketika didesak beberapa sahabat dekat.

“Bedanya apa dengan tekad sebelumnya. Maka, jangan sekedar pingin dong, tetapi bagaimana cara dan mekanismenya agar target itu tercapai,” kata Nining, mengacu pada istilah manajemen yang beberapa kali dia dengar dalam presentasi perusahaan, “bussiness process-nya harus bagus.”

Dari sudut pandang manajemen, hasil memang penting, tetapi proses untuk mencapai hasil itu juga tidak kalah pentingnya. Mendapatkan untung, mencapai target, adalah ujung dari segala ujung kegiatan namun diharapkan juga aspek lain diperhatikan, misalnya apakah dalam mencapai keuntungan itu ada kegiatan yang tidak etis, tidak sesuai dengan nilai perusahaan, dsb karena nanti akan terkait pula dengan kelanjutan dari bisnis itu sendiri. Bagi Hendra, mendapatkan istri yang sesuai hati nurani adalah tujuan sangat penting tapi dia tidak ingin pula  timbul masalah dengan anak-anaknya atau kehidupannya di kelak kemudian hari.

“Ya bedanya, sekarang aku benar-benar bersikap aktif. Mencari. Mengejar atau apapun namanya orang yang aku anggap pas, cocok, pantas, menjadi istriku. Kalau dulu kan aku pasif saja.”

“Maksudmu?”

“Ya dulu, kalau ada yang dikenalkan, aku terima saja. Disuruh-suruh supaya ngajak makan siang, atau bertemu di sebuah mal, aku mau saja. Dipertemukan di acara keluarga, mau aja. Sekarang tidak. Aku hanya akan mau kalau betul-betul sesuai seleraku.”

“Bagus, ada kemajuan. Kapan mulainya?”

“Ya tahun depan dong. Aku perlu mempersiapkan diri. Sebab bukan sifatku bersikap agresif, ngotot, dalam urusan seperti ini. Kalau kerja sih biasa mati-matian. Kalau urusan perempuan, aku malah sejak dulu bersikap menerima apa adanya.”

BACA :  Putus? Gak Mungkin

Betul yang dikatakan Hendra. Dalam perjalanan hidupnya, Hendra  tidak pernah lepas dari mak comblang kalau berurusan soal wanita.  Pacar pertamanya di SMA didapat karena dicomblangi, pacar di kampus juga demikian. Bahkan Ida yang kemudian jadi istrinya pun demikian. Bukan berarti Hendra tidak pernah berusaha sendiri. Dia menyukai beberapa perempuan sejak umur belasan tahun dan tidak satupun yang jadi, termasuk yang diincar di kampus. Meski demikian perkawinan Hendra dengan Ida baik-baik saja, dalam perjalanan waktu dia dan istrinya itu saling dan sangat mencintai. Mereka menjadi keluarga bahagia dengan anak yang berhasil dalam studi.

Bisakah dia berubah?

“Aku harus berubah. Annie Reed saja berani ngotot, masak sih aku nggak bisa begitu,” kata Hendra dalam hatinya. Mengejar cinta adalah suatu yang wajar, seperti juga mengejar target dalam pekerjaan. Yang penting, tidak boleh takut pada kegagalan. Tapi targetnya kan harus realistis? Ya tentu saja, kalau over confidence, over estimate, tidak memperhitungkan berbagai aspek bisa –bisa tidak achieve.

“Ah, kayaknya nggak usah terlalu rumitlah. Ada kesamaan dengan urusan bisnis sih iya. Tapi cinta itu soal hati, lho. Kamu manusia, wanita yang akan kamu jadikan calon istri juga manusia. Menurut aku sih normal saja. Yang penting kamu sungguh-sunggu,” kata Wati, temannya di kantor yang dia mintai nasehat. Wati sendiri seorang janda, yang berparas manis, tapi tampapknya malas untuk kawin lagi karena beban pekerjaan yang tinggi. Mereka suka ngobrol sesame jomblo tanpa ada perasaan apapun meski kalau sedang bertatapan Hendra juga suka memuji diam-diam koleganya itu.

“Menurut kamu aku mulai dari mana ya?”

“Untuk apa?”

“Lho, inventarisasi dong.  Kan harus ada serangkaian daftar nama calon potensial istri, karena kalau tidak nanti akan pontang-panting. Harus sistematis, aku kira.”

“Ya mulai dari Facebook aja. Cari dulu di golongan teman, lalu temannya teman, dan seterusnya. Mana yang menurut kamu ‘klik’ di hati, masukkan daftar,” kata Wati sambil tersenyum.

“Iya, betul juga. Ok deh, nanti aku lakukan..”

Ternyata tidak segampang yang dia kira. Tentu ada yang menarik, tetapi tidak berstatus single. Ada yang sendirian, tetapi punya anak. Lagipula, apa iya sosok yang dia lihat di media sosial itu sesuai dengan kenyataan. Jangan-jangan fotonya lebih indah dari warna aslinya. Walaupun demikian, Hendra lalu mensortir nama-nama dan membuat daftarnya. Setelah itu dia cari sendiri pula orang yang juga cukup berpotensi. Ternyata jumlah nama yang terkumpul tidak sedikit. Oke, pikirnya, yang penting sudah ada daftar dan pelan-pelan akan mulai melakukan seleksi.***

Dia lalu mendekati Linda. Temannya ini janda, bekerja di perusahaan swasta dan punya kedudukan yang relatif baik, sebagai manajer.  Karena sudah kenal agak lama Hendra mengajaknya bertemu untuk makan siang di sebuah restoran Jepang, tidak jauh dari kantor Linda.

“Tumben kamu ngajak makan siang ada apa?,” balas Linda.

“Masak nggak boleh. Mau kan?”

“Aku ada waktu, kok. Kita ketemuan deh,” balas janda yang ditinggal mati suaminya itu.

Suasana cair ketika mereka ngobrol berdua, padahal perkenalan mereka sebetulnya tidak begitu luar biasa. Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan departeman pemerintah mereka menjadi peserta dan kebetulan makan siang dalam satu meja. Beberapa kali bertemu, mereka berteman dan sesekali berkomunikasi dengan media sosial.

Tetapi ketika Hendra menyinggung masa depan, rupanya Linda bukan tipe orang yang mau menikah lagi. Dengan alasan sudah bahagia dengan kondisi sekarang, dan keinginan untuk menjaga ibunya yang sudah berusia lanjut, Linda memutuskan untuk sendiri sepanjang hidupnya.

“Untuk sekarang sih, aku pinginnya sendiri dulu. Nggak tahu nanti kalau Tuhan yang menghendaki lain,” kata Linda sambil menyantap makanan sehingga tidak melihat kekecewaan di wajah Hendra.

“Itu memang pilihan. Lagi pula, memang tidak mudah untuk beradaptasi dengan keluarga baru,” kata Hendra menambahi, sekaligus untuk menghibur dirinya sendiri.

Pada suatu kali dia memberanikan diri untuk bersikap agfresif dan berterus terang pada Rini, seorang gadis berusia jelang 40 yang memiliki usaha rumahan setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan multi nasional. Dia rajin ikut pameran di sana-sini untuk mempromosikan produknya.

“Kamu mau nggak kalau aku ajak kawin?”

“Aku sih pingin punya suami, asalkan bisnisku tidak terganggu. Aku nggak bisa hanya diam di rumah dan mengurusi rumah tangga”

Hendra langsung berpikir, repot juga ya. Dalam usianya yang sudah berusia kepala lima, dia sebenarnya ingin istri yang memberikan perhatian cukup. Bagi dia dan juga anak-anaknya. Kalau nanti Rini sibuk dengan bisnisnya, dia ragu apakah rumahtangga bisa berjalan seperti di keluarga normal. Pasti ada salah satu yang kalah. Wah..

BACA :  Pasar Thengok dan Manusia Tikus

Sebenarnya sda satu wanita lagi yang dia incar. Savitri yang menjadi marketing di perusahaan yang bergerak dalam jasa perdagangan. Wajahnya manis, berstatus single setelah bercerai. Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah kafe tempat nongkrong eksekutif. Namun begitu bertemu Hendra langsung rada ciut. Dia merasa tidak pantas mendapatkan wanita itu, karena terlalu “tinggi”. Pakaian, tas, sepatu, dan cara dandannya, mungkin pantas untuk golongan direktur, bukan manajer seperti dia.

“Kamu cantik sekali hari ini?”

“Ya, begitulah Mas. Tuntutan pekerjaan, kalau nggak klien susah diajak berkomunikasi. Maklum kantor saya mengandalkan order dari marketing seperti kami,” kata Savitri yang tampak tidak canggung berada di mal bagi kawasan menengah atas ini.

