Connect with us

BABAD BANTEN

Semur Kebo dan Tape Uli, Makanan Sarat Tradisi dan Historis

Published

on

Di kalangan masyarakat Betawi, kurang afdol jika pada saat lebaran tidak ada sajian semur daging dan tapai uli.

Semur yang disajikan pun bukan semur daging pada umumnya, karena daging yang disemur merupakan daging kerbau. Orang betawi biasa menyebutnya daging “kebo”.

Sedangkan tapai uli-biasa juga disebut tape uli-merupakan makanan yang terbuat dari bahan dasar ketan yang difermentasikan.

Kue khas tradisional Betawi ini juga mudah kita jumpai di saat momen-momen hari kemenangan ini. Hasil fermentasi ketan akan menghasilkan rasa tape ketan enak.

Sedangkan kue Uli merupakan makanan dari beras ketan yang dipadukan dengan santan dan dikukus. Kue uli yang disajikan dengan tape ketan saat lebaran, terasa begitu pas dan nikmat.

Dalam rubrik Babad Banten edisi kali ini, redaksi Banten Hits mencoba mengulik asal muasal makanan yang biasa disajikan sebagai menu hidangan khas lebaran di kalangan masyarakat Betawi ini.

BACA :  Pengangkatan Pangeran Chamarra dan Ambruknya Wibawa Wali Raja Banten

Dari sejumlah literatur, semur ternyata merupakan salah satu hidangan para bangsawan Belanda pada zaman kolonial.

Dahulu kala, hidangan pertemuan budaya ini dikenal dengan istilah Smoor.

Dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat kemudian mengembangkan semur sesuai selera lokal daerah masing-masing. Namun tetap saja dengan mengadopsi dari resep Smoor.

Evolusi ini adalah bagian dari upaya masyarakat di berbagai daerah Indonesia untuk melestarikan hidangan semur yang kental sarat tradisi dan nilai historis ini.

Beberapa daerah kemudian mengolah semur dengan caranya sendiri. Seperti semur Betawi, Palembang dan Samarinda.

Meski ketiganya sama-sama mengikuti pakem dan menggunakan kecap sebagai bumbu wajib dalam mengolah semur, tetapi tetap ada beda dalam pemilihan bumbu utamanya.

Semur Betawi menggunakan 14 jenis bumbu utama dalam memasak semur. Sedangkan semur Palembang dan Samarinda ada 11 jenis bumbu utama. Meski demikian tetap ada perbedaan jenisnya.

Perbedaan bumbu semur kembali kepada selera masing-masing daerah, yang lantas diwariskan sebagai hidangan sarat tradisi.

BACA :  Ki Jongjo; Tokoh Menentukan Penguasaan Islam di Banten

Waktu penyajian semur pun juga berbeda. Di Samarinda, semur dijadikan sebagai hidangan saat sarapan. Beda halnya di Betawi dan Palembang.

Masyarakat Betawi dan Palembang menyajikan semur daging saat perayaan lebaran Idul Fitri dan pernikahan. Kendati sama waktu penyajiannya, kedua daerah ini berbeda dalam pemilihan dagingnya.

Semur Betawi menggunakan daging kerbau, dan semur Palembang menggunakan daging sapi.

Jika ingin menyajikan semur daging pada perayaan lebaran, Anda bisa memasak semur Betawi dan Palembang, sesuai pakem agar tak hilang nilai historis dan tradisinya.

Sedangkan tape uli merupakan satu dari sekian banyak panganan khas Betawi yang hingga kini masih lestari.
Proses pembuatan kue tape uli memiliki makna mendalam bagi masyarakat Betawi, sebagai simbol kekeluargaan.

Pembuatan tape uli biasa dilakukan untuk mengiringi pemotongan kerbau yang sering dilakukan masyarakat Betawi tempo dulu, sebagai tradisi menjelang Lebaran.

BACA :  Kekosongan Kekuasaan dan Revolusi Sosial-Politik di Kesultanan Banten

Maryam, salah seorang warga Kota Tangerang yang merupakan etnis Betawi menuturkan pembuatan tape uli memiliki makna mendalam.

Proses pembuatannya yang melibatkan antara kaum pria dan perempuan secara gotong royong ini dipercayai bisa mengeratkan tali persaudaraan. Apalagi, dulunya tape uli dibuat dengan modal patungan.

“Kita tuh kalau buat tape uli, harus patungan dulu. Bukan pakai duit, tapi pakai bahan-bahannya, seperti ketan dan kelapa yang dulu kita punya sendiri,” ujar Maryam.

Menurut Maryam, proses pembuatan tape uli yang gampang-gampang susah juga dipercayai banyak masyarakat Betawi memiliki kekuatan magis.

“Jika langgar pantangan, bisa-bisa kue kita gak jadi,” kata Maryam dengan logat Betawinya.

Di momen lebaran seperti sekarang, dua makanan khas ini banyak kita jumpai di setiap rumah warga Betawi yang masih kental menjunjung tinggi adat dan tradisinya. (soed)



Terpopuler