Connect with us

PERSONA

Calon Bidan yang Ingin Mengabdi di Pedalaman

Published

on

Tak semua orang merasa nyaman jika ditugaskan di daerah pedalaman. Butuh orang yang bermental kuat dan jiwa pengabdiannya tinggi, bagi mereka yang bertugas di daerah pedalaman.

Bagaimana tidak, pedalaman selalu menawarkan kesulitan dan tantangan. Jauh dari pelbagai kemudahan yang bisa didapat di perkotaan. Praktis, tak semua orang siap jika dihadapkan dengan segala kesulitan.

Adalah Azzah Zahra (21), mahasiswi program studi kebidanan semester akhir di Sekolah Tinggi Ilmi Kesehatan (STIKES) Banten, orang yang menyatakan siap dengan tantangan di pedalaman ini.

Berawal dari sebuah bencana tsunami yang menimpa daerah Aceh pada 2006 lalu, “gairah” Azzah untuk melakukan pengabdian di pedalaman Aceh, telah menjelma jadi ambisi.

BACA :  Terpilih Jadi Wakil Walikota, Sanuji Pentamarta Bakal 'Mati-matian' Bangun Kota Cilegon

Gadis berjilbab ini mengaku,, sudah ingin cepat-cepat mengabdi di pedesaan yang kurang tenaga kesehatannya. Sabang, daerah yang menjadi keinginannya untuk mengabdi, menjadi tenaga medis, terutama untuk membantu ibu melahirkan di sana.

“Aku mau banget ditugaskan di pedalaman Indonesia bagian Sabang, terutama pada pedalaman  Aceh,” aku gadis 21 tahun yang biasa dipanggil Azzah itu.

Bukan daerah perkotaan yang menjadi pilihan Azzah ini. Namun, sebuah kawasan pedalaman yang sedang dalam masa pemulihan bangunan, sarana kesehatan, dan beberapa kawasan yang masih endemi terhadap penyakit.

Walaupun sudah 7 tahun lampau, Azzah menilai kualitas kesehatan di sana masih tetap memerlukan tenaga seperti dia.

“Aku ingin memakai tangan sendiri, membantu warga di sana. Pokoknya selesaikan pendidikan dulu saja di sini, insya Allah
jika ada kesempatan pasti aku ke sana,” pungkasnya.

BACA :  Tajudin, Warga Pinggiran Baduy yang Sukses Duduk di Parlemen

Di sana, jelas Azzah, bidan atau tenaga kesehatan sangat dibutuhkan. Jika lulus nanti, bukan rumah sakit atau membuka praktek sendiri yang menjadi ambisi wanita yang gemar travelling ini, namun menjadi tenaga di puskesmas terpencillah yang menjadi targetnya saat lulus nanti.

Selain itu, wanita yang terbiasa mengobati penyakit dalam dengan luka mengenaskan saat praktek kuliahnya, juga mempunyai keinginan merawat ayahnya yang terkena diabetes.

“Ayah yang jadi inspirasi aku untuk ambil kebidanan,” katanya.

Padahal dulu, Azzah mengaku ingin menjadi seorang PR atau aktifis hubungan internasional.Tetap saja, cita-cita dulunya ingin menjadi seorang PR atau HI akan tetap ada bersama dirinya sebagai seorang bidan. Bidan pun, ujarnya, bisa juga terjun langsung ke masyarakat untuk menyampaikan berbagai macam penyuluhan kesehatan. Atau bisa juga menjadi pendamping kedutaan sama halnya sebagai seorang HI atau PR.

BACA :  Iyus Gusmana, Tukang Urut yang Jadi Wakil Rakyat

“Jadi aku pikir, menjadi seorang bidan lebih mulia dibandingkan PR atau HI,” katanya sembari tertawa.

Saat ini, untuk memenuhi semua target masa depannya, Azzah tengah konsentrasi menyelesaikan tugas kompre untuk bisa melanjutkan ke tahap praktek kerja lapangan di Magelang, Jawa Tengah. (Rus)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler