Connect with us

ESSAI

Jalan Menuju Sehat dengan Olahraga dan Olahkata

Published

on

Mereka yang gemar melakukan aktivitas pagi—seperti joging, bersepeda, atau ragam aktivitas lainnya—menurut saya adalah orang yang pandai menghargai pagi. Dan sejatinya berolahraga, adalah bukan sekadar gerak fisik. Olahraga merupakan laku hidup sehat, sekaligus sikap untuk menjauhkan diri dari pengaruh hidup instan.

Manusia instan biasanya malas berproses. Dia menganggap, sehat bisa dibeli dengan satu tablet vitamin, atau satu pencetan tombol di alat pembakar kalori. Era digital memang melahirkan orang-orang artifisial, bukan?

Keringat dari hasil gerak tubuh dan sentuhan matahari hari langsung, adalah hal yang tak mungkin digantikan oleh mesin. Kita ingat, bagaimana proses fotosintesis bagi tumbuh-tumbuhan, membutuhkan sinar matahari langsung bagi keberlangsungan proses. Atau ketika SD sampai SMA dulu, guru olahraga kita selalu mengatakan, sinar matahari pagi dipercaya bisa menambah asupan vitamin D bagi kekuatan tulang.

Mereka yang gemar melakukan aktivitas pagi—seperti joging, bersepeda, atau ragam aktivitas lainnya—menurut saya adalah orang yang pandai menghargai pagi. Dan sejatinya berolahraga, adalah bukan sekadar gerak fisik. Olahraga merupakan laku hidup sehat, sekaligus sikap untuk menjauhkan diri dari pengaruh hidup instan.

Manusia instan biasanya malas berproses. Dia menganggap, sehat bisa dibeli dengan satu tablet vitamin, atau satu pencetan tombol di alat pembakar kalori. Era digital memang melahirkan orang-orang artifisial, bukan?

Keringat dari hasil gerak tubuh dan sentuhan matahari hari langsung, adalah hal yang tak mungkin digantikan oleh mesin. Kita ingat, bagaimana proses fotosintesis bagi tumbuh-tumbuhan, membutuhkan sinar matahari langsung bagi keberlangsungan proses. Atau ketika SD sampai SMA dulu, guru olahraga kita selalu mengatakan, sinar matahari pagi dipercaya bisa menambah asupan vitamin D bagi kekuatan tulang.

Maka, para tetua di kampung saya menularkan kepercayaan turun temurun. Anak yang sedang belajar berjalan, disarankan untuk dilatih berjalan di atas rerumputan yang terkena sinar matahari pagi, sambil sesekali kakinya diusap embun. Itu proses supaya kaki anak kuat dan bisa cepat berjalan.

Sekali lagi, saya mengapresiasi sekali manusia-manusia pagi yang menikmati pagi dengan ragam aktivitas yang berhubungan dengan gerak tubuh.

Namun, apakah orang yang gemar berolahraga sudah dipastikan sehat? Saya bukan dokter, ahli kesehatan, atau sejenisnya. Tapi untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya teringat tentang Hippocrates, pendiri ilmu pengobatan Yunani yang dilahirkan di Pulau Cos sekitar 460 SM.

Hippocrates mengatakan, jalan menuju kesehatan bagi setiap orang adalah melalui sikap moderat, keselarasan, dan “jiwa yang sehat di dalam badan yang sehat”. Menurut Hippocrates, pelindung paling penting untuk melawan penyakit adalah sikap tidak berlebihan  dan cara hidup yang sehat. Kesehatan bagi Hippocrates adalah kondisi alamiah. Jika penyakit datang, itu tanda bahwa alam telah melenceng dari jalurnya dikarenakan adanya ketidakseimbangan fisik atau mental.

Hippocrates menggarisbawahi, kesehatan adalah tentang keseimbangan fisik dan mental. Jika sehat secara fisik bisa ditempuh dengan olahraga, sehat mental mungkin salah satunya bisa ditempuh dengan olahkata. Maka, Umbu Lambu Paranggi pernah mengutip ucapan Mohtar Pabottinggi: puisi bisa mencegah manusia dari gila.

Lalu, Agus Darmawan seorang kritikus menuliskan dalam opini Koran Tempo, Sabtu (13/04/2013), esensi kesenian adalah menyarankan setiap orang untuk berbuat baik. Sementara muatan kesenian adalah refleksi dari ikhwal menggetarkan dan menggentarkan yang terjadi dalam masyarakat. Bahkan menurut Agus, Kesenian mampu menangkap lebih dulu setiap gejala yang terjadi di dalam masyarakat.

Tak berlebihan memang ungkapan Mohtar Pabottinggi tadi, bahwa puisi bisa mencegah manusia dari gila. Proses olahkata adalah lahir dari sebuah permenungan yang dalam. Dalam proses olahkata tersebut, dibutuhkan kepekaan untuk merangsang penggunaan nilai-nilai kemanusiaan bagi seluruh indera.

Dari proses olahkata, apa yang tertangkap mata tentang –kemiskinana misalnya—tak hanya disajikan telanjang soal derita. Lebih dari itu, proses olahkata harus mampu menggugat pemangku kebijakan dan mengajak khalayak untuk merasakan, bahkan ikut mencarikan solusi untuk kemiskinan tadi.

Maka, para pemuja kata-kata—istilah Putu Fajar Arcana—seperti juga para olahragawan, harus lahir dari sebuah proses. Sebuah olahkata butuh keringat dari gerak tubuh dan disengat sinar matahari pagi, seperti proses yang dilakukan para pemuja olahraga. Dan yakinlah, keringat dari gerak tubuh dan hasil disengat sinar matahari, akan selalu terlihat ciamik. Dia otentik bukan kosmetik…

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 1 =

Trending