Connect with us

BABAD BANTEN

Kekosongan Kekuasaan dan Revolusi Sosial-Politik di Kesultanan Banten

Published

on

Pergantian pemerintahan dalam suatu wilayah, selalu melahirkan perubahan sosial dan politik pada wilayah tersebut. Tak terkecuali Banten pada zaman kesultanan. Tercatat, pada tahun 1596 terjadi perubahan penting dalam sejarah Banten.

Dalam rubrik Babad Banten kali ini, redaksi Banten Hits akan coba mengulas peristiwa penting dalam sejarah Banten pada tahun 1596 tersebut. Seluruh tulisan yang disajikan, bersumber dari Buku Banten; Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, karya Claude Guillot.

Pada tahun 1596, raja Banten yang masih muda usianya yakni Maulana Muhamad meninggal dunia ketika sedang melakukan pengepungan terhadap Palembang. Wafatnya raja ini mempunyai akibat-akibat yang besar.

Di satu pihak, penghentian segera permusuhan karena wafatnya raja mengakhiri politik ekspansionis kerajaan Islam yang muda ini. Di pihak lain, usia yang teramat muda dari pewaris tahta, yang kelak menjadi Sultan Abulmafakhir, yang ketika itu masih bayi yang baru lahir, membuka zaman pemerintahan wali raja yang lama.

Seperti diketahui, pada zaman Kesultanan Banten terdapat dua golongan di dalamnya: pangeran dan ponggawa. Golongan pangeran adalah anggota keluarga raja, sementara ponggawa adalah kelompok pegawai-pegawai pemerintah.

BACA :  Sultan Banten Surati Raja Denmark untuk Ganti "Duta" yang Korupsi

Saat itu, meski kelompok ponggawa ini berhasil menikahi keluarga raja, mereka tetap tak bisa mendapatkan hak-hak istimewa seperti yang dimiliki raja dan kelompok pangeran.

Kedua golongan ini kerap terlibat konflik dan permusuhan. Tak terkecuali ketika Maulana Muhamad Wafat, dua kelompok ini berebut untuk menjadi wali raja, karena pengganti raja sebagai pewaris tunggal saat itu masih bayi.

Dalam perebutan jabatan wali raja saat itu, kelompok ponggawa berhasil menjadi wali raja. Saat itu, Perdana Menteri Urusan Luar Kesultanan Banten di era Maulana Muhamad berhasil menguasai jabatan wali raja. Perdana Menteri ini bergelar Kyai Mas Patih Mangkubumi.

Menurut silsilahnya, dapat diketahui jika Kyai Mas Patih Mangkubumi ini menikah dengan putri Maulana Hasanudin bernama Ratu Wetan. Selain itu, dia juga menikahkan salah seorang putrinya dengan Pangeran Upapatih, salah seorang saudara laki-laki dari Maulana Muhamad.

BACA :  Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (1)

Namun seperti yang sudah dijelaskan di atas, pada zaman Kesultanan Banten saat itu, meski kelompok ponggawa telah menikahi keluarga raja dan kelompok pangeran, tetap saja dia termasuk dalam golongan ponggawa yang tak memiliki hak istimewa seperti raja dan kelompok pangeran.

Saat wali raja dijabat oleh Kyai Mas Patih Mangkubumi inilah, terjadi perubahan sosial politik yang luar biasa di Kesultanan Banten. Wali raja ini memberikan jabatan Perdana Menteri Urusan Luar–yang sebelumnya dijabat olehnya–kepada seseorang bergelar Tumenggung Anggabaya. Tumenggung Anggabaya ini tak diketahui nama aslinya, namun yang menarik dia diketahui bukan berasal dari Banten, melainkan dari Tamil yang tergolong orang asing.

Tak hanya memberikan jabatan penting kepada orang asing saja, pada zaman Wali Raja Kyai Mas Patih Mangkubumi ini, para orang asing yang menduduki jabatan, termasuk para pedagang besar asing diperkenankan tinggal di dalam kota berbenteng.

Hal tersebut jelaslah bertentangan dengan citra tradisional  sebuah kerajaan Jawa. di Banten sendiri saat itu, kesultanan membagi kota Banten menjadi tiga kawasan utama yang terletak dari barat sampai ke timur sepanjang pantai. Pada bagian tengah yang dikelilingi benteng hanya didiami oleh orang Banten.

BACA :  Kelapa Dua, Penghasil Gula buat Dunia di Abad 17

Yang paling fenomenal lagi dari kebijakan Wali Raja Kyai Mas Patih Mangkubumi ini adalah ketika ia tak ragu-ragu memenjarakan sejumlah orang Belanda yang kurang menaati peraturan-peraturan setempat, sewaktu pertama kali mereka datang di Banten tahun 1596.

Wali Raja Kyai Mas Patih Mangkubumi juga bereaksi keras terhadap serangan armada Portugis yang membabi buta, pimpinan lourenco de Brito di awal tahun 1598. Saat itu sejumlah orang portugis ditahan dan tiga kapten dibunuh.

Sikap Wali Raja Kyai Mas Patih Mangkubumi yang tegas ini, membuat ia dihormati semua orang dan membantunya untuk kurang lebih menjaga persatuan dalam negara. Selama ia menjabat wali raja, tidak pernah disebut adanya kekacauan terjadi di Kesultanan Banten….

 



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler