Connect with us

METROPOLITAN

Hingga Agustus, KDRT Tangsel Sebanyak 36 Kasus

Published

on

Banten Hits.com –  Hingga Agustus 2013, kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencapai 36 kasus. Jumlah tersebut belum termasuk laporan masyarakat ke Polres baik Tigaraksa maupun Jakarta Selatan.

“Dari 36 kasus ini, 6 kasus menimpa anak-anak berupa pencabulan, sedangkan 30 kasus merupakan kekerasan rumah tangga,” ungkap Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana (BPMPPKB) Kota Tangsel, Listya, Rabu (14/08).

Banten Hits.com –  Hingga Agustus 2013, kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencapai 36 kasus. Jumlah tersebut belum termasuk laporan masyarakat ke Polres baik Tigaraksa maupun Jakarta Selatan.

BACA :  Proyek Jalan Nasional di Lebak Dikeluhkan

“Dari 36 kasus ini, 6 kasus menimpa anak-anak berupa pencabulan, sedangkan 30 kasus merupakan kekerasan rumah tangga,” ungkap Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana (BPMPPKB) Kota Tangsel, Listya, Rabu (14/08).

Meski demikian Listya mengaku jumlah kasus KDRT di Tangsel mengalami penurunan dibanding tahun 2011 yang mencapai 140 kasus dan tahun 2012 sebanyak 116 kasus.

“Secara umum angkanya mengalami penurunan, untuk tahun 2013 ini saja jumlah kasus mencapai 36,” imbuhnya.

Menurut Listya, selain karena faktor pihak ketiga, faktor ekonomi kerap menjadi motif munculnya kasus KDRT. “Umumnya kasus KDRT dilatarbelakangi faktor ekonomi,” ucapnya.

Listya mengatakan, umumnya yang menjadi korban kasus KDRT, istri dan anak. Sedangkan pelaku adalah suami.
Untuk kasus KDRT ini, lanjut Listya pihaknya melakukan pendampingan bagi korban hingga kasusnya tuntas.

BACA :  TNI-Polri Geledah Pedagang Mercon di Pasar Induk Rau, Jenis Ini Bakal Ditindak Tegas  

“Kecuali untuk biaya pengadilan kami tidak bisa berikan karena memang tidak ada anggarannya dari pemerintah,” ujarnya.

Kecuali, jika korban merupakan warga yang tidak mampu, maka kata Listya, pihaknya memberikan rekomendasi kasus prodeo agar diberikan kemudahan.

Sementara itu Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tangsel, Herlina Mustikasari berharap akan lebih banyak lagi masyarakat yang peduli untuk membuat laporan kasus-kasus untuk anak-anak, dan lebih awal lagi sebelum kasus menjadi lebih parah.

Dengan demikian artinya menandakan adanya kepekaan dan kepedulian masyarakat terhadap sekeliling terutama anak-anak, karena kasus anak-anak banyak terjadi justru di antara lingkungan dekatnya seperti keluarga atau orang-orang yang dia kenal.

BACA :  Pemkab Tangerang Sebut Raperda Pengelolaan Budaya Sesuai dengan Amanat Undang-undang

“Kita ada tim pendampingan hukum yang bekerjasama dengan LBH Keadilan. Personelnya saya rasa lebih dari 10 orang, lalu juga ada tim pendampingan psikologi secara perorangan, ada sekitar 5 orang, serta ada pendampingan dari pengurus P2TP2A sendiri untuk menangani kasus kekerasan ini,” tandasnya. (Riani)
 



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler