Connect with us

ESSAI

Demi Waktu yang (tak) Pernah Menunggu!

Published

on

Hanya di hari Minggu orang-orang tampak bersahabat dengan waktu. Tak ada yang terburu-buru. Semuanya terlihat menikmati. Meski semuanya juga sadar, sebentar saja waktu akan berubah menjadi bengis kembali. Waktu tak pernah toleran, dia cenderung meninggalkan.

Pemandangan hari Minggu adalah jeda dari rutinitas yang terkesan memaksa. Setiap hari orang dipaksa berlari untuk berpacu dengan waktu. Mereka berkejaran hingga akhirnya kelelahan. Hari Minggu buat mereka adalah masa pemulihan bukan hanya sekadar liburan.

Mereka yang saya maksud dalam tulisan ringan ini, menunjuk kepada orang-orang yang patuh terhadap rutinitas. Mereka ada di sekitar kita. Mungkin bisa jadi saya atau Anda sekalian termasuk di dalamnya. Pertanyaannya kemudian, mengapa kita sebegitu patuh terhadap rutinitas?

Valentinus Saeng, CP dalam bukunya Herbert Marcuse: Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global mengungkapkan, rutinitas adalah tanda penjajahan yang dilakukan oleh kapitalis.  Individu dikuasai, dikekang, dan diperas oleh industri.

BACA :  Manusia Modern, Kecemasan, dan Kapitalisme

Namun, segala penguasaan, pengekangan, dan pemerasan dirancang dan dipraktikan sedemikian rupa sehingga individu merasa semua aksi pembatasan serupa sebagai satu keharusan, kebutuhan dan kebaikan bagi masyarakat (Valentinus Saeng, CP; 2012).

Dalam pemikiran Marcuse, pengekangan, pengisapan, dan penindasan terhadap individu yang dilakukan oleh sistem kapitalis, memang mampu menghasilkan masyarakat yang berkelimpahan secara material. Individu menikmati kondisi hidup lebih baik dibandingkan kondisi terdahulu.

Kendati demikian, kata Valentinus Saeng, bila dicermati dan dikaji secara kritis dan mendetail, kelimpahan materi ini memuat dan menggambarkan jejak alienasi dalam hubungan masyarakat dengan individu.

Dari hari ke hari individu tumbuh menjadi pribadi yang agresif, kasar, bengis, dan intoleran. Terhadap pandangan atas fakta tersebut, Valentinus Saeng meminta hal tersebut disikapi secara serius dan dikaji seteliti mungkin terutama dari sudut psikologi.

BACA :  Menunggu Jalan Pedang Para Elit

Beragam peristiwa dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita secara gamblang menyiratkan, kecintaan yang berlebihan terhadap benda secara serta merta telah membunuh perasaan peka. Mereka yang berkesempatan terus memupuk kekayaan dan kekuasaan. Tak peduli dengan cara apapun, dan apa yang kelak akan terjadi.

Berbagai studi yang sudah sering dilakukan, selalu menyebut kekuasaan dan uang adalah salah satu akar terjadinya kekerasan dan kejahatan. Mengejar uang dan kekuasaan, menurut Buya Syafi’i Ma’arif adalah seperti meminum air lautan. Tak pernah menghilangkan dahaga, malah akan terus berkeinginan untuk mereguknya.

Itulah mungkin, dalam ajaran kebijaksanaan, seorang bijak selalu berusaha untuk terus mengekang nafsu yang berumber dari perut, tempat segala nafsu duniawi bermuara.

Mungkin kita sudah terlalu buruk untuk berubah. Namun, cukup tegakah kita mewariskan keburukan terhadap anak dan cucu kita di masa yang akan datang? Bukankah sekecil apapun yang kita lakukan hari ini akan memengaruhi mereka kelak? Bukankah makanan yang diberikan kita kepada anak cucu kita akan menjadi darah, daging, dan membentuk karakter mereka?

BACA :  Garuda Muda dan Oase Indonesia

Jika kita menganggap diri sebagai manusia modern, seyogianya kita sudah melakukan perubahan. Karena ciri-ciri dasar modernitas—menurut Herbert Marcuse—adalah kritis, berjiwa baru, bergerak maju dan menginginkan perubahan radikal. Modernitas merupakan simbol kebangkitan nalar melawan segala macam praktik penindasan, pengekangan, pengisapan, dan pembodohan yang dipropagandakan dan didoktrinasikan.

Untuk itu, demi waktu yang tak pernah rela untuk menunggu, mari kita mulai perubahan mendasar itu dari diri kita sendiri!

Darussalam Jagad Syahdana, Minggu, 8 Maret 2013 di Modernland, Kota Tangerang…

 
 
 



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Terpopuler

Please disable your adblock for read our content.
Refresh