Connect with us

GAYA HIDUP

Semudah Menghirup Coklat Hangat di Dunkin Donut

Published

on

Di bangku sofa kafe itu, setumpuk buku dan modul kuliah diletakan Vina (20), mahasiswi Semester 4 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta. Lalu, Vina menuju meja pelayan memesan segelas coklat hangat dan beberapa potong donut.

Tak lama berselang, Vina nampak sudah larut mempelajari bahan kuliah. Di antara potongan donut dan cokelat hangat, juga suara canda tawa penghuni meja lainnya, Vina larut dalam dunianya sebagai mahasiswa. Belajar sambil “kongkow”.

Persis di samping Vina, sepasang muda-mudi yang juga berstatus mahasiswa, tampak terlibat tanya jawab. Si mahasiswi bernama Selin (18), dengan dipandu bahan ajar dari kampusnya, melontarkan pertanyaan kepada rekannya, Filemon (18). Kedua muda-mudi ini adalah mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) Tangerang.

Di bangku sofa kafe itu, setumpuk buku dan modul kuliah diletakan Vina (20), mahasiswi Semester 4 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta. Lalu, Vina menuju meja pelayan memesan segelas coklat hangat dan beberapa potong donut.

Tak lama berselang, Vina nampak sudah larut mempelajari bahan kuliah. Di antara potongan donut dan cokelat hangat, juga suara canda tawa penghuni meja lainnya, Vina larut dalam dunianya sebagai mahasiswa. Belajar sambil “kongkow”.

Persis di samping Vina, sepasang muda-mudi yang juga berstatus mahasiswa, tampak terlibat tanya jawab. Si mahasiswi bernama Selin (18), dengan dipandu bahan ajar dari kampusnya, melontarkan pertanyaan kepada rekannya, Filemon (18). Kedua muda-mudi ini adalah mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) Tangerang.

Belajar dengan cara seperti itu, buat mereka ternyata lebih enjoy. Mereka mengaku, rumah buat mereka praktis hanya untuk total beristirahat.

“Belajar di sini, lebih dapat. Di rumah, saya biasanya hanya untuk tidur aja,” ujar Selin yang juga diamini oleh Filemon.

Vina, mahasiswi lainnya juga mengatakan, dirinya butuh suasana santai supaya bisa mengulang kembali bahan ajar yang diberikan dosennya saat kuliah.

“Kalau di rumah kayaknya sumpek. Butuh suasana santai untuk mempelajari kembali materi kuliah sebanyak ini,” kata Vina sambil menunjuk tumpukan buku dan modul kuliah yang dibawanya ke kafe itu.

Para mahasiswa ini merasa tak risi harus belajar di tengah keramaian pengunjung kafe lainnya. “Justru di tempat begini kami lebih mendapatkan suasana untuk belajar,” jelas Vina.

Apa yang dilakukan para mahasiswa di atas adalah pola pergeseran paradigma anak-anak jaman sekarang. Jaman yang serba mudah, maka belajar pun harus dibuat mudah, semudah mengirup coklat hangat dan menikmati manisnya donut.

Belajar buat anak jaman sekarang bukan lagi suasana keterpaksaan. Di dalam kungkungan rumah dan pengawasan orang tua.

Belajar bagi anak sekarang adalah santai. Belajar sambil melepaskan kepenatan dengan berada di luar rumah. Mereka memang bukan anak rumahan. Tapi bukan berarti tak peduli sama kewajiban.

Di luar rumah, mereka sudah menunjukan diri sebagai anak-anak yang punya kewajiban untuk belajar…(Rus)

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − 1 =

Trending