Connect with us

PUISI

Dinasti Kekuasaan Ular

Published

on

Bergeliat, merangkak mengintari roda bumi
Sisik ular itu sayatkan kepedihan di hati rakyat pinggiran
Semakin hari semakin panjang lidah ular yang terulur
Menjilati tiap-tiap tetes peluh yang bercucuran

Yang menetes dari lubang pori-pori rakyat pinggiran
Lilitan ular itu kia hari kian keras memerih
Mencekik dari atas kepala hingga ke ujung kuku tanpa ampun
Semua di kuras, semua di lilit di hisap hingga tak tersisa
Tak lupa pula mereka biuskan bisa-bisa janji yang dengan mudah diingkari
Bisa-bisa menjijikan yang pada akhirnya mereka jilat kembali.

Bergeliat, merangkak mengintari roda bumi
Sisik ular itu sayatkan kepedihan di hati rakyat pinggiran
Semakin hari semakin panjang lidah ular yang terulur
Menjilati tiap-tiap tetes peluh yang bercucuran

BACA :  Mimbar Sang Birokrat

Yang menetes dari lubang pori-pori rakyat pinggiran
Lilitan ular itu kia hari kian keras memerih
Mencekik dari atas kepala hingga ke ujung kuku tanpa ampun
Semua di kuras, semua di lilit di hisap hingga tak tersisa
Tak lupa pula mereka biuskan bisa-bisa janji yang dengan mudah diingkari
Bisa-bisa menjijikan yang pada akhirnya mereka jilat kembali.

Kapan waktunya tiba untuk mematahkan taring-taring tajam itu
Yang tanpa dosa selalu menusuk-nusuk uang rakyat pinggiran tanpa bosan?
Kapan tiba waktunya menebas kepala ular yang selalu menari-nari diatas penderitaan rakyat pinggiran?
Ketika doa telah lebur dengan kekuatan hati rakyat-rakyat pinggiran
Dinasti kekuasaan Ular itu pun kan binasa ditelan bumi
Ditelan keserakahan yang lekang oleh waktu

BACA :  Kereta Kuda Malam

Dinda Eka Savitri, Relawan TBM Kedai Proses, Rangkasbitung.



Advertisement
Click to comment

Terpopuler

Please disable your adblock for read our content.
Refresh