Connect with us

CITARASA

Saung Makanan Desa Gerilya ke Pusat Belanja

Published

on

Saung-saung bambu dengan dinding bilik dan atap rumbi-rumbi daun ilalang, terlihat berderet di pelataran pusat belanja yang berdiri di antara bangunan modern. Sekilas, keberadaan saung-saung tradisional tersebut terlihat kontras dengan suasana di pusat belanja Mall Metropolis, Kota Tangerang itu.

Saung-saung bambu berdinding bilik ini adalah bangunan khas pedesaan. Di arena parkir Mall Metropolis, saung-saung bambu itu diisi oleh para pedagang yang menjajakan makanan tradisional dari setiap daerah. Ada tahu gejrot, gudeg yogya, es durian, somay bandung, dan beragam makanan lainnya.

Di bagian depan arena tempat saung-saung tersebut berdiri, terpasang sebuah gapura dengan tulisan, “Selamat Datang di Metropolis Kuliner dan Budaya”.

Jika Anda tinggal di wilayah Kota Tangerang dan sekitarnya, sempatkanlah untuk berkunjung ke pameran kuliner dan budaya di Mall Metropolis yang digelar dari tanggal 7 – 29 Desember 2013 ini. Di tempat ini, Anda bisa menjumpai berbagai macam makanan olahan khas desa.

Rani, salah seorang pengunjung di arena pameran yang ditemui Banten Hits mengatakan, di tempat tersebut dirinya bisa memilih makanan khas desa yang jarang dijumpai.

Rani yang kala dimintai komentar itu tengah memesan tahu gejrot dan somay bandung mengatakan, pameran semacam ini sangat membantu sekali para penggemar makasan desa seperti dirinya.

“Kapan lagi kita bisa milih makanan desa yang sudah langka. Di sini semuanya ada,” katanya.

Sementara itu, Ria Riana salah seorang pedagang es durian GFA, mengaku, dengan kegiatan pameran yang digelar di mall yang berada di pusat-pusat keramaian kota, sangat membantu sekali omset penjualannya.

Perempuan yang meracik es durian di rumahnya di Desa Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang ini mengaku, dalam sepekan melalui pameran semacam itu dirinya bisa meraup penghasilan hingga Rp 48 juta.

Besaran penghasilan tersebut tiga kali lipat dari penghasilan jualan di warung tetapnya di Kecamatan Kelapa Dua.

Selain itu, kata Ria, dengan ikut pameran semacam ini, dirinya juga tak perlu harus pusing-pusing memikirkan ongkos sewa tempat. Karena, pengelola langsung memotong 30 persen dari harga makanan yang dijual para pedagang.

“Kami tak dipusingkan dengan biaya sewa. Di tempat saya jualan, saya hanya dapat penghasilan Rp 15 juta setiap bulan. Itu belum dipotong sewa tempat dan bayar karyawan. Jauh banget jika dibanding penghasilan di pameran,’ ucapnya.

Ria menambahkan, dirinya bersama dengan pedagang lainnya sudah satu paket didatangkan oleh sebuah event organizer (EO) yang bekerjasama dengan setiap mall yang ada di pusat kota.

Kegiatan pameran kuliner dan budaya itu, digelar secara bergilir dari satu mall ke mall lainnya. Tema yang diusung pun menurut Ria, selalu berubah-ubah.

“Kadang temanya Jawa, Bali, atau Sunda. Sekarang ini temanya Sunda Banten,” jelas Ria.

Berbeda dengan Ria, Kusnata, pedagang tahu gejrot di pameran tersebut mengatakan, secara penghasilan di tempat pameran itu dengan warungnya di daerah Pasar Anyar, Kota Tangerang tak jauh beda. Namun Kusnata mengakui, dengan mengikuti kegiatan pameran dirinya tak dipusingkan dengan biaya sewa warung setiap bulannya.

Saung-saung tempat menjajakan makanan desa ini, akan terus bergerilya untuk memanjakan para penikmat rasa di kota-kota, termasuk Anda… Segera datang dan nikmati setiap makanan kesukaan Anda di pameran kuliner dan budaya ini…

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending