Connect with us

METROPOLITAN

Pemkab Akui Lalai dan Mohon Maaf

Published

on

Banten Hits.com – Pemerintah Kabupaten Tangerang Banten merasa tertampar menyusul terbongkarnya praktik perbudakan yang terjadi di pabrik kuali di Kampung Bayur Opak, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Banten.

Adanya praktik tidak manusiawi itu diakui karena kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Pemkab juga menyatakan permohonan maaf kepada keluarga korban.

Banten Hits.com – Pemerintah Kabupaten Tangerang Banten merasa tertampar menyusul terbongkarnya praktik perbudakan yang terjadi di pabrik kuali di Kampung Bayur Opak, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Banten.

Adanya praktik tidak manusiawi itu diakui karena kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Pemkab juga menyatakan permohonan maaf kepada keluarga korban.

BACA :  Polresta Tangerang Turunkan 800 Personil Gabungan Amankan Natal dan Tahun Baru, Sabilul Alif Akan Sanksi Anggota yang Bolos

Sekda Kabupaten Tangerang, Iskandar Mirsad mengemukan hal tersebut di sela-sela pertemuan bersama DPD dan Polres Metro Tangerang, Kabupaten di Kantor Bupati Tangerang, Selasa (07/05/2013).

Mirsad juga menyayangkan tidak adanya laporan dari kepala desa setempat tentang keberadaan pabrik tersebut yang dinilainya ilegal.

“Situasi pengamanan  di sana memang sudah tertata rapi sehingga sulit untuk para buruh melarikan diri. Tapi mengapa home industri ilegal seperti ini bisa menjual barang-barangnya kepada masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut Sekda mengatakan, pihaknya meminta maaf kepada semua keluarga korban yang telah diperlakukan tidak manusiawi saat bekerja di pabrik tersebut dan berjanji. “Apabila mereka ingin kembali ke Tangerang, kita akan fasilitasi dan akan membantu,” ujarnya.

BACA :  Begini Cara PT Ching Kai Lie Palsukan Solar

Mirsad juga menegaskan akan memberikan sanksi tegas kepada anak buahnya jika dalam kasus ini mereka terbukti terlibat.
Sementara itu, Laode Ida, dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang hadir dalam pertemuan tersebut juga menyayangkan terjadinya praktik perbudakan tersebut.

“Kejadian paling dahsyat ini sangat mengagetkan kita semua. Teryata masih ada perbudakan di negeri kita sendiri dan ini sebuah tamparan juga bagi pemerintah pusat,” tuturnya.

Kapolres Metro Tangerang Kabupaten, Kombes Bambang Priyo Andogo juga mengaku masih melakukan penyelidikan intensif terkait dugaan keterlibatan sejumlah oknum aparat TNI/Polri  dalam kasus ini. (Ramzy/Viks)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler