Connect with us

METROPOLITAN

WH Berpuisi dan Melayani

Published

on

Tangerang, Banten Hits.com– Butuh energi dan waktu “tersendiri” untuk menikmati sebuah puisi. Terlebih, untuk bisa sampai pada tahapan mencipta deretan kata-kata penuh makna. Setidaknya, itulah yang dirasakan sebagian orang. Lalu, bisakah puisi tercipta di antara beban kerja yang mendera?

Wahidin Halim sang walikota yang kerap tak terduga, memberi jawaban untuk pertanyaan di atas. Wahidin telah berhasil menghadirkan puisi di sela-sela kewajiban melayani.

Tangerang, Banten Hits.com– Butuh energi dan waktu “tersendiri” untuk menikmati sebuah puisi. Terlebih, untuk bisa sampai pada tahapan mencipta deretan kata-kata penuh makna.

Setidaknya, itulah yang dirasakan sebagian orang. Lalu, bisakah puisi tercipta di antara beban kerja yang mendera?

BACA :  Terpanggil untuk Demo UU Omnibus Law di Jakarta hingga Bela-belain Ngompreng, Puluhan Pelajar di Tangerang Diangkut Polisi

Wahidin Halim sang walikota yang kerap tak terduga, memberi jawaban untuk pertanyaan di atas. Wahidin telah berhasil menghadirkan puisi di sela-sela kewajiban melayani.

Wahidin mencatat, sudah sekitaran 100 puisi ditulisnya. “Dalam ruang waktu, saya kerap menorehkan tinta pada lembar memo. Menuliskan bait kata pada media SMS. Ini saya lalukan tidak hanya pada waktu senggang. Tapi juga saat rapat, dengar pendapat atau apa saja, saat saya menemui sesuatu yang menggelitik saya untuk menulis,” kata Wahidin yang akrab dipanggil WH.

Maka, alhasil karyanya ini dikatakan WH, tidak hanya tertuang dalam lembaran kertas.  Tapi juga media sosial lain seperti SMS dan media lainnya. Karena, diakui lelaki berperawakan tinggi ini, ia kerap mengirim puisi miliknya kepada teman, kerabat atau bawahannya di jajaran SKPD sekalipun.

BACA :  Pengurukan Jalan GJA Teuku Umar Diharapkan Tepat Waktu

Realitas sosial, suara rakyat, perkembangan kehidupan nasional tak luput dari pantauannya untuk digoreskan menjadi sebuah puisi. Salah satu yang menginspirasi WH adalah nasib KORPRI yang pernah digambarkan Iwan Fals dalam sosok Umar Bakri.
WH pernah merasa pilu melihat nasib Korpri yang terkungkung dengan kemalangan.

” Saya melihat, bagaimana Korpri dulu dengan nasibnya yang malang. Korpri yang ada dalam dekapan kekuasaan akan tetapi tidak dapat menyejahterakan. Di sana saya terpanggil menulis cerita itu menjadi bait pusi berjudul ‘Lusuh Nasibmu’,” terang WH. 

Kepada Banten Hits.com WH mengatakan, sudah berencana akan mengumpulkan seluruh bahan puisinya untuk dibukukan. (Riani)



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler