Connect with us

OPINI

Hedonisme Lumpuhkan Karakter Mahasiswa

Published

on

Banten Hits.com – Mahasiswa!!! Kehidupan arus globalisasi dan moderanisasi yang kian tidak terbendung, semakin menandakan keterpurukan intelektual mahasiswa dewasa ini. Ekonomi Kapitalis, dan Konsumerisme tingkat tinggi justru telah menenggelamkan ide-ide segar kaum muda terhadap perubahan bangsa.

Seperti seolah tidak peduli, lambat laun negara ini bak perahu yang bocor di dasarnya, karena tidak ada agent of change yang selalu siap mengawal kemana negeri ini akan dilayarkan.

Sejatinya, semangat perjuangan mahasiswa yang “maha” sebagai “siswa” dan kecerdasan intelektual adalah panji-panji penopang yang tidak bisa kita pungkiri kekuatannya untuk mengontrol segala macam kekeliruan yang semakin lama semakin menggurita di bumi pertiwi.

Adalah Hedonisme sebagai tonggak awal matinya kritisisasi mahasiswa. Menjamurnya pusat perbelanjaan justru membuat kaum muda terlena, belum lagi suguhan fashion serta gadget terbaru, tontonan infotaiment, belum lagi acara hura-hura yang dibungkus dengan alasan menghibur justru saat ini tidak memiliki nilai edukasi. Caffe dan club lebih dianggap sebagai tempat tongkrongan yang lebih asik, produk-produk serba instan yang selalu siap juga menginstankan mahasiswa, termasuk dalam mencetak “sarjana instan” dengan sistem copy-pastenya di hampir seluruh Perguruan Tinggi, baik negeri maupun swasta adalah salah satu dampak bahwa Hedonisme telah menjalar dalam setiap nalar kritis mahasiswa.

BACA :  Pemilu Usai, Saatnya Konsolidasi

Dunia kampus yang dianggap sebagai wadah dalam mencetak dan mencerdaskan generasi bangsa, saat ini justru tidak ubahnya seperti tempat arisan yang hanya diwarnai pepesan kosong atau sekedar membahas kehidupan yang Borjuis. Sudut-sudut kampus biru tidak lagi dipenuhi oleh mereka yang asik berdiskusi ilmiah atau permasalahan urgen bangsa dan meningkatkan kepekaan sosialnya. Hanya sedikit mahasiswa yang masih haus akan ilmu dan memiliki jiwa kritis terhadap ketidakadilan yang ada di negeri ini.

Mahasiswa pun tak mampu lagi berdiri pada garda terdepan untuk menyatakan sikap penolakannya, karena tak jarang idealismenya yang telah terbeli oleh manisnya kehidupan Hedonisme.

Namun dibalik itu, ada kondisi yang jauh lebih memprihatinkan, dimana kampus saat ini telah beralih fungsi sebagai kapitalis pendidikan. Bahkan, hal ini telah merambah pada universitas negeri yang notabennya harus mampu merangkul kaum marginal dalam mengenyam pendidikan sesuai dengan amanat UUD 1945. Karena sejatinya, pendidikan yang layak dan berkualitas bukan hanya milik segelintir orang-orang yang hanya memiliki kemampuan financial besar.

BACA :  Pasca Pesta Demokrasi, Mana yang Lebih Penting

Mahasiswa, yang seharusnya haus akan ilmu pengetahuan dan memiliki karakter yang kuat, dan penuh dengan idealisme, serta tetap berdiri dan menyatakan keberpihakannya kepada keadilan, nampaknya tidak lagi mampu menunjukan semangatnya, tidak lagi mampu menunjukkan dirinya sebagai agent of social control, dan hanya segelintir saja yang masih bertahan sebagai sejatinya mahasiswa yang masih memegang teguh bahwa mahasiswa juga memiliki tanggung jawab secara moral terhadap maju dan mundurnya bangsa ini kedepan. Ironisnya, yang bertahan semakin tersingkir karena dianggap asing dan pemberontak.

Mari kita tengok mana saja proposal kegiatan yang mampu menembus batas meja birokrasi. Konsep kegiatan yang memang memiliki kecerdasan pola pikir untuk menghasilkan suatu yang berkualitas, justru lebih sering dikesampingkan, ketimbang dengan kegiatan yang penuh dengan hura-hura dan euforia. Ini adalah bukti konkrit, Hedonisme sangat kuat pengaruhnya dikalangan mahasiswa saat ini.

BACA :  Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat: Tinjauan Ekonomi Demokrasi dan Pemilihan Presiden Langsung

Lalu apakah kondisi sepeti ini akan selamanya terjadi? Terpenjara dalam labirin kehidupan hedonis yang takkan pernah putus dan diperbudak oleh kapitalis dengan menjunjung tinggi nilai-nilai konsumerisme, atau segera mengambil sikap untuk kehidupan yang lebih baik sebagai penerus bangsa.

Implementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi!!!
-Pendidikan
-Penelitian
-Pengabdian Kepada Masyarakat

“Hilangkan Steriliteit Dalam Gerakan Mahasiswa!”. (Kutipan Pidato Ir. Soekarno di Kongres GMNI tahun 1959, Kaliurang, Jogjakarta).

 

Penulis adalah: Dewi Indah Rosani, Mahasiswi Semester IV Program Studi Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Latansa Mashiro, Rangkasbitung. Penulis juga merupakan Komite Sarinah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Latansa Mashiro, Lebak.



Terpopuler