Connect with us

WISATA

Rumah Kayu Goen, Inspirasi dan Budaya yang Lestari

Published

on

Memasuki kawasan Rumah Kayu Goen, kita seperti diajak untuk menyusuri kembali jejak sejarah. Ada peninggalan salah satu budaya besar di dunia, yang masih bisa kita nikmati di setiap sudut kawasan ini.

 Rumah Kebaya, salah satu bangunan yang menarik di sini. Dari namanya, sepintas orang akan mengira, Rumah Kebaya adalah rumah tempat pembuatan atau ruang pamer kebaya.

Ternyata, setelah Banten Hits.com memasuki rumah ini, tak ada ruang pamer kebaya seperti yang diduga sebelumnya. Menurut Goenawan (65), pemilik Rumah Kayu Goen, pemberian nama Rumah Kebaya pada bangunan tersebut, karena bentuknya memanjang seperti selembar kain kebaya.

Rumah Kebaya ini adalah rumah adat Tangerang. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Tangerang Soma Atmaja dalam sebuah kesempatan membenarkan tentang itu.

BACA :  Musim Libur Panjang Pemprov Banten Diprediksi Bisa Raup Pendapatan Besar, Asal

“Rumah Kebaya adalah rumah adat asli Tangerang,” kata Soma.

Saksikan (Video: Menikmati Arsitektur Rumah Kayu Goen yang Anggun)

Rumah Kebaya adalah bangunan yang seluruhnya menggunakan bahan dari kayu. Kecuali atap dan lantai, seluruh bahan rumah ini menggunakan material dari kayu-kayuan yang tumbuh di sekitar kampung ini.

Sebenarnya, jika anda mengunjungi kawasan ini, Rumah Kebaya dapat kita jumpai di sedikitnya lima desa seperti Ciakar, Peusar, Panongan, Ranca Kelapa dan Ranca Hulu. Semua berada di dalam kawasan Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang.

Masih banyak warga di kawasan yang dihuni oleh masyarakat keturunan etnis Cina ini, yang masih mempertahankan bentuk rumah asli mereka.

Namun, Rumah Kebaya yang ada di kawasan Rumah Kayu Goen memang didesain khusus. Arsitektur tradisional Cina Benteng tampak khas pada bangunan ini. Sementara pada bagian dalam Rumah Kebaya, nuansa tradisional klasik terasa sekali berkat paduan mebeler dari kayu bermutu yang memiliki nilai seni tinggi.

BACA :  Jadi Duta Wisata, Ini Kriteria yang Harus Dimiliki Kang Nong Kota Tangerang

Pada bagian Rumah Kebaya, pembaca yang mengunjungi tempat ini, akan melihat berbagai ornamen dan peninggalan kebudayaan Cina. Di antaranya adalah pakaian prajurit kerajaan Dinasti Ming.

Setelah puas menikmati keanggunan arsitektur pada Rumah Kebaya, mata pengunjung akan dibuat takjub dengan pemandangan lainnya di kawsan Rumah Kayu Goen ini. Keberadaan kandang kerbau, lumbung padi, dan danau buatan, menambah kental suasana pedesaan di tempat ini.

Sang kreator kawasan ini, pada awalnya memang sengaja membuat tempat ini sebagai tempat untuk tetirah. Goenawan yang pengrajin kayu, menangkap ide membuat kawasan Rumah Kayu Goen dari kebiasaan masyarakat sekitar kampung itu.

Saat ini, Rumah Kayu Goen berada di area seluas 6000 M2. Pada saat didirikan tanggal 1 Oktober 2005 lalu, Goenawan berharap, ke depannya Rumah Kayu Goen bisa menjadi aset bangsa dan budaya daerah, sekaligus tempat wisata di Kabupaten Tangerang.

BACA :  Pemkab Lebak Buka Lebar Investasi Sektor Pariwisata

“Saya berharap ini (Rumah Kayu Goen) bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk melestarikan budaya daerah,” harap Goenawan.

Keinginan Goenawan, mulai menemui jalan menyusul apresiasi yang diberikan oleh Bupati Tangerang Ismet Iskandar saat itu. Selain meresmikan Rumah Kayu Goen, Bupati Tangerang Ismet Iskandar juga memberikan nama Rumah Kayu Goen sebagai nama jalan di kawasan itu.

Ya, Jalan Rumah Kayu Goen  di kawasan Panongan. Jalan yang kelak mengajak kita untuk gemar melestarikan  kebudayaan.. (Rus)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler