Connect with us

ESSAI

Mencari Jalan Sunyi

Published

on

Syahdan, dalam sebuah hikayat disebutkan: seorang lelaki melakukan perjalanan, menyusuri pinggiran kali yang panjang menuju ke hulu. Setiap kali melihat pohon—sebut saja jambu air—yang ada di pinggir kali, kemudian dia menepi. Lalu menemui si pemilik pohon tadi.

“Wahai, saudaraku. Siapakah pemilik pohon jambu air ini?” tanya si lelaki.

Syahdan, dalam sebuah hikayat disebutkan: seorang lelaki melakukan perjalanan, menyusuri pinggiran kali yang panjang menuju ke hulu. Setiap kali melihat pohon—sebut saja jambu air—yang ada di pinggir kali, kemudian dia menepi. Lalu menemui si pemilik pohon tadi.

“Wahai, saudaraku. Siapakah pemilik pohon jambu air ini?” tanya si lelaki.

Si pemilik pohon jambu air menjawab, “Saya pemilik pohon jambu air ini. Apa yang bisa saya bantu, Saudaraku?”

Lalu si lelaki itu menceritakan maksudnya menemui pemilik pohon jambu air itu. Dia bercerita, pada satu hari yang terik dan mengundang dahaga yang sangat. Di atas air kali yang mengalir, hanyutlah sebuah jambu air.

Tanpa berpikir panjang, lelaki tadi kemudian memungut jambu air tersebut, lalu memakannya. Usai memakan jambu air tadi, tiba-tiba saja si lelaki merenung. Perenungan yang mungkin “tak lazim” terjadi, di jaman yang penuh sesak oleh manusia yang haus mengejar kuasa dan harta.

Si lelaki tadi tak habis-habisnya berpikir dan berdebat sendiri. Dia menyadari, bagaimana mungkin jambu air yang hanyut di atas kali tersebut bisa dimakan olehnya. Padahal tak jelas siapa pemilik jambu air itu.

“Karena itulah, Saudaraku. Saya menyusuri pinggiran kali yang panjang ini, untuk memintakan kerelaan dari siapapun pemilik jambu air yang saya temukan dulu. Saya yakin, karena jambu air tersebut saya temukan di atas kali, maka pohonnya pasti tak jauh dari kali. Apakah engkau pemilik jambu yang saya maksud dalam cerita tadi?” tanya si lelaki ke pemilik pohon yang ditemuinya itu.

Si pemilik pohon menjawab, “Saya bukan pemilik pohon jambu air yang Anda maksud, Saudaraku. Ketahuilah, di sepanjang kali ini yang menuju ke hulu, ada banyak pohon serupa. Mungkin engkau bisa menanyakannya ke pemilik pohon berikutnya,” jawab si pemilik pohon.

Begitulah si lelaki tadi menyusuri pinggir kali, lalu menanyai setiap pemilik pohon jambu air yang ia temui di pinggir kali.

Dalam konteks kekinian, adalah hal yang sulit menemukan sikap adiluhung seperti yang ditunjukkan oleh lelaki dalam cerita tadi. Pernyataan sederhananya, jika sikap lelaki tadi hinggap dan menular di kepala-kepala orang Indonesia, mungkin Indonesia tak perlu KPK atau lembaga sejenisnya.

Saya tiba-tiba saja mengingat dan ingin sekali menuliskan cerita lelaki tadi, setelah terkaget-kaget oleh pengakuan seseorang anggota Polri yang saya kenal. Meski kami tak kenal dekat, tapi si anggota Polri itu tak merasa ada sekat di antara kami. Dia pun bercerita panjang lebar tentang hal-hal yang dia alami. Cerita yang mungkin tabu untuk dua orang yang tak saling kenal dekat.

Di depan sebuah warung rokok yang berada di pinggir jalan—persis di samping markas polisi tempat dia bertugas—mengalirlah cerita itu.

Awal cerita ditandai dengan kemudahan “si brigadir kepala” ini dalam mendapatkan sejumlah uang. Mulai dari setoran pedagang VCD bajakan, bbm ilegal, judi, bahkan sampai jadi backing mafia yang kenal dekat dengan jenderalnya.

Namun, di balik kemudahannya mendapatkan sejumlah uang itu. Ada gurat penyesalan yang dirasakan batinnya.
“Uang memang mudah saya dapat saat itu. Tapi, saat itu pula hampir setiap bulan anak saya yang masih balita pasti masuk ke rumah sakit. Kalau tidak sakit pasti terkena musibah. Pernah anak saya tersiram air panas dari termos,” katanya.

Setiap musibah—mulai dari anak sakit sampai yang lainnya—selalu dilaporkan si brigadir kepala ini ke atasannya. Lalu, apa yang dilakukan si atasan polisi tadi mendengar keluhan anak buahnya? Sang atasan hanya bilang, “Ingat-ingat kembali apa yang telah kamu makan dan apa yang telah kamu lakukan sama orang lain.”

Sejak saat itu menurut pengakuan si brigadir kepala, dirinya hampir tak pernah mau menikmati uang yang tak jelas asalnya. “Kasihan saya sama anak saya,” akunya.

Namun, memilih jalan pilihan sekarang memang tak mudah bagi “si brigadir kepala” itu. Dia harus siap diasingkan, atau mengasingkan diri dari hiruk-pikuk yang menjadi sumber perenungannya.

Dua cerita berbeda jaman yang dituliskan di atas, mungkin terdengar klise di saat kondisi korupsi menggurita di negeri ini. Di saat hampir di setiap kepala manusianya, hanya ada harta dan kuasa. Namun, harapan untuk lebih baik akan selalu ada. Dan yang pasti kita harus memulai dari diri sendiri…… 
 

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 5 =

Trending