Connect with us

BABAD BANTEN

Aria Wangsakara, Penyebar Agama dan Pelopor Bela Negara

Published

on

Keberadaan pusat-pusat penyebaran agama Islam pada jaman pendudukan Belanda, adalah hal yang paling ditakutkan Belanda. Terlebih, pusat penyebaran agama tersebut berada di dekat wilayah kekuasaannya. Itulah alasan, kenapa Belanda harus menyerang Pesantren Grendeng yang lokasinya di tepi barat Sungai Cisadane, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1640. Penyerangan itu menandai terbentuknya tempat hunian baru di Lengkong, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Di tempat ini santri-santri dari Pesantren Grendeng yang terusir Belanda, kemudian membangun masjid dan membuat pesantren baru di bawah kepemimpinan Aria Wangsakara.

Pada rubrik Babad Banten edisi kali ini, Banten Hits, akan menceritakan tokoh Aria Wangsakara yang sepak terjang dan keberadaannya tak lepas dari pembentukan Tangerang. Tulisan ini bersumber dari reportase dan berbagai literatur terkait sejarah Tangerang.

Ditemui Banten Hits, Minggu (2/6/2013), Syaifullah, kuncen makam Aria Wangsakara di Desa Lengkong Kyai, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, menjelaskan Raden Aria Wangsakara merupakan keturunan dari raja Sumedang Larang, yaitu Sultan Syarif Abdulrohman.

“Beliau merantau ke Wilayah Tangerang Karena tidak sepaham dengan saudaranya yang berpihak kepada penjajah Belanda. Dalam perjalanannya, beliau memilih daerah di tepian sungai untuk tempat bermukim dan mengajarkan agama Islam dengan cara mendirikan pesantren dan masjid. Beliau juga pernah menjadi penasehat di Kerajaan Mataram pada jaman itu,” jelas Syaifullah.

BACA :  Jejak Peribahasa ‘Kecap Nomor 1’ dari Benteng Tangerang

Dalam beberapa literatur Sejarah Kabupaten Tangerang disebutkan, Aria Wangsakara pergi dari Sumedang ke Tangerang bersama dua saudaranya, masing-masing Aria Santika dan Aria Yuda Negara.

Ketiga tumenggung dari Sumedang ini, kemudian mendapatkan restu dari sultan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf untuk bertugas menjaga wilayah dari tindakan kompeni dengan membangun benteng di Lengkong Kyai yang terletak di tepi Sungai Cisadane sebelah barat sampai bendungan Sangego.

Di Lengkong Kyai, Aria Wangsakara menetap bersama isterinya, Nyi Mas Nurmala, seorang anak dalem Bupati Karawang Singaprabangsa. Di tempat ini pula bermukim pengikutnya yang berjumlah sekira 500 orang.

Pada tahun 1652-1653 M, VOC yang sudah mencium aktivitas penyebaran agama di Lengkong Kyai ini, kemudian mendirikan benteng di sebelah timur Sungai Cisadane yang persis berseberangan dengan wilayah kekuasaan Aria Wangsakara. VOC juga memprovokasi dan menakuti warga Lengkong Kyai dengan mengarahkan tembakan meriam yang diarahkan ke Lengkong Kyai.

Sikap Kompeni ini memicu pertempuran antara Kompeni Belanda dengan rakyat Tangerang di bawah kepemimpinan Aria Wangsakara. Peristiwa ini kelak akan disebut sebagai titik awal tumbuhnya jiwa patriotik rakyat Tangerang di bawah kepemimpinan Aria Wangsakara.

Lewat kegigihan dan jiwa kepahlawanan kolektif, warga Lengkong akhirnya berhasil mempertahankan wilayahnya ini melalui pertempuran yang berkobar selama tujuh bulan berturut-turut.

BACA :  Kelapa Dua, Penghasil Gula buat Dunia di Abad 17

Tentang peristiwa ini, menurut Syaifullah, Aria Wangsakara selain dikenal sebagai ulama, dia juga memang berperan aktif dalam melawan VOC. Semangat yang dimiliki Aria Wangsakara inilah menurut Syaifullah, yang kemudian diteruskan turun temurun oleh warga Lengkong Kyai.

“Nenek dan kakek saya dulu sering bercerita tentang perjuangan melawan NICA di Desa Lengkong,” terang Syaifullah.

Pertempuran NICA dan rakyat Tangerang, tak pernah lepas dari konflik Banten dan Kompeni Belanda. Tarik menarik batas kekuasaan antara Banten dan Kompeni, menjadikan Tangerang sebagai pertahanan pertama bagi Banten.

Sejak 10 Juli 1659, perjanjian antara Banten dan Belanda tak pernah dipatuhi oleh pihak Kompeni. Pun demikian ketika Sultan Haji, anak Sultan Ageng Tirtayasa yang diadudomba Kompeni Belanda, membuat perjanjian baru dengan Belanda soal batas kekuasaan Banten – Belanda pada 17 April 1984.

Pada pasal 3 perjanjian tersebut disebutkan, walaupun batas Banten dengan Batavia tetap pada Sungai Untung Jawa (Sungai Cisadane) yang disebut pula Tangerang sejak dari pantai laut hingga pegunungan-pegunungan sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokan-kelokannya, tetapi ditetapkan lebih jauh bahwa kemudian menurut garis lurus dari daerah selatan hingga utara sampai Lautan Kidul (Samudera Hindia) dan semua tanah di sepanjang Sungai Untung Jawa atau Tangerang akan menjadi milik dan ditempati Kompeni.

BACA :  Pengaruh Candu di Banten; Dari Kalangan Tionghoa hingga Sultan Muda

Kompeni Belanda sendiri terus berupaya melakukan penguasaan dengan menyerang ke daerah Tangerang secara terus menerus. Serangan Belanda ini mendapat perlawanan sengit dari Aria Wangsakara dan dua saudaranya, Aria Santika dan Aria Yuda Negara.

Hingga pada akhirnya, ketiga tumenggung ini gugur dalam pertempuran. Aria Santika gugur dalam pertempuran di Kebon Besar pada tahun 1717. Ia dimakamkan di Kecamatan Batu Ceper (Kramat Asem). Tumenggung Yuda Negara gugur di Cikokol pada tahun 1718. Ia dimakamkan di Sangiang, Kecamatan Jatiuwung. Sementara, Aria Wangsakara gugur di Ciledug pada tahun 1720. Ia dimakamkan di Lengkong Kulon atau Lengkong Kyai.

Dalam penanggalan Islam, dikatakan Syafiullah, tanggal wafatnya Aria Wangsakara jatuh pada tanggal 2 Sya’ban 1662. Makam Aria Wangsakara dikelilingi makam-makam para ulama dan kyai yang berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di wilayah Tangerang.

Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang saat ini memutuskan untuk menjadikan komplek makam Aria Wangsakara ini sebagai cagar budaya Kabupaten Tangerang.

“Penetapan Makam Aria Wangsakara sebagai daerah cagar budaya merupakan hal yang tepat,karena banyak yang harus dilindungi dan dilestarikan,” ujar Syaifullah. (Rus)




Photos

  • Videos


  • Terpopuler