Savitri mengaku, dia membutuhkan suami yang memahami tugasnya. Yang menjadi tempatnya curhat bila ada masalah, yang menjadi benteng baginya bila ada yang mengganggu, dan ayah bagi anak-anaknya kelak. Kayaknya aku tidak memenuhi kriteria itu, pikir Hendra. Dia tidak akan sanggup untuk menjadi semacam satpam bagi Savitri. Dia sudah terlalu tua untuk itu, meski di satu sisi kedewasaan dan kearifannya yang  justru diharapkan Savitri yang tiap saat harus bertarung untuk mencapai target. Hendra lalu membayangkan, setiap hari dia akan tercenung-cenung di rumah menunggu kepulangan istrinya yang harus mencari proyek untuk mendapatkan bonus dari perusahaan. Dia tidak mem follow-up pertemuan itu. Dia canggung walau ada sepersekian persen dari hatinya merindukan sosol molek Savitri yang pasti membanggakan kalau dia gandeng ke acara-acara keluarga. ***

Hendra tidak tahu harus mengadu kemana. Dia merasa malu untuk membicarakan kegagalannya dalam tiga kesempatan untuk menggapai angan-angannya. Hendra coba menganalisa faktor penyebab, ada pada dirinya atau pada targetnya. Kalau dari sisi dirinya, Hendra merasa sudah berubah dari keadaan sebelumnya, dia sudah berani terus terang, sudah dapat menyampaikan keinginan apa adanya. Sedang dari sisi calon yang diincar, khususnya pada RIni dan Savitri, Hendra merasa dia sendiri yang takut untuk menghadapi keadaan yang bakal terjadi nanti. Sanggupkah dia?

Hendra melihat kembali ke titik awal. Yang dicari ini sebenarnya istri bagi dirinya, atau ibu bagi anak-anaknya? Maunya sih fifty-fifty. Kalau istri, asal cocok dengan dia, beres. Kalau ibu, tentu  harus cocok dengan ketiga anaknya. Nah, mencari yang cocok bagi dia dan anak-anak, ini yang repot.

Hendra mencoba mengkaji ulang targetnya itu. Harus ada yang lebih utama, istri atau ibu anak-anak? “Ini artinya aku harus meyakinkan anak-anak. Kalau tidak ya susah,” pikirnya. Mencari waktu yang pas, yang sesuai dengan mood ketiga anaknya, bukan hal gampang. Mereka memiliki sifat yang berbeda-beda pula. Dan sampai tanggal 31 Desember malam, pertemuan itu belum terjadi. Hendra merasa tidak siap untuk mengecewakan anak-anaknya. Dia merasa lebih baik kehilangan kesempatan untuk mendapat istri ketimbang kehilangan kasih sayang dari ketiga anaknya yang selama ini begitu melimpah  memberikan kebahagiaan. Entah lah nanti, kalau ketiganya sudah berkeluarga.

“Aku akan terus mencari Annie. Tuhan pasti bermurah hati mendatangkannya bagiku kelak. Meskipun aku tidak tahu itu kapan,” katanya, di akhir tahun lalu.

Dari kursi dengan sebotol anggur dan sepiring makanan kecil di meja dia menyaksikan letusan kembang api yang diluncurkan begitu menit dan detik telah menandakan datangnya tahun yang baru. Aneka warna yang menghias langit dipandangnya dengan mata penuh harapan. Bahwa tahun depan akan datang Annie ke dalam kehidupannya.**

 

( 26 Desember 2012 )

 

Tentang Penulis :

Hendry Ch Bangun. Penulis lahir di Medan pada 26 November 1958. Ayah dari tiga putri cantik ini sudah menghasilkan berbagai karya seni, baik puisi, cerpen, essai. Beberapa karyanya yang sudah dibukukan di antaranya, Kumpulan Cerpen Wartawan Olah Raga 2, Elegi bagi Cinta,The Fifties Selection-Antologi 20 Penyair, dan Pangeran Katak dan Sang Putri.

Hingga saat ini suami dari almarhumah Azwina Aziz Miraza ini menekuni profesinya sebagai wartawan. Jabatannya saat ini adalah sebagai Wapemred Warta Kota, ia juga aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dan duduk sebagai Sekjen PWI Pusat.

 



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler