Connect with us

SENI & BUDAYA

Gambang Kromong, Perpaduan Musik Betawi-Cina

Published

on

Banten Hits.com – Selama ini kita sering dicekoki dengan seni dan budaya impor. Nge-pop-istilahnya. Derasnya gempuran kesenian dan kebudayaan yang masuk ke negara kita tercinta, sangat berdampak pada nilai-nilai seni dan budaya yang kita miliki.

Gambang Kromong yang merupakan salah satu aset kesenian dan kebudayaan yang yang kita miliki, kini keberadaannya sudah nyaris hilang. Kalau pun ada, hanya saat berlangsungnya acara-acara khusus formalitas.

Biasanya lagu yang dibawakan oleh orkes gambang kromong merupakan lagu yang memliki unsur humor, dan terkadang bersifat ejekan atau sindiran.

Dalam catatan kecil ini, pembaca diajak untuk bernostalgia sejenak menelusuri asal muasal musik Gambang Kromong.

Selama ini, Gambang Kromong selalu dianggap sebagai musik asli Betawi. Namun dari sejumlah literatur, ternyata musik gambang kromong diketahui sebagai perpaduan antara musik Betawi dengan musik tradisional cina.

Dalam ensiklopedia wikipedia gambang kromong dikenal sebagai jenis musik orkes yang memadukan gamelan dengan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan.

Disebut Gambang Kromong karena diadopsi dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong.

Awal mula terbentuknya orkes gambang kromong tidak lepas dari prakarsa seorang pemimpin komunitas Tionghoa yang diangkat Belanda (kapitan Cina) bernama Nie Hoe Kong pada masa jabatan 1736-1740.

Bilahan gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu, manggarawan atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh pencon).

BACA :  Puluhan Perupa Banten dan Bali Akan Pamerkan Hasil Karyanya di "Hitam Putih Jejak Rangkasbitung"

Tangga nada yang digunakan dalam gambang kromong adalah tangga nada pentatonik Cina, yang sering disebut salendro Cina atau salendro mandalungan.

Instrumen pada gambang kromong terdiri atas gambang, kromong, gong, gendang, suling, kecrek, dan sukong, tehyan, atau kongahyan sebagai pembawa melodi.

Dalam laman jakartagod.id, website resmi Pemprop DKI Jakarta, orkes gambang kromong mencapai puncak popularitasnya pada medio 1930-an. Salah satu yang terkenal Gambang Kromong Ngo Hong Lao. Pemainnya mayoritas orang Cina.

Pada waktu pertama kali muncul di Betawi, orkes ini hanya bernama gambang. Sejak awal abad ke-20, mulai menggunakan instrumen tambahan, yaitu bonang atau kromong, sehingga orkes itu dinamakan Gambang Kromong.

Pada masa itu hampir setiap daerah di Betawi memiliki orkes Gambang Kromong, bahkan tersebar sampai daerah Jatinegara, Karawang, Bekasi, Cibinong, Bogar, Sukabumi, Tangerang, dan Serang.

Bagi orang Cina kaya, tauke-tauke atau babah-babah pada masa “Batavia Centrum”, sudah merupakan adat dan tradisi, untuk memeriahkan bermacam ragam pesta dan perayaan mereka, dengan memanggil perkumpulan gambang kromong untuk bermain.

Pesta perkawinan, misalnya, tidak sempurna jika belum memanggil orkes Gambang Kromong. Pemain musiknya terdiri dari orang Betawi asli atau Cina.

BACA :  Jaro Dainah Benarkan Foto Dalam Poster "Treasure of Baduy - The Living Culture Harmony" Wilayah Baduy Dalam

Di dalam perayaan tradisional masyarakat Cina, seperti Cap Go Meh juga sering dimeriahkan dengan Gambang Kromong. Repertoar Gambang Kromong yang sangat dikenal oleh masyarakat penontonnya, antara lain: Pecah Piring, Duri Rembang, Temenggung Menulis, Go Nio Rindu, Thio Kong len, Engko si Baba, dan lain-lain.

Selain itu gambang kromong, biasanya disertai pula dengan lakon-lakon, seperti: Si Pitung, Pitung Rampok Betawi, Bonceng Kawan, Angkri Digantung, dan lain-lain.

Sedangkan lagu Gambang Kromong yang terkenal adalah Jali-Jali. Sedangkan lagu jenis Nina Bobok kebanggaan Gambang Kromong, berjudul indung-indung.

Orkes ini memiliki repertoar asli dalam bahasa Cina, yang disebut sebagai lagu-lagu Phobin. Karena para penyanyinya kebanyakan terdiri dari wanita-wanita pribumi, maka repertoar Phobin tidak dinyanyikan, melainkan dimainkan sebagai “gending” (instrumental).

Hal itu, bukan karena komposisi-komposisi tersebut memang bersifat gending, karena banyak di antaranya yang benar-benar merupakan “Lied” atau lagu untuk nyanyian vokal. Lagu-lagu phobin yang populer seperti Soe Say Hwee Bin (Joo Su Say sudah kembali), Kim Hoa Tjoen (bunga Kim Hoa berkembang), Pek Bouw Tan (bunga Bow Tan nan putih), Kong Djie Lok, Djien Kwie Hwee (pulang kembalinya pahlawan bernama Siek Jin Kwie).

Dahulu, pada masa Hindia Belanda orkes-orkes Gambang Kromong yang bersifat Cina-Indonesia itu, seringkali tidak mempunyai biduanita-biduanita yang dapat menyanyikan Po-bin-po-bin dalam bahasa Cina. Karena itulah lagu itu dimainkan secara instrumental saja, padahal sebagian besar harus dinyanyikan, karena merupakan melodi-melodi vokal.

BACA :  Perayaan "Peh Cun" Berdasarkan Penanggalan Imlek

Lagu-lagu berbahasa Indonesia yang dimainkan oleh orkes Gambang Kromong ialah lagu memuja bunga serta tokoh, misalnya Pecah-Piring, Duri Rembang, Temenggung Menulis, Co Nio Rindu, Tion Kong In, Engko si Baba, dan selain itu cerita mengenai peristiwa lampau, umpamanya seperti Bonceng Kawan, cerita Pitung Rampok Betawi, cerita Angkri Digantung di Betawi. Adapun salah satu lagu pengantar tidur yang populer masa itu adalah indung-indung.

Atas prakarsa Nie Hoe Kong, penggabungan alat-alat musik yang biasa terdapat dalam gamelan (pelog dan selendro) digabungkan dengan alat-alat musik yang berasal dari Tiongkok.

Pada masa lalu, orkes Gambang Kromong hanya dimiliki oleh babah-babah peranakan yang tinggal di sekitar Tangerang, Bekasi, dan Jakarta. Di samping untuk mengiringi lagu, Gambang Kromong biasa dipergunakan untuk pengiring tari pergaulan yakni tari Cokek, tari pertunjukan kreasi baru dan teater Lenong.

Dalam konteks kekinian, musik gambang kromong sudah nyaris hilang. Derasnya arus modernisasi sudah menggusur adat istiadat, seni dan budaya lokal dan campuran yang kita miliki.

Untuk itu, perlu ada kebijakan dan itikad baik dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan, kalangan seniman dan masyarakat pada umumnya untuk terus melestarikan kesenian dan kebudayaan seperti Gambang Keromong. (Hendra/Soed)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler