Connect with us

METROPOLITAN

FPI Tuding Polisi Tebang Pilih

Published

on

Banten Hits – Terkait penetapan panglima FPI Banten IS (43) sebagai DPO polisi atas kasus bentrok di Alam Sutera, Kamis (6/6/2013), Ketua FPI Banten Muhamad Assegaf atau biasa dipanggil Habib Muh, mengaku belum mengetahui hal tersebut. 

Saat dihubungi Banten Hits lewat telefon genggamnya, Jumat (7/6/2013) petang, Habib Muh menuding, polisi tebang pilih dalam menangangi kasus bentrok di Alam Sutera itu.

“Kenapa preman bayaran Alam Sutera yang pada bawa golok kagak ditangkepin ame polisi?” sergahnya.

Lebih lanjut Habib Muh mengatakan, dalam perjuangan FPI, meninggal dunia atau dipenjara adalah hal yang biasa. Untuk itu, Habib Muh menegaskan, dirinya tak pernah gentar dengan penetapan panglimanya sebagai DPO polisi.

“Udah biasa itu. Risiko perjuangan,” katanya.

Seperti diberitakan, panglima Front Pembela Islam (FPI) Banten IS (43), ditetapkan polisi menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus bentrokan di Alam Sutera pada Kamis (6/6/2013) sore. Selain IS, laskar FPI lainnya yang ditetapkan Polresta Tangerang sebagai DPO adalah MT (56).

Petinggi FPI Banten tersebut ditetapkan sebagai DPO atas dugaan pelanggaran Pasal 170 dan atau 351 dan atau 160 dan atau 214 KUHP, serta UU Darurat Nomor 12 tahun 1951.

Pernyataan tentang penetapan DPO para petinggi FPI ini disampaikan Kapolresta Tangerang Kombes Polisi Bambang Priyo Andogo dalam siaran pers yang digelar di Mapolresta Tangerang, Jumat (7/6/2013) sekira pukul 17.15 WIB.(Rus)

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + seventeen =

Trending