Connect with us

BABAD BANTEN

Peristiwa “Pailir”; Perang Saudara dan Akhir Perlawanan Ponggawa

Published

on

Meski Pangeran Chamarra berasal dari kelompok pangeran, namun kelompok pangeran menyadari jika hal tersebut merupakan kemenangan semu buat mereka. Selain tidak mampu menunjukan wibawa terhadap orang asing, Pangeran Chamarra juga tak mampu menundukan kelompok ponggawa.

Berangkat dari kondisi tersebut, kelompok pangeran kemudian memutuskan untuk melakukan sebuah perlawanan. Untuk mencapai tujuan mereka itu, mereka memilih untuk menggoyahkan kegiatan perdagangan dengan tak henti-hentinya membakar kota. Target pembakaran ini ditentukan secara teliti yakni, kawasan perdagangan internasional besar: Pacinan, tempat berdiam orang Eropa dan syahbandar.(BACA JUGA: Pemberontakan Pangeran Mandalika)

Dalam rubrik Babad Banten kali ini, redaksi Banten Hits akan menceritakan peristiwa perang saudara di Banten yang dikenal dengan sebutan “Pailir”, yang secara harfiah berarti “peristiwa pelabuhan”, atau “pemberontakan di pelabuhan”. Seluruh tulisan bersumber dari Buku Banten; Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, karya Claude Guillot.

BACA :  Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (1)

Peritiwa perang saudara “Pailir” meletus setelah Pangeran Chamarra dibunuh. Pembunuhan dilakukan oleh kelompok ponggawa yang berkeinginan untuk mendudukan wali raja yang setia kepada mereka. Kelompok ponggawa memilih Pangeran Kulon yang memihak mereka lalu melakukan penyergapan terhadap Pangeran Chamarra pada tanggal 23 Oktober 1608.

Dalam penyergapan tersebut Pangeran Chamarra dan juru tulisnya tewas terbunuh. Dalam “Sajarah Banten” (Pupuh XXVI) dan John Saris (Purchas, Hit Pilgrimes, I, hlm.338) dituliskan, peristiwa pembunuhan terhadap wali raja terjadi pada pagi-pagi. Pembunuhan dilakukan oleh kelompok ponggawa, syahbandar, laksmana, Kyai Dipati Yudanegara, dll..

Wali raja yang terluka di bagian kepala akibat penyergapan itu, sempat berhasil melarikan diri dan meminta perlindungan kepada Kyai Fekih yang meminta kepada kelompok penyerang supaya nyawa wali raja diselamatkan. Namun sikap para penyerang tak bergeming. Mereka kemudian membunuh wali raja Pangeran Chamarra.

BACA :  Letusan Krakatau dan Kelompok Fundamentalis dalam Revolusi Banten (2)

Pembunuhan yang dilakukan kelompok ponggawa ini, ternyata didalangi sepenuhnya oleh kelompok pangeran, khususnya pimpinan mereka yang baru, Pangeran Ranamanggala. Pangeran ini merupakan saudara laki-laki Maulana Muhamad, yang kemudian menduduki jabatan wali raja pada hari itu juga.

Para ponggawa sadar bahwa mereka telah dimanipulasi dan mereka akan lebih banyak dirugikan oleh wali raja yang baru daripada wali raja yang lama. Inilah yang kemudian melatarbelakangi terjadinya perang saudara “Pailir”. Perang saudara ini berlangsung lebih kurang selama empat bulan.

Para ponggawa, tumenggung, syahbandar, seorang Keling lainnya yang dipanggil Andamohi Keling, dan beberapa orang lagi membuat benteng pertahanan di sekeliling pelabuhan ke mana mereka mengundurkan diri bersama Pangeran Kulon yang telah mereka pilih sebagai calon mereka untuk kewalirajaan.

BACA :  Kota “Benteng” Tangerang dalam Lipatan Sejarah (1)

bertekad agar kemenangan tak lepas dari tangan, mereka tak ragu-ragu membunuh salah seorang pengikut mereka bersama keluarganya, yakni mantan syahbandar Kiayi Wijayamanggala yang saat itu berusaha melarikan diri dengan perahu bersama keluarganya.

Di dalam kota berbenteng, para pangeran membentuk barak lain dengan dikepalai oleh Pangeran Ranamanggala dan Pangeran Gabang, juga saudara laki-laki almarhum raja lainnya.

Peristiwa berdarah diceritakan berlangsung tak seimbang karena para pangeran memiliki kebiasaan berperang dibanding dengan kelompok ponggawa. Meski pimpinan kelompok ponggawa, Pangeran Kulon berhasil merebut meriam sakti “Ki Jejaka Tua”, namun kelompok ponggawa akhirnya harus mengakui keunggulan kelompok pangeran. Dua pimpinan “tentara” kelompok ponggawa terbunuh dalam peristiwa tersebut.

Akhirnya, akibat kekalahan itu, kelompok ponggawa harus mau berunding dan menyerah dengan cara terhormat….  

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler