Connect with us

METROPOLITAN

Harapan Baru bagi Bayi Itu..

Published

on

Bagi seorang ibu, suara tangis bayi itu ibarat alarm atau semacam tombol perintah otomatis. Ketika tangis terdengar, tangan ibu pasti langsung menyosorkan susu, atau memeriksa celana si bayi. Begitulah, seperti yang kita mafhum bersama, tangis bayi bukan hanya sekadar bunyi. Tapi tangis adalah bahasa komunikasi bayi. Lapar, haus, atau ketika bayi merasa tak nyaman karena popok sudah basah pun, pasti ditunjukkan lewat tangis.

Bagi seorang ibu, suara tangis bayi itu ibarat alarm atau semacam tombol perintah otomatis. Ketika tangis terdengar, tangan ibu pasti langsung menyosorkan susu, atau memeriksa celana si bayi. Begitulah, seperti yang kita mafhum bersama, tangis bayi bukan hanya sekadar bunyi. Tapi tangis adalah bahasa komunikasi bayi. Lapar, haus, atau ketika bayi merasa tak nyaman karena popok sudah basah pun, pasti ditunjukkan lewat tangis.

Maka, tak ada tangis bayi tak ada pula komunikasi verbal antara orang tua dan si bayi. Orang tua pun pasti bingung jika bayi mereka hening dari tangis.

BACA :  Sebelum Serang Polisi di Tangerang, Sultan Sempat Menghilang ke Ciamis

Raut kebingungan itulah yang ditunjukkan pasangan suami isteri Miftahul Arif dan Nur Syabri Arifin, warga Kelurahan Medang, RT.05/02, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten.

Bukan hanya bingung karena Salsabila—anak pertama mereka yang baru dilahirkan pada 17 Februari lalu itu—tak bisa menangis. Tapi, lebih dari itu, mereka harus menerima kenyataan, Salsabila lahir tanpa rahang dan kulit muka.

Dalam bahasa medis, kelainan ini disebut sumbing muka. Kebingungan semakin bertambah, ketika dokter meyakinkan hanya operasi satu-satunya jalan supaya Salsabila dapat terlihat normal.

Bagi pasangan suami isteri yang hanya mengandalkan penghasilan dari suami yang seorang mekanik di sebuah bengkel, kata operasi itu ibarat bintang yang tak mungkin digapai dengan kemampuan mereka seperti sekarang.

Karena alasan biaya itulah, pasangan suami isteri ini memilih merawat bayi mereka dengan perawatan sekadarnya di rumah kontrakan mereka.

“Saya rutin memeriksakan kandungan saat hamil dulu. Bahkan saya juga USG, dan tak ada kelainan,” kata Nur Syabri pilu.

Namun, menurut Nur, saat usia kandungan menginjak 35 minggu, air ketuban di kandungannya dinyatakan dokter kering. Atas kondisi itu, Nur Syabri harus menjalani operasi caesar untuk menyelamatkan bayi dan ibunya.

BACA :  Jelang HKN, Pemkot Tangerang Gelar Donor Darah

“Setelah (operasi) caesar berhasil, anak saya terlahir seperti sekarang,” jelas Nur Syabri pelan.

Di tengah kebingungan yang mendera pasangan suami isteri ini, sebuah keajaiban tiba-tiba menghampiri mereka.

Tanpa terbayangkan sedikit pun, Kamis (21/03/2013) siang, rumah pasangan suami isteri ini dikunjungi Ahmed Zaki Iskandar, Bupati Tangerang yang esok harinya akan menjalani pelantikan sebagai Bupati Tangerang periode 2013-2018.

Setelah melihat kondisi bayi, Zaki kemudian meyakinkan kedua orang tuanya supaya mereka mau membawa bayi mereka ke rumah sakit untuk menjalani operasi. Lalu, di bawalah Salsabila ke RS Siloam Karawaci untuk menjalani operasi.

Dokter Raymond Ongki, dokter ahli anak di RS Siloam meyakinkan, kondisi Salsabila bisa terlihat normal setelah menjalani operasi. “Bisa normal kembali, walau tanda-tanda genetiknya tetap ada,” kata Dokter Ongki.

Sementara, saat ditanya wartawan mengenai program kesehatan bagi warga miskin di Kabupaten Tangerang, Zaki mengatakan, sektor kesahatan adalah salah satu sektor prioritas pelayanan di Kabupaten Tangerang.

BACA :  Ini Pendapat Zaki Soal Kekurangan dan Kelebihan UN Online

Zaki menegaskan, peristiwa seperti yang dialami Salsabila takkan pernah bisa dicover oleh pemerintah Kabupaten Tangerang tanpa ada informasi.

“Kami berharap informasi-informasi semaca ini bisa sampai ke kami,” kata Zaki.

Pemerintah Kabupaten Tangerang sendiri menurut Zaki, sudah menyiapkan program kartu sehat. Selain program Jamkesda yang sudah berjalan.

“Bertahap memang. Kita siapkan programnya. Paralel dengan itu, kesiapan puskesmas dan rumah sakit juga harus sudah terlaksana. Jangan sampai ada program kartu sehat tapi warga tak bisa berobat karena sarana belum siap,” ungkap Zaki.

Ke depan menurut Zaki, pemerintah Kabupaten Tangerang tak hanya mengcover warga miskin saja. Lewat kartu sehat, buruh pabrik di Kabupaten Tangerang juga akan digratiskan biaya pengobatannya.

Setelah selesai mengantar bayi sumbing muka untuk menjalani operasi, Zaki pun kemudian berlalu meninggalkan keluarga Salsabila. Semoga dengan kehadiran Bupati Zaki, tangis bahagia akan segera hadir bukan hanya untuk Salsabila, tapi untuk semua warga di Kabupaten Tangerang…..



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler