Connect with us

CERPEN

Sabar ya, Don!

Published

on

“Kring!” Bel bunyi terdengar kencang seantero sekolah menandakan ini waktunya istirahat. Doni dan Andi keluar dari kelas, mereka berjalan perlahan menuju kantin di pojok sekolah.

“Akhirnya, selesai juga pelajaran matematika Pak Slamet, ya,” Doni berkata kepada Andi.
“Iya, sudah plong terbebas dari pelajaran yang membuat otakku sedikit keluar asap,” jawab Andi.

“Kring!” Bel bunyi terdengar kencang seantero sekolah menandakan ini waktunya istirahat. Doni dan Andi keluar dari kelas, mereka berjalan perlahan menuju kantin di pojok sekolah.

“Akhirnya, selesai juga pelajaran matematika Pak Slamet, ya,” Doni berkata kepada Andi.
“Iya, sudah plong terbebas dari pelajaran yang membuat otakku sedikit keluar asap,” jawab Andi.

“Hahaha. Bener-bener, Otakku juga sama ni udah keluar asap dengar penjelasan Pak Slamet.”
“Iya. Hahaha,” jawab Andi dengan tertawa lepas.
“Iya. Ngomong-ngomong kamu waktu malem hebat banget menang balapan motor.” tanya Andi kemudian sambil menepuk pundak Doni.
“Yaiyalah. Siapa dulu Doni Prasetya,  yang paling tak terkalah kan,” jawabnya dengan nada seolah menyombongkan diri.
“Huuuu ! bisa aja kamu, Don. Tapi bener sih aku akui kamu hebat Don.”
“Makasih ya, An, udah puji aku, hahaha !” jawabnya sembari tertawa.

Tak terasa mereka sudah sampai di area kantin pojok sekolahan, mereka melihat-lihat kekiri dan kekanan karena keadaan kantin yang penuh, ramai dan padat, hendak mencari meja yang kosong untuk mereka duduki berdua, setelah itu mereka menemukan meja yang kosong posisinya paling pojok.

“An, disana aja yuk! Keliatannya kosong di pojok sebelah sana.” Doni mengajak Andi ketempat meja yang di tunjuk Doni.
“Mana !” Andi menjawab sembari melihat yang Doni tunjuk.
“Itu meja yang dipojok sana kosong,” jawab Doni.
“Iya, yah ! Ya udah yuk ! Kita kesana!” ajak Andi.
“Oke,” sahut Doni.

Setelah mereka menemukan tempat duduk mereka pun memesan makanan dan minuman kepada pelayan kantin yang sedang sibuk mondar-mandir melayani pembeli yang banyak.

“Mbak ! Mie ayam 2 porsi, terus minumannya jus jeruk 2 juga ya, Mbak!” kata Andi kepada pelayan kantin.
“Iya ! Di tunggu ya, De.” jawab pelayan sembari meninggalkan mereka.

Tiba-tiba pandangan Doni tertuju pada satu titik, rupanya kepada seorang cewe cantik yang menggunakan bando yang berwarna merah, gelang dengan warna merah juga, dan sepatu yang merah pula, membuat Doni terpana kepada cewe itu.

“Hey! Doni.” Tanya Andi kepada Doni sembari melambaikan tangannya kemuka Doni.
“Hah, iya, An.” Jawab Doni terhentak dari lamunannya.
“Kenapa kamu, Don? Kok segitunya kamu memandang kesana. Emangnya ada apaan sih!” Andi menoleh ke arah sesuatu yang di tujukan mata Doni.
“Itu, tuh ! Cewe yang itu.” Doni memberi tahu apa yang dia liat.
“Cewe yang mana sih! Don.” Dengan nada penasaran.
“Yang itu! Yang menggunakan bando warna merah, gelang merah, dan sepatu merah, itu yang mau membayar di kasir.” Jawab Doni yang dari tadi tak henti memandanginya.
“Oh ! Cewe itu, kenapa? Kamu suka sama dia Don !” Tanya Andi
“Gk ! Sih, cuma heran aja perasaaan aku baru liat deh, An.” Tanya Doni kepadanya.
“Iya. Dia itu murid pindahan dari Bandung, dia baru 3 hari di sekolah kita.” Jelas Andi kepadanya.
“ Pantes aja aku baru liat dia ternyata dia baru di sini.”
“Kenapa kamu, Don ! Suka yah., sama dia, haha.” Andi menepuk pundaknya sambil tertawa.
“Hah ! Apaan sih, An.” Doni menjawab dengan muka yang memerah karena malu.
Tiba-tiba pelayan kantin datang dengan membawa pesanan mereka, mie ayam 2 porsi dengan 2 gelas jus jeruk yang akan di letakan di meja mereka.
“Ini De ! Pesanannya.” Tanya Mbak pelayan sembari meletakakan pesanan mereka.
“Iya Mbak, makasih !” Jawab Andi.
“Iya sama-sama De.” Jawabnya dengan meninggalkan mereka.
“Hey !  Don pesanan kita udah datang nih ! Kita makan yuk !” Ajak Andi kepada Doni.
“Iya, An ! Bentaran.” Jawab Doni.
“Yaelah ! Kamu masih aja liatin cewe itu, kenapa mau aku kenalin sama kamu, Don.”
“Hah ! Yang bener kamu tau emang dia namanya siapa ?” Doni menoleh kepada Andi dengan memasang wajah herannya.
“Yaiyalah, aku tau ! “ Jawabnya.
“Emang dia siapa ?” Doni bertanya padanya.
“Dia itu namanya Nabila Perdani,  Kelas XI IPA 2.” Jawabnya kembali.
“Wah, cakep kamu An, ntar kenalin aku yah sama dia, okey!”
“Iya, tenang aja ntar aku kenalin deh kamu dengan cewe itu sepulang sekolah.” Sanggup Andi.
“Oke sip,  kamu memang yang teman yang baik, An.” Doni menepuk punggung Andi sembari tersenyum.

BACA :  Pacaran Itu Mengajarkan Berbohong

Seiringan mereka mulai menyantap makanan yang mereka pesan, sekita itu pula cewe yang menggunakan bando merah, gelang merah, dan sepatu merah itu pergi perlahan meninggalkan kantin dan otomatis meninggalkan Doni juga.  Pandangan Doni pun sudah mulai mengecil dan memudar melihat gadis itu melangkah meninggalkannya.

Kring ! Bel bunyi kedua sudah berbunyi dan menandakan waktu istirahat pun sudah selesai. Mereka berdua mulai meninggalkan kantin dan langsung menuju kelas. Setelah sampainya di kelas dan mengikuti pelajaran terakhir Doni masih saja memikirkan gadis yang menggunakan bando merah, gelang merah, dan sepatu merah itu, dalam pikirannya dia membayangkan bagaimana kalo dia menjadi pacarnya.

“Nabila, nama yang cantik percis seperti orangnya cantik banget.” Kata Doni dalam hati yang berhayal akan cewe  itu.
“Hey! Don sadar kamu.” Andi membuyarkan hayalannya.
“Ah, kamu orang lagi enak-enak ngayal juga” Jawab Doni yang kecewa kesal Andi.
“Perhatikan tuh, guru lagi nerangin ntar kamu gk ngerti lagi.”
“Iya, Iya!” Ketus Doni padanya.

BACA :  Samudera Hikmah di Balik Tragedi Perang

Satu jam setengah sudah terlewati dan bel sekolah terakhirpun berbunyi kencang mengisyaratkan seluruh pelajaran di hari ini selesai waktunya para siswa pulang.
Doni yang dari tadi pelajaran terakhir memikirkan cewe yang menggunakan bando merah, gelang merah, dan sepatu merah itu, segera bergegas keluar kelas sembari mengajak andi yang sedang memasukan bukunya kedalam tas.

“Ayo, An! Cepet kita ketemu dia.” Ajak Doni yang tak sabar.
“Iya, bentar !“ Jawab Andi.

Andi pun sudah selesai memasukan buku dan peralatan sekolah lainnya ke dalam tas, mereka pun mulai melangkah untuk bertemu dengan Nabila Perdani seorang cewe yang Doni pikirkan sejak tadi.
Secara tidak sadar dan karena saking senengnya Doni meninggalkan Andi dibelakangnya. Andi pun berteriak kepada Doni.

“Don, Tungguin aku dong!  Jangan cepet-cepet jalannya.” Andi teriak kepada Doni.
“Oh ! Maaf An, aku jalannya kecepetan jadi gak sadar deh aku ninggalin kamu.“ Doni meminta maaf padanya.
“Iya sih, Iya! Yang mau kenalan sama cewe sampe temennya gak dipikirin.“ Andi meledeknya
“Hahaha ! Gak kok biasa aja.“ Doni menjawabnya dengan tertawa.
“Tenang aja, aku sebagai teman yang baik pasti dukung kamu kok sama dia, asalakan traktirannya aja yah, hehehe.” Tawa Andi.

Tak perlu lama mereka sudah sampai di depan kelas dimana gadis yang menggunakan bando merah, gelang merah, dan sepatu berwarna merah itu belajar, ternyata sesampainya di depankelasnya sepi melompong tak ada siapa-siapa, hanya bangku kosong dan tulisan di whiteboard bekas pelajaran tadi, menandakan semua sudah pulang.
Doni pun merasa kecewa karena cewe itu sudah pulang duluan tak ada di kelasnya, bisa diibaratkan tubuhnya lumpuh sementara karena rasa kecewanya dia tak bisa ketemu dangan cewe itu.

“Sabar, ya? Don ! “ Andi coba menenangkan hati Doni yang kecewa.
“Iya, An aku gpp kok.” Jawab Doni dengan lemasnya.
Tiba-tiba Andi berkata “Don..,! Mungkin dia tak lama meninggalkan kelas ini bagaiman kalo kita cari siapa tau dia belom pulang.”
“Iya,juga yah !” Jawab Doni dengan nada semangatnya.
“yaudah, ayo! Don. Tunggu apa lagi.” Andi mengajaknya.
“Oke, ayo !” Sahut Doni.

BACA :  Dik’ dan “Oase Kepalsuan” Penipu Laki-laki Bernama Siti Rakhmi

Mereka pun mencarinya keseluruh penjuru sekolahan, baik itu kantin, perpustakaan dan ruangan-ruangan lainnya, sudah mereka cari. Namun, tidak menemukannya usaha mereka nihil. Namun tiba-tiba andi menunjuk kearah seorang cewe yang berdiri di depan pintu gerbang sekolah seolah-olah menunggu yang menjemputnya.

“Don ! Bukannya cewe itu Nabila yah !” Andi memberitahunya sembari menunjuk ke cewe itu.
“Mana An ? Oh iya ! Itu memang dia, An.” Doni membenarkan pertanyaannya.
“Yaudah, ayo kita kesana Don !Deketin dia.” Ajak Andi padanya.
“Ayo !” jawabnya semangat.

Mereka pun perlahan berjalan mendekati cewe itu dan kurang lebih lima belas langkah mereka sudah dekat denganny. Doni merasakan getaran hebat dalam dirinya bagai tersambar petir di siang bolong tubuhnya bergetar dan keringatnya mengalir deras dikepalanya.

“Hai !” Doni memanggilnya dengan rasa gugup.
“Iya!” Cewe itu menoleh kepadanya.
“Kamu Nabila Perdani,bukan ?” Doni sembari menyodorkan tangannya berniat untuk bersalaman.
“Iya! Aku Nabila Perdani.” Jawabnya sambil bersalaman dengannya.
“Aku Doni Prasetya kelas IPA XII 2.” Doni dengan rasa canggungnya.
“Iya! Ada apa yah ? Kak !” Jawab cewe itu.
Tak lama mereka ngobrol tiba-tiba datang seorang laki-laki menggunakan motor ala pembalap Moto GP, laki-laki itu berhenti tepat di pinggir mereka dan membuka kaca helmnya. Doni pun merasa kenal dengan wajah itu dan motor yang dibawa oleh laki-laki itu.
“Na ! Ayo kita pulang ?” Ajak laki-laki itu kepada Nabila.
“Iya ! Yang.” Sahut Nabila.
“Aku pulang dulu ya !Don.” Nabila pamit pada Doni.
“Iya, hati-hati, ya !” Jawabnya bernada lemas.

Tak lama cewe itu dan laki-laki itu meninggalkan mereka berdua, perasaan Doni pun hancur terasa di tabrak olah metro mini jurusan ke arah rumahnya. Seakan dia harus dilarikan ke UGD rumah sakit terdekat. Lemas tak berdaya dia menyaksikan cewe yang mengunakan bando merah, gelang merah, dan sepatu merah itu diajak oleh laki-laki lain, dan yang lebih parah ternyata Doni baru sadar kalau laki-laki tadi itu adalah Dimas yang pernah mengalahkannya dalam balapan motor liar beberapa hari yang lalu.

“Sabar, ya.? Don !” Andi merangkul pundak Doni sahabatnya.
“Iya. Makasih, ya An.” Dijawabnya dengan lemas tak berdaya.

Penulis adalah : Mohamad Soleh (Mosi), Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara di STIA Banten FB: ibra mosi – mosi



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler