Connect with us

METROPOLITAN

Pabrik Kuali tak Manusiawi Digerebek Polisi

Published

on

Banten Hits.com– Sebuah pabrik rumahan pembuat kuali dan panci alumunium di Kampung Bayur Kopak, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, digerebek satuan resrse kriminal (Reskrim) Polres Metropolitan Tangerang Kabupaten, Jumat (03/05/2013) sore.

Pabrik rumahan kuali dan panci alumunium ini, dilaporkan telah melakukan penyekapan dan penyiksaan terhadap seluruh karyawannya. Laporan penyiksaan dan penyekapan dilakukan oleh Andi Gunawan, salah seorang pekerja yang berhasil meloloskan diri dari tempat ini.

Banten Hits.com– Sebuah pabrik rumahan pembuat kuali dan panci alumunium di Kampung Bayur Kopak, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, digerebek satuan resrse kriminal (Reskrim) Polres Metropolitan Tangerang Kabupaten, Jumat (03/05/2013) sore.

Pabrik rumahan kuali dan panci alumunium ini, dilaporkan telah melakukan penyekapan dan penyiksaan terhadap seluruh karyawannya. Laporan penyiksaan dan penyekapan dilakukan oleh Andi Gunawan, salah seorang pekerja yang berhasil meloloskan diri dari tempat ini.

Saat berhasil kabur, di seluruh tubuh Andi Gunawan ditemukan luka yang sudah mengering.

“Dia berhasil kabur lalu melapor ke Polres Lampung Utara. Setelah itu dia melapor juga ke Komnas HAM,” ungkap Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kabupaten Kompol Shinto Silitonga.

BACA :  Peringati Hari Bhakti Pemasyarakatan, WBP Rutan Rangkasbitung Gelar Aksi Bersih-bersih

Menurut Shinto, atas laporan tersebut, Polres Lampung Utara, Komnas HAM, dan Polres Metro Tangerang Kabupaten, kemudian melakukan penggerebekan. Hasilnya, di industri rumahan kuali dan panci ini ditemukan 25 orang pekerja yang 17 di antaranya masih di bawah umur.

“Saat kami temukan, kondisi para pekerjanya sudah sangat mengkhawatirkan. Pakaian mereka sudah koyak, sementara pada kulit mereka ditemukan sejumlah penyakit kulit,” kata Shinto.

Lebih lanjut Shinto mengatakan, saat pihak kepolisian melakukan penggerebekan, ditemukan sebuah bilik gelap dan pengap yang dikunci dari luar. Di tempat tersebut terdapat enam orang pekerja.

“Ini semakin menguatkan adanya penyiksaan dan tindakan tidak manusiawi,” terang Shinto.

Selain perlakuan tidak manusiawi, industri rumahan ini juga ternyata tidak dilengkapi ijin semestinya. Pengelola hanya melengkapi operasional industri dengan ijin dari Kecamatan Cikupa. Padahal, lokasi industri ini beroperasi di Kecamatan Sepatan.

BACA :  Jabat Kapolda Banten, Irjen Pol Agung Sabar Santoso Fokus Tangani Penambang Emas Ilegal di Lebak

selanjutnya, 25 karyawan yang ditemukan di dalam industri rumahan ini, akan menjalani visum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang.

“Pemilik industri, mandor dan beberapa orang lainnya sudah kami bawa ke Polres untuk diperiksa,” kata Shinto.

Para pelaku ini menurut Shinto, akan dijerat dengan Pasal 33 KUHP tentang pennyekapan dan penghilangan kemerdekaan orang. Selain itu, untuk penganiayaannya kami terapkan Pasal 351,” jelas Shinto.

Sebelumnya diberitakan, Sebuah industri rumahan pembuat kuali di Kabupaten Tangerang, Banten, diduga melakukan kekerasan dan pelanggaran HAM berat terhadap sejumlah karyawannya.

Dugaan kekerasan ini muncul setelah seorang pekerja di tempat tersebut, Jajang Nurjaman (19), pemuda asal Desa Mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kabur dari tempatnya bekerja itu karena tak tahan dengan siksaan.Jajang kabur dari tempatnya bekerja itu pada Selasa (5/2) lalu. Jajang memberanikan diri kabur bersama dua pekerja lainnya asal Cianjur, Jawa Barat.

“Kami ditampar dan ditoyor oleh mandor kalau pekerjaan kami tak sesuai dengan keinginannya,” kata Jajang di rumahnya, Rabu (13/2) seperti ditulis Pikiran Rakyat, Kamis (14/2).

BACA :  Mahasiswa Cikulur: Ciptakan Pilkades Sehat dan Bersih!

Tak hanya itu saja kekerasannya, Hasan, teman Jajang, badannya mengalami sejumlah luka akibat siraman air kimia pelebur besi.

Menurut mereka, penganiayaan yang dilakukan mandor tak hanya dialami mereka saja. Semua pekerja di tempat tersebut mengalami hal serupa. Namun, karena takut,para pekerja yang jadi korban tak ada yang berani melaporkan kekerasan ini.

Hasan juga menambahkan, selain jam kerja mereka diforsir karena harus bekerja dari jam 04.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB, pihak industri rumahan pembuat kuali ini juga tak mengizinkan pekerjanya yang muslim untuk menjalankan shalat Jumat.

Setelah berhasil meloloskan diri, bersama Ketua RW Desa Mekarmukti, Asep Syahroni yang ditemani warga lainnya, akhirnya memulangkan warganya yang bekerja di industri rumahan kuali itu pada Senin (10/02) lalu.

Kini, para korban kekerasan di industri rumahan kuali di Tangerang ini, mengaku kebingungan untuk meminta perlindungan hukum atas semua yang mereka alami.(Rus)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler