Connect with us

OPINI

Etika dan Aktivis

Published

on

Etika

Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur- unsur etis dalam pendapat- pendapat spontan kita, kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan antara lain karena pendapat etis kita tida jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tau apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.

Secara petodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap keritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itu lah etika merupakan salah satu ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut yang baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.

Etika

Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur- unsur etis dalam pendapat- pendapat spontan kita, kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan antara lain karena pendapat etis kita tida jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tau apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.

Secara petodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap keritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itu lah etika merupakan salah satu ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut yang baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.

Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta etik( studi konsep etika ), etika normative ( studi penentuan nilai etika ), dan etika terapan ( studi penggunaan nilai-nilai etika ).

BACA :  Pentingnya Generasi Millenial

Aktivis

Gerakan mahasiswa di indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun diluar kampus yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya.
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia gerakan mahasiswa sering kali menjadi cikal bakal pejuang nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa.

Sekelompok manusia yang menamkan dirinya sebagai aktivis kampus, pejuang atau pembaharu dengan bangganya menggembar-gemborkan kata dan kalimat-kalimat di atas baik lewat senandung orasi, poster dan pamplet, maupun yel-yel yang mengiringi aksi demontrasi mereka.

Mahasiswa sebagai oposisi yang selalu mengambil garis tegas terhadap kekuasaan pemerintah yang sewenang- wenang terhadap rakyat, membuktikan salah satu eksistensinya melalui pergerakan yang vertikal, dengan semangat yang menggebu-gebu, menyuarakan aspirasi rakyat, menggoyang semua sistem yang kaku para penguasa lewat demonstrasinya.

Demonstrasi, kita singkat dengan kata demo, adalah alternative dari sebuah pergerakan mahasiswa, ada yang turun kejalan, ke kantor- kantor pemerintahan dan ada pula yang melakukan ajakan dan penyadaran- penyadaran intelektual langsung kepada  mahasiswa lainnya atau sahabat- sahabat di kampus.

Tentang Etika & Aktivis

Sebagai aktivis yang juga seorang anak, kita telah mampu menggurui mereka yang melahirkan dan membesarkan kita. Ini etika seorang aktivis masa kini yang mulai tidak relevan lagi dengan ajaran dan pembiasaan yang sebenarnya kita tahu.

BACA :  Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat: Tinjauan Ekonomi Demokrasi dan Pemilihan Presiden Langsung

Kini, di tengah masyarakat, banyak pengalaman yang bisa kita jadikan pelajaran bila mau. Saat seorang person yang hebat, pintar, cerdas dan terampil dalam segala bidang, ternyata tidak disenangi. Bahkan dikucilkan dari pergaulan. Apakah dia tidak dibutuhkan? Keahliannya sangat dibutuhkan setiap orang. Tapi keangkuhan dan kesombongannya menjadi penghalang bagi masyarakat untuk memberikan rasa sayang dan ruang yang cukup.

Keahlian, keterampilan, kecakapan mengatur dan mengelola, yang selama ini menjadi salah satu pembelajaran yang kita geluti setiap saat dalam kegiatan dan aktivitas komunitas kita, ternyata tidak mampu membawa kita menjadi bagian dari masyarakat social secara utuh.
Kadang dalam kondisi itu kita menyalahkan masyarakat. Kadang dengan segala keangkuhan kita berucap, “masyarakat awam memang sulit menerima perubahan. ”Padahal, kita sendiri yang sulit menerima kenyataan bahwa setiap masyarakat, diatur dan dikelola dengan norma yang beragam, tidak homogeny seperti saat kita berada dalam komunitas eksklusif.

Homogen? Ya, selama ini kita hanya berada dalam suatu komunitas yang di dalamnya memiliki aturan sendiri, kita seolah punya konstitusi sendiri, seperti sebuah negara. Dimana kita bisa menyikapi ketidak setujuan pada sistem yang ada dengan memukul meja, melempar kursi, menunjuk dengan pongahnya setiap kekurangan pemimpin dan rekan seperjuangan, karena kita lebih tahu dari mereka.

Lalu?Apakah saat kita kembali menjadi bagian dari elemen masyarakat sosial yang heterogen itu akan demikian juga tingkah-polah kita? Saat sebagian warga memandang kita dengan pandangan kecewa, apakah kita harus kembali menghentak kan kaki kuat seorang aktivis, lalu menepuk dada bahwa kita lahir dari sebuah komunitas yang ketat aturan dan memiliki idealisme tinggi?

BACA :  Bangga Jadi Urang Lebak

Ternyata? Tidak demikian adanya. Masyarakat sosial mengharapkan kita untuk menjadi lebih anggun dan elegan. Masyarakat kita tidak butuh keterampilan dan keahlian yang di dalamnya ada sifat sombong, angkuh dan mau menang sendiri. Masyarakat kita ditata dengan nilai-nilai etika, sopan-santun yang turun temurun telah ada dan menjadi diri bangsa.

Kekurangan etika kah kita? Sementara setiap saat kita telah dilatih melalui proses kaderisasi yang matang dan berkelanjutan? Ternyata bukan kurang etika, tapi kita kurang belajar tentang etika itu sendiri. Selama ini kita belajar tentang etika komunitas, bukan etika sosial.

Tidak ada kata terlambat buat para aktivis yang mau belajar tentang etika sosial agar masyarakat bisa menerima kita dengan nyata.

“Wahai para aktivis yang dirindu kan banyak pihak untuk turut memperbaiki bangsa, kita perlu belajar banyak tentang cara bermasyarakat, cara bersopan-santun, tentang tenggang rasa, tentang bagaimana menerima kenyataan bahwa bukan hanya kita orang-orang terampil di tengah-tengah mereka”

TANGAN TERKEPAL DAN MAJU KEMUKA

Penulis: Sirojudin, Ketua Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Setia Budhi Rangkasbitung



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler