Connect with us

WISATA

Menyapa Kawanan Monyet Liar di Hutan Solear

Published

on

Menikmati hutan Solear yang sejuk, sambil sesekali melemparkan makanan ke kerumunan monyet liar di kawasan hutan itu, cukup menghilangkan capek dan panas yang menyengat.

Sepanjang yang saya dengar, Solear adalah tempat sekumpulan monyet liar yang cepat akrab dengan pengunjung yang mendatangi tempat ini. Saya membuktikan sendiri. sekumpulan monyet itu langsung berlompatan riang ketika saya datang.

Pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan sekawanan monyet ini, dengan cara memberi makanan, berupa kacang atau pisang yang dijual di sekitar lokasi hutan Solear ini.

Kera-kera ini sendiri tampak patuh dan seperti mengerti dengan suara-suara khusus yang diperdengarkan oleh penjaga kawasan hutan Solear.

Kawasan hutan Solear memiliki luas 4,5 hektar. Kawasan ini berada di Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Banten. Kecamatan ini adalah kecamatan pemecahan dari Kecamatan Cisoka yang menjadi kecamatan induk sebelumnya.

Untuk bisa sampai ke lokasi ini, ada dua rute yang bisa ditempuh: lewat Tigaraksa atau melalui Balaraja, kemudian masuk ke Cisoka. Rute ini gampang ditempuh, mengingat hampir semua orang yang bermukim di sekitar Cisoka dan Tigaraksa mengetahui rute menuju kawasan ini.

Jika musim liburan atau weekend, kawasan ini selalu dipadati turis lokal yang tinggal di sekitar Kabupaten Tangerang. Selain pengunjung yang ingin menikmati sejuknya hutan Solear, banyak juga pengunjung dari luar daerah yang ingin berziarah ke salah satu makam yang ada di hutan Solear ini.

Menurut Hasan (68), kuncen (penunggu) kawasan tersebut, makam yang terdapat di dalam kawasan Solear, adalah makam seorang ulama dari Banten bernama Syekh Mas Masad bin Hawa.

Ada sebuah pengetahuan umum di tengah masyarakat Solear. Nama Solear ini sendiri berasal dari kata kasorean (kesorean). Kalimat kasorean tersebut ditujukan bagi ulama yang singgah di tempat itu pada sore hari (Edy Rustan Efendy, 2010:26). Dari situlah kemudian kata Solear mulai populer di kalangan masyarakat.

Selain makam keramat dan sekumpulan monyet, Solear sendiri sebetulnya punya magnet lain. Sungai Cimanceuri yang mengelilingi Solear, sebenarnya jika dikelola bisa menjadi magnet tersendiri bagi kawasan Solear ini.

Menyusuri sungai, sambil sesekali mengintip tingkah monyet-monyet liar di atas dahan, adalah pemandangan yang jarang didapatkan mereka yang tinggal di perkotaan.

Namun, sayang. Sejak nama Solear populer secara alami, belum ada pengelolaan yang serius dari pemerintah setempat atau pun pihak swasta yang ingin mengembangkan tempat ini.

Kini, hutan Solear dibiarkan tumbuh dan berkembang secara alami. Di tempat ini, sejumlah fasilitas umum bagi pengunjung, tampak tak terawat dengan baik.

Padahal, di Solear, aura pariwisata itu sudah tampak keluar. Memang butuh keseriusan berbagai pihak, supaya kawasan ini bisa dikelola dengan baik dan menjadi tempat wisata andalan masyarakat Kabupaten Tangerang. (Rus)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 12 =

Trending