Connect with us

GAYA HIDUP

Orientasi Berpacaran Lebih kepada Eksploitasi Sex

Published

on

Banten Hits. Com – Orientasi dalam hubungan berpacaran yang dilakukan pasangan yang belum menikah dinilai justru mengarah kepada eksploitasi sex. Ironisnya, hanya sedikit yang memiliki orientasi kepada hal pembelajaran. Hal ini terlihat dari penanganan-penanganan kasus yang ditangani oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak.

Banten Hits. Com – Orientasi dalam hubungan berpacaran yang dilakukan pasangan yang belum menikah dinilai justru mengarah kepada eksploitasi sex. Ironisnya, hanya sedikit yang memiliki orientasi kepada hal pembelajaran. Hal ini terlihat dari penanganan-penanganan kasus yang ditangani oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak.

“Dari kasus-kasus yang kita tangani memang orientasi berpacaran adalah eksploitasi sex, bahkan tidak jarang kasus tersebut juga dibarengi dengan kekerasan sex atau pencabulan yang menimpa wanita,” Kata Ketua P2TP2A Lebak, David, Rabu (4/12/2013), di kantornya, Gedung GOW Jl RA Kartini, Rangkasbitung.

BACA :  Galeri Fashion Muslim Hadir di Metropolis Tangerang

Menurut David, eksploitasi sex yang terjadi dalam berpacaran cenderung terjadi dikarenakan memang pola berpacaran yang lebih banyak bersifat bukan kepada belajar atau pembelajaran. Trend pacaran saat ini adalah lebih kepada hal-hal yang bisa mengakibatkan kontak tubuh, misalnya, nonton atau jalan bersama dengan pasangan.

“Nonton atau jalan misalnya, karena kedekatan yang inten dan sudah menyatakan status hubungan berpacaran biasanya akan timbul kontak badan. Contoh kecilnya saja, berpegangan tangan atau berpelukan, itu sudah mengarah kepada eksploitasi sex,” Jelasnya.

Eksploitasi sex dalam orientasi berpacaran, kata David, juga tidak jarang dibarengi dengan kekerasan fisik dan psikis, baik yang dialami wanita maupun pria.

“Misalnya begini, kata selingkuh sebenarnya bukan istilah yang tepat digunakan dalam berpacaran, karena istilah itu digunakan ketika sudah dalam hubungan pernikahan. Contoh kasusnya adalah, jika salah satu pasangan baik wanita atau pria mengalihkan rasa cintanya kepada seseorang, disanalah terjadi kekerasan psikis karena seseorang (wanita/pria) mengalami sakit hati di dalam dirinya. Kekerasan psikis ini bisa berujung kepada kekerasan fisik yang diakibatkan ketidakpuasan atau kekecewaan dari salah satu pasangan. Bisa penamparan atau kekerasan lain,” Paparnya.

BACA :  Tetap Bugar saat Cuaca Ekstrem ala Liza Puspadewi

David juga menjelaskan, secara resmi angka kekerasan yang masuk ke P2TP2A memang tidak banyak, namun dalam realitanya cukup tinggi. Umumnya, ketakutan kehilangan pasangan, menjadi salah satu alasan kenapa wanita yang memang lebih sering mengalami kekerasan fisik tidak berani melaporkan atau sekedar berkonsultasi.

“Rasa cinta kepada pasangan yang memang menjadi alasan paling banyak yang dijawab wanita ketika ditanya kenapa tidak mau melaporkan atau berkonsultasi, dan ini berakibat hal itu terus terulang. Ditambah lagi memang mental wanitanya itu sendiri. Kekerasan secara fisik kan bisa diadukan kepada pihak Kepolisian, dan sudah ada Undang-undang yang mengatur itu, melalui Komnas Perlindungan Perempuan misalnya,” Katanya.

Pihaknya berharap, kepada para remaja sebelum memang memutuskan untuk menjalin suatu hubungan (berpacaran), bisa terlebih dahulu mengenal diri sendiri dan menggali potensi diri secara positif sehingga tidak terjebak dalam hubungan yang negatif. Hal ini juga dibarengi dengan ruang yang dibuka oleh P2TP2A bagi para remaja untuk melakukan konsultasi seputar tentang problematika hubungan.

BACA :  Bagikan 100 Hijab, PKS Lebak: Hijab Bukan Pilihan Tapi Kewajiban

“Silahkan, boleh langsung datang ke kantor atau melalui SMS dan telephone jika memang ingin berkonsultasi atau mengadukan seputar problematika itu. 087871862456,” Kata Ketua P2TP2A Lebak, David. (Riani)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